6 November 2026

Gendu dan Pemuda Gatotkoco, Merawat Hutan Siroto di Sigedang Lewat Penanaman Kopi

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Kawasan Hutan Siroto di Perbukitan Stlerep, Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan. Sebagian kawasan hutan mulai terdesak oleh aktivitas pertanian sayur dan kentang yang terus berkembang. Kondisi tersebut mendorong Heriyanto, warga setempat yang akrab disapa Gendu, untuk melakukan upaya pelestarian hutan bersama sejumlah pemuda desa.

Perhatian Gendu terhadap lingkungan sebenarnya sudah tumbuh sejak lama. Sejak 2012, ia mulai sering menjelajahi kawasan Hutan Sigedang. Dari kegiatan tersebut, ia melihat perubahan kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Lahan pertanian yang semakin meluas membuatnya khawatir terhadap keberadaan hutan dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat.

Perjalanan Gendu dalam kegiatan konservasi mulai lebih serius pada 2019. Saat itu, ia mendirikan basecamp jalur pendakian sekaligus mulai memusatkan kegiatannya pada upaya menjaga kawasan hutan. Baginya, persoalan lingkungan di Sigedang tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan masyarakat dalam mengolah lahan pertanian.

Selama ini, sebagian besar warga menggantungkan penghasilan dari tanaman sayur, obat-obatan, dan komoditas hortikultura lainnya. Lahan pertanian kerap ditanami berulang kali tanpa jeda yang cukup. Penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia pun menjadi bagian dari aktivitas pertanian sehari-hari.

“Lahan terus digarap. Terkadang dalam satu tahun bisa sampai tiga kali masa tanam. Setelah panen, lahan kembali diolah sehingga tanah tidak memiliki waktu untuk beristirahat,” ujar Gendu, menggambarkan kondisi lahan pertanian di desanya saat ditemui pada Rabu (4/11/2026).

Kekhawatiran Gendu bukan tanpa alasan. Hutan Siroto memiliki peran penting bagi ketersediaan air bersih masyarakat Desa Sigedang. Sekitar 80 persen kebutuhan air warga bergantung pada kawasan resapan hutan tersebut, termasuk sumber mata air Suren dan Maling.

Jika kawasan hutan terus berkurang, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga masyarakat yang selama ini bergantung pada sumber air tersebut.

Menanam Kopi sebagai Upaya Menjaga Hutan

Gendu menyadari bahwa menjaga hutan tidak cukup hanya dengan mengajak masyarakat berhenti membuka lahan. Perlu ada pendekatan yang tetap mempertimbangkan kebutuhan ekonomi warga. Dari pemikiran tersebut, ia kemudian memilih penanaman kopi Arabika sebagai salah satu cara menjaga kawasan Hutan Siroto.

Dalam dua tahun terakhir, penanaman kopi dilakukan secara bertahap. Hingga kini, luas lahan yang telah ditanami mencapai sekitar dua hektare dengan jumlah bibit mendekati 1.000 batang.

Selain memiliki nilai ekonomi, kopi dipilih karena merupakan tanaman keras yang dapat tumbuh di kawasan tersebut. Keberadaannya diharapkan membantu menjaga kondisi tanah, mengurangi risiko erosi, sekaligus menjadi alternatif sumber penghasilan dalam jangka panjang.

“Tujuan awal penanaman kopi ini agar masyarakat tidak terlalu berfokus membuka dan mengembangkan lahan baru di kawasan hutan. Kami ingin mengarahkan perhatian pada kawasan hutan yang selama ini menjadi tempat berkegiatan teman-teman,” jelasnya.

Melalui penanaman kopi, Gendu berharap perhatian masyarakat terhadap kawasan hutan tetap terjaga. Upaya ini sekaligus menjadi cara untuk membatasi pembukaan lahan baru yang berpotensi mengganggu ekosistem.

Bergerak Bersama Pemuda Gatotkoco

Dalam menjalankan kegiatan konservasi, Gendu tidak bergerak sendirian. Ia bersama komunitas pemuda setempat yang tergabung dalam Gatotkoco melakukan berbagai kegiatan perawatan hutan secara swadaya.

Mulai dari penyemaian bibit kopi, penanaman, hingga perawatan tanaman dilakukan secara mandiri. Sejauh ini, kegiatan tersebut belum mendapat dukungan pendanaan khusus dari pemerintah. Seluruh proses berjalan berkat keterlibatan dan kepedulian para anggota komunitas.

Nama Gatotkoco dipilih sebagai gambaran semangat para pemuda dalam menghadapi berbagai tantangan selama menjalankan kegiatan di lapangan. Mereka juga memiliki kegiatan rutin bertajuk “Ke Wono”, yakni aktivitas bersama untuk mengunjungi hutan dan ladang sekaligus merawat tanaman yang telah ditanam.

Kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan kalangan pemuda. Seiring berjalannya waktu, sejumlah warga yang lebih senior juga mulai ikut terlibat. Gendu berharap kesadaran menjaga lingkungan dapat tumbuh di tengah masyarakat dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Baginya, kegiatan yang dilakukan secara swadaya memberikan ruang bagi komunitas untuk bergerak lebih leluasa. Mereka bisa menjalankan kegiatan sesuai kebutuhan di lapangan tanpa harus terbebani target atau urusan birokrasi.

Hutan Bukan Sekadar Objek Wisata

Meski kawasan Hutan Siroto memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai tempat kunjungan, Gendu tidak ingin kawasan tersebut diarahkan menjadi objek wisata komersial berskala besar.

Menurutnya, fungsi utama hutan tetap harus dijaga. Keberadaan pepohonan, satwa liar, sumber air, dan aktivitas masyarakat perlu berjalan seimbang. Karena itu, rencana pengembangan kawasan di sekitar kebun kopi hanya diarahkan sebagai tempat berkumpul sederhana tanpa bangunan permanen.

Tempat tersebut nantinya bisa dimanfaatkan untuk beristirahat, menikmati suasana hutan, sekaligus mengenal kopi yang ditanam dan dirawat bersama.

“Kami lebih mengutamakan kegiatan konservasi dan menjaga keseimbangan ekosistem hutan,” kata Gendu.

Bagi Gendu dan Pemuda Gatotkoco, menjaga Hutan Siroto merupakan pekerjaan yang membutuhkan waktu dan keterlibatan banyak orang. Penanaman kopi menjadi salah satu langkah yang mereka pilih agar upaya konservasi bisa berjalan beriringan dengan kebutuhan masyarakat.

Dari kegiatan sederhana yang dilakukan secara mandiri, mereka berharap Hutan Siroto tetap terjaga dan sumber kehidupan masyarakat Sigedang tidak hilang akibat perubahan fungsi lahan. (Aris)