17 Oktober 2026

Kabut   Asap , Gas Co dan Ancaman Tak Terlihat  Bagi Kesehata

Oleh: Sudarta

Pemerhati Masalah Sosial, Ekonomi dan Kemasyarakatan

 KoranRakyat.co.id —-Kabut asap bukan lagi sekadar masalah pandangan yang kabur atau mata yang pedih.  Saat ini, ada ancaman yang lebih serius, tak berwarna, tak berbau, namun diam-diam mengepung kita: karbon monoksida (Co).

Berdasarkan data satelit NASA, konsentrasi gas karbon monoksida kini menyelimuti hampir seluruh wilayah Indonesia.

Sumber utamanya jelas: kebakaran hutan, lahan dan gambut, disamping polusi lainnya.

Seperti dijelaskan peneliti BRIN, kebakaran gambut menghasilkan CO karena terjadi pembakaran yang tidak sempurna. Inilah yang membuat situasi menjadi sangat berbahaya.

Kita sering kali hanya melihat asap, padahal yang lebih mematikan justru yang tidak terlihat. Karbon monoksida disebut “pembunuh senyap” karena sifatnya yang sulit dideteksi.

Saat terhirup, gas ini masuk ke dalam darah dan menggantikan oksigen, sehingga organ tubuh kita—terutama jantung dan otak—kekurangan pasokan oksigen yang dibutuhkan.

Dampaknya nyata dan bertahap: dari rasa cepat lelah, sakit kepala, mual, gangguan penglihatan, hingga risiko yang mengancam nyawa pada konsentrasi tinggi.

Kelompok paling rentan—lansia, penderita penyakit jantung dan paru—menanggung beban terberat dari kondisi ini.

Bagi warga Sumatera Selatan dan daerah lain yang setiap tahun berhadapan dengan asap, ini bukan sekadar berita, melainkan kenyataan yang berulang tahun demi tahun.

Himbauan Penting untuk Masyarakat: Waspada dan Lindungi Keluarga. Mengingat tingkat konsentrasi gas yang tinggi saat ini, saya menghimbau seluruh masyarakat untuk:

Batasi aktivitas di luar ruangan, terutama saat asap terlihat pekat. Anak-anak dan lansia sebaiknya tetap berada di dalam rumah. Pastikan sirkulasi udara di dalam rumah tetap baik namun terlindung. Tutup celah pintu dan jendela saat asap masuk, namun tetap pastikan ada pertukaran udara yang cukup.

Gunakan masker yang layak saat harus beraktivitas di luar ruangan. Masker kain saja belum cukup efektif; gunakan masker N95 atau yang berfilter jika memungkinkan.

Perhatikan gejala pada anak-anak. Anak-anak sering tidak bisa menyampaikan keluhannya dengan jelas. Jika terlihat anak menjadi gelisah, mudah lelah, batuk-batuk, atau terlihat sesak napas, segera cari udara bersih dan konsultasikan ke dokter. Jangan menunda!

Jangan abaikan keluhan seperti sakit kepala, pusing, atau mual. Itu bisa jadi bukan sekadar kelelahan biasa, melainkan tanda paparan gas beracun. Segera beristirahat di tempat dengan udara bersih.

Jangan menyalakan api unggun atau alat pembakaran di ruangan tertutup, karena akan menambah kadar karbon monoksida di dalam rumah. Yang perlu kita sadari: masalah ini tidak akan selesai hanya dengan memadamkan api saat musim kemarau tiba. Akar masalahnya ada pada kerusakan ekosistem gambut itu sendiri. Selama gambut terus dikeringkan, diubah fungsinya, dan tidak dipulihkan, api akan terus datang kembali, dan gas beracun CO akan terus mengancam kita.

Memulihkan hutan gambut bukan sekadar urusan lingkungan. Ini adalah urusan kesehatan masyarakat yang mendesak. Karena gambut yang sehat adalah benteng alami yang mencegah kebakaran sekaligus menjaga udara tetap bersih. Jika gambut terjaga, siklus hujan terjaga, dan api sulit berkobar. Jika gambut rusak, kita semua—tanpa terkecuali—akan terus menghirup ancaman yang tak terlihat.

Sudah saatnya kita menyadari: udara bersih bukan anugerah yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari menjaga alam dengan benar.

Pemerintah khususnya Kementerian Kehutanan perlu menyiapkan grand-strategy untuk melindungi gambut kita, dan melindungi masyarakat dari akibat buruk kerusakannya.

Memulihkan gambut berarti menyelamatkan paru-paru kita, jantung kita, dan masa depan anak-anak kita. Semoga kita semua senantiasa dalam perlindungan Allah SWT. (SS171026)