21 Mei 2026

Bertahan di Era Modernisasi, Ratusan Pandai Besi di Kertek Wonosobo Jaga Tradisi Leluhur

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Sebanyak 125 industri rumahan pandai besi di Dusun Dalangan, Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, hingga kini masih bertahan menjaga tradisi pembuatan alat pertanian secara turun-temurun di tengah modernisasi dan menurunnya minat generasi muda terhadap profesi tersebut.

Para pengrajin di dusun itu memproduksi berbagai alat pertanian seperti sabit, cangkul, hingga peralatan lainnya dengan cara tradisional menggunakan tungku berbahan bakar arang. Keberadaan sentra pandai besi tersebut bahkan telah ada sejak sekitar tahun 1850-an dan menjadi salah satu mata pencaharian utama warga.

Kepala Desa Purwojati, Nuruddin Ma’ruf, Selasa (19/05/2026), mengatakan profesi pandai besi sudah menjadi identitas masyarakat Dusun Dalangan sejak desa berdiri. Dari sekitar 4.500 jiwa atau 1.412 kepala keluarga, sekitar 30 persen warga bekerja sebagai pengrajin besi.

“Sejak berdirinya desa kami, masyarakat Dusun Dalangan sudah berkecimpung di kegiatan pandai besi. Ini dilakukan turun-temurun sampai hari ini,” kata Nuruddin.

Ia menjelaskan, aktivitas produksi biasanya dimulai pukul 06.00 hingga 11.00 WIB dengan memanfaatkan arang sebagai bahan bakar utama.

“Selama ini para pengrajin masih bergantung pada arang sebagai bahan bakar utama karena dinilai menghasilkan panas terbaik untuk melebur besi dan baja,” ujarnya.

Menurutnya, penggunaan batu bara sempat dicoba, namun hasilnya belum maksimal. Karena itu, para pengrajin berharap ada inovasi teknologi pembakaran menggunakan gas atau listrik dengan biaya operasional yang tetap terjangkau.

Nuruddin menambahkan, produk pandai besi asal Dalangan memiliki kualitas khas karena dibuat dengan teknik memadukan besi dan baja agar menghasilkan alat yang lebih tajam dan tahan lama.

“Besi itu sifatnya lunak, baja sifatnya keras. Dua elemen itu dilebur jadi satu supaya hasilnya lebih tajam dan tahan lama,” pungkasnya.

Ketua Kelompok Pengrajin Pandai Besi Dusun Dalangan, Damianto, mengatakan para pengrajin kini menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kenaikan harga bahan baku dan minimnya regenerasi tenaga kerja.

Menurutnya, harga arang yang terus meningkat menjadi salah satu persoalan utama dalam produksi. Meski demikian, para pengrajin tetap berusaha bertahan demi menjaga mata pencaharian keluarga.

“Kalau harga dinaikkan terus pasar tidak mau menerima, itu juga jadi kesulitan bagi kami. Jadi sebisa mungkin kami bertahan,” ujarnya.

Selain itu, minat generasi muda terhadap profesi pandai besi juga mulai berkurang. Permintaan pasar terhadap alat pertanian tradisional pun perlahan menurun.

“Sekarang anak muda lebih memilih pekerjaan lain. Padahal ini warisan leluhur dan menjadi sumber penghidupan warga,” katanya.

Meski masih mempertahankan cara tradisional, sebagian pengrajin mulai memanfaatkan teknologi sederhana seperti blower dan mesin tempa untuk membantu proses produksi.

Perubahan juga terlihat pada pola pemasaran. Jika sebelumnya hanya dijual melalui pasar tradisional dan tengkulak, kini produk pandai besi Dalangan mulai dipasarkan secara online.

“Beberapa pengrajin sudah memanfaatkan media sosial untuk pemasaran, bahkan ada yang sambil live TikTok untuk menawarkan produk,” kata Damianto.

Pemasaran online dinilai membantu memperluas jangkauan penjualan hingga luar provinsi dan luar pulau.

Pemerintah desa berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah maupun pusat, terutama terkait dukungan teknologi produksi yang lebih efisien agar sentra pandai besi tradisional tersebut tetap bertahan di tengah perkembangan zaman. (Diskominfo Wonosobo/Aris)