Peter F. Gontha : Kondisi Terminal 3 Soetta: Potret Buram Wajah Indonesia di Mata Dunia

KoranRakyat.co.id — Pengamat sekaligus pengusaha senior Peter F. Gontha menilai kondisi terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta menunjukkan wajah Indonesia yang semrawut, elitis, dan memalukan.
Mengutip Rubrik Depok, idealnya Bandara internasional kerap dianggap sebagai wajah pertama suatu negara. Melalui bandara, wisatawan, tamu asing, dan investor menilai kualitas tata kelola dan budaya masyarakat setempat.
Dalam pernyataannya pada akhir Juni 2025, Gontha mengungkapkan kekecewaannya setelah mendarat di Terminal 3. Ia menilai bahwa bandara yang seharusnya menjadi simbol kemajuan Indonesia malah menghadirkan suasana tidak tertib, mirip pasar malam yang tidak terurus. “Bandara adalah wajah negara. Ia memberi pesan: ‘Inilah kami’. Apakah kami tertib, modern, atau semrawut dan masa bodoh?” ujarnya lantang.
Kekacauan di Zona Kedatangan, Bandara Disebut Milik Pribadi
Menurut Gontha, kekacauan mulai terasa sejak keluar dari pesawat. Banyak orang bebas berkeliaran di zona terbatas, termasuk ajudan, pengawal pribadi, bahkan asisten dari pejabat dan pengusaha. “Mereka bertindak seolah bandara adalah milik pribadi mereka,” tuturnya. Ia juga mencatat kehadiran ratusan penumpang umrah yang berkerumun tanpa pengaturan jelas di area kedatangan umum, menciptakan suasana yang penuh sesak dan tidak nyaman.
“Negara-negara seperti Arab Saudi dan UEA menerima jamaah dalam jumlah besar setiap hari. Tapi tidak pernah ada kekacauan seperti ini. Mereka tertib, profesional,” tegasnya.
Ia mencontohkan pengalaman pribadinya saat terbang bersama anggota DPR. Setibanya di bandara, sang anggota dewan langsung dijemput oleh lima petugas, termasuk bea cukai dan staf keamanan bandara. “Ia dikawal seperti raja, membuat arus penumpang lain terganggu. Ini bukti nyata budaya istimewa yang merusak sistem,” ungkap Gontha.
Sistem Bea Cukai dan Layanan Dinilai Membingungkan
Gontha juga mengkritik keras proses di area pengambilan bagasi dan bea cukai. Ia menyoroti keterbatasan fasilitas seperti troli dan petugas yang tidak memadai saat beberapa penerbangan internasional mendarat bersamaan. Namun yang paling disoroti adalah sistem bea cukai yang dinilai membingungkan, terutama bagi turis asing.
“Semua penumpang wajib mengisi formulir elektronik tanpa penjelasan, papan petunjuk pun minim. Petugas tidak ada yang bisa berbahasa Inggris dengan baik,” keluhnya. Gontha mengutip keluhan keluarga asal Eropa yang merasa disuruh ke sana kemari tanpa tahu apa yang harus dilakukan. “Sistem ini justru menciptakan kesan bahwa orang asing tidak diinginkan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti insiden diskriminasi di antrean lift, ketika seorang pria berseragam polisi mengawal anak seorang pengusaha dan memotong antrean tanpa rasa bersalah. “Saya spontan berteriak, ‘Memalukan!’ Itu bukan kemarahan pribadi, tapi reaksi terhadap budaya elitis yang melekat,” tegasnya. (*)
