21 Juni 2026

Semangat Nyawiji Satukan Warga dalam Merdi Dusun Sruni 2026 di Wonosobo

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Festival Budaya Merdi Dusun Sruni 2026 sukses diselenggarakan selama tiga hari, mulai 15 hingga 17 Juni 2026, di Dusun Sruni, Kelurahan Jaraksari, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Kegiatan yang digelar setiap empat tahun sekali tersebut mengusung semangat “Nyawiji”, yang bermakna bersatu dalam kebersamaan, budaya, dan gotong royong.

Merdi Dusun Sruni menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk merawat tradisi, memperkuat identitas budaya, sekaligus mengembangkan potensi sumber daya manusia yang dimiliki. Melalui berbagai kegiatan budaya yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, festival ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Rangkaian kegiatan diawali dengan tradisi Nyadran dan makan Bubur Suran bersama sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta ungkapan rasa syukur masyarakat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Gebyak Srawung Seni Lintas Dusun se-Kelurahan Jaraksari yang menjadi ruang temu para pelaku seni untuk saling berbagi karya dan pengalaman.

Beragam pertunjukan dan kegiatan budaya turut memeriahkan festival, di antaranya Pentas Kesenian Topeng Lengger Ngesti Mudo Utomo, Residensi Larung Sukerto, Diskusi dan Bedah Karya Residensi, Pasrah Sesaji, Macapat Ibu-Ibu PKK, hingga Opera Babad Sruni yang menjadi salah satu sajian utama pada penyelenggaraan tahun ini.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan Bedhol Pusaka, Doa Lintas Agama, serta Jagong Budaya yang menghadirkan ruang dialog dan pertukaran gagasan antara masyarakat dan para seniman. Puncak kegiatan budaya ditandai dengan Prosesi Ritual Larung Sukerto yang dimaknai sebagai simbol pelepasan berbagai hal buruk sekaligus doa untuk keselamatan dan keberkahan masyarakat Dusun Sruni.

Ketua Panitia Merdi Dusun Sruni 2026, Miftah Alip Pambudi, mengatakan bahwa tema “Nyawiji” dipilih sebagai semangat bersama untuk memperkuat persatuan masyarakat melalui budaya.

“Merdi Dusun bukan hanya perayaan budaya yang diselenggarakan empat tahun sekali, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk memperkuat kebersamaan, gotong royong, dan mengembangkan potensi masyarakat. Semangat ‘Nyawiji’ kami harapkan terus hidup dan menjadi energi kolektif warga Dusun Sruni untuk berkarya dan berkolaborasi,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat terhadap penyelenggaraan Merdi Dusun Sruni 2026 terbilang sangat tinggi. Selain karena kegiatan ini hanya digelar setiap empat tahun sekali, tahun ini juga hadir berbagai program baru yang dirancang untuk memperkuat potensi dusun sekaligus memperluas partisipasi masyarakat.

Berbagai agenda yang disajikan mendapat apresiasi positif dari masyarakat. Hal tersebut tidak terlepas dari konsep acara yang dirancang dengan mempertimbangkan berbagai lapisan dan kelompok masyarakat sehingga setiap kegiatan memiliki segmen penikmatnya masing-masing dan mampu menghadirkan pengalaman budaya yang inklusif.

Pada hari ketiga, rangkaian kegiatan diawali dengan Pagelaran Wayang Kulit Ruwat Bumi sebagai wujud rasa syukur kepada bumi pertiwi atas segala anugerah yang diberikan kepada masyarakat Sruni. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan budaya.

Malam harinya, festival ditutup dengan Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk yang menghadirkan dua dalang muda dengan dua gaya pedalangan berbeda, yakni gaya Surakarta dan Yogyakarta. Lakon “Babad Alas Wanamarta” dibawakan oleh Ki Galih Wahyu Sejati, S.Sn. mewakili gaya Surakarta dan Ki Fikri Firmansyah mewakili gaya Yogyakarta.

Kolaborasi dua gaya pedalangan tersebut menjadi daya tarik tersendiri sekaligus menunjukkan kekayaan tradisi wayang yang masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat Jawa.

Keberhasilan penyelenggaraan Merdi Dusun Sruni 2026 juga menjadi pijakan untuk pengembangan program budaya di masa mendatang. Salah satu agenda yang tengah dipersiapkan ialah Opera Babad Sruni #2 yang akan melanjutkan kisah dari episode sebelumnya melalui kolaborasi musik yang lebih luas dengan memadukan keroncong dan orkestra.

Miftah Alip Pambudi menambahkan bahwa pengembangan program budaya tersebut merupakan upaya untuk mengoptimalkan potensi sumber daya manusia yang dimiliki masyarakat.

“Kami ingin budaya tidak berhenti pada sebuah pertunjukan, tetapi menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. Ke depan, kami berharap Dusun Sruni mampu terus melahirkan karya-karya budaya yang berkualitas dan mencetak sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, serta tetap menjaga nilai-nilai luhur warisan leluhur,” katanya.

Masyarakat berharap semangat “Nyawiji” yang menjadi tema utama festival tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Semangat tersebut diharapkan mampu menjadi energi kolektif yang terus menggerakkan masyarakat untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam berbagai bidang demi menjaga keberlanjutan budaya serta pembangunan masyarakat Dusun Sruni. (Aris)