27 April 2026

Ahmad Yani: Parpol Belum Mandiri Finansial Orang Miskin Jangan Mimpi Buat Partai

KoranRakyat.co.id—- Ketua Umum Partai Masyumi, Ahmad Yani SH.MH mengingatkan bahwa orang miskin jangan berharap dan bermimpi bisa membuat Partai baru. Pasalnya kondisi partai politik (parpol) di Indonesia belum mandiri, khususnya dalam hal pendanaan.

Ketua Umum Partai Masyumi, Ahmad Yani seperti dilansir Inilah.com, menilai bahwa kondisi partai politik (parpol) di Indonesia belum mandiri, khususnya dalam hal pendanaan. Ia menegaskan bahwa persoalan utama demokrasi di Indonesia justru berakar dari lemahnya kemandirian parpol.

“Sumber masalahnya ada di partai politik, beresin dulu partai politiknya. 60 persen dosanya dosa parpol,” kata Ahmad Yani dalam Podcast Jurnalistik Inilah.com bertema Inilah80: Merdeka Dulu, Mandiri Kemudian, dikutip Senin (18/8/2025)

Menurutnya, biaya politik di Indonesia terlalu tinggi dan cenderung tidak rasional. Akibatnya, mendirikan parpol lebih menitikberatkan pada syarat administrasi serta modal besar, bukan pada gagasan maupun ideologi.

“Karena biaya politik kita terlalu tinggi di Indonesia ini, aneh-aneh. Mendirikan sebuah partai politik di Indonesia lebih mentitikberatkan pada persoalan administrasi dan modal,” ujarnya.

Ahmad Yani menilai kondisi tersebut membuat kelompok masyarakat miskin hampir mustahil mendirikan parpol yang berangkat dari ide atau cita-cita perjuangan.

“Orang miskin, sekelompok orang miskin jangan mimpi memperjuangkan ide, cita-cita, dan gagasannya untuk mendirikan partai, begitu berat,” ucapnya.

Ia mencontohkan, syarat pembentukan parpol di Indonesia terlampau rumit, seperti persyaratan 38 provinsi dengan berbagai ketentuan administratif lainnya. Berbeda dengan di luar negeri, parpol bisa lahir dari kesepakatan ide dan gagasan, bukan dari kumpulan modal.

“Syaratnya harus di 38 provinsi, syaratnya ini ada begitu banyak. Nah, di luar negeri nggak ada. Orang berkumpul, bersepakat, jadi partai politik. Kita ada kumpulan modal-modal, bukan kumpulan ide dan gagasan,” ujarnya.

Menurutnya, idealnya partai politik menjadi pusat gagasan dan ide, bukan pusat uang. Namun, ia mengakui sangat susah mendirikan parpol tanpa uang yang besar.

“Kalau pusat kumpulan uang adanya di perusahaan. Oleh karena itu, agak susah memang dalam mendirikan tanpa uang yang cukup besar, seperti itu, berat,” katanya.

Lebih jauh, ia juga menilai kebanyakan pihak-pihak cenderung bersikap munafik terhadap parpol. Di satu sisi menginginkan parpol yang ideal, tetapi di sisi lain membiarkan parpol hidup tanpa sokongan negara.

“Tapi kita adalah menjadi masyarakat yang munafik juga. Di satu sisi kita ingin mendirikan partai politik yang ideal, yang memperjuangkan, banyaklah fungsi-fungsi partai. Tapi di sisi lain kita biarkan partai itu menjadi anak yatim piatu. Harusnya dibebankan kepada negara,” ucapnya.

Menurutnya, parpol seharusnya mendapatkan dukungan penuh dari negara karena memiliki kedudukan konstitusional yang istimewa, yakni satu-satunya instrumen untuk melahirkan pimpinan eksekutif.

“Partai itu kan secara konstitusi ada diberikan hak privilege, satu-satunya instrumen di negara Republik Indonesia ini untuk menjadi pimpinan eksekutif presiden. Tidak ada jalur lain kecuali jalurnya adalah partai politik,” katanya.(*)