Festival Literasi 2026: Dari Baca Tulis Jadi Cuan, Karya Pegiat TBM Tembus Pasar Luar Kota

BANJARNEGARA – Festival literasi yang digelar di halaman Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Banjarnegara tidak hanya menampilkan buku dan aktivitas baca tulis. Pada Festival Literasi yang digelar dari tanggal 13 sampai 15 Oktober 2026 ini, Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Banjarnegara membuktikan bahwa literasi bisa menjadi jalan menuju kesejahteraan.
Melalui bazaar literasi, puluhan pegiat FTBM memamerkan karya-karya hasil implementasi literasi. Mulai dari produk makanan dan minuman, hingga kerajinan sulaman, rajut, dan produksi tas custom yang kini sudah dipesan dari berbagai kota.
Ketua FTBM Banjarnegara, Indra Hari Purnama, mengatakan literasi tidak boleh berhenti di kemampuan membaca dan menulis saja.
“Literasi tidak hanya membaca dan menulis, namun untuk kesejahteraan. FTBM mensupport produk dari para pegiat literasi yang membuat produk sebagai implementasi dari literasi yang ada,” kata Indra, Selasa (14/10).
Menurutnya, FTBM sengaja memberikan ruang agar pegiat tidak sekadar mengelola taman baca, tetapi juga menghasilkan karya yang bernilai ekonomi. Inovasi ini dilakukan agar pegiat literasi tidak berhenti di tengah jalan karena tekanan ekonomi.
“Kami terus berinovasi agar pegiat literasi tidak berhenti karena tekanan ekonomi. Dengan literasi untuk kesejahteraan, kita menyeimbangkan antara kegiatan literasi dan kebutuhan ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, FTBM juga bekerja sama lintas forum TBM untuk saling tukar produk dan informasi agar pemasaran lebih luas. Meski belum bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari sepenuhnya, produk literasi ini sudah menjadi penghasilan tambahan di luar pekerjaan pokok dengan omzet Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per bulan. Produknya pun semakin dikenal luas.
Dalam bazaar ini, FTBM menawarkan produk makanan mulai Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu meliputi oyek, kalatak, cireng, rempeyek, kripik pisang, dan sambal trasi, serta minuman sari bunga telang dan dawet ayu seharga Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu.
Untuk kerajinan tersedia tas rajut, gantungan kunci rajut, hiasan rajut, sulaman, dan tas custom dengan harga Rp 54 ribu hingga Rp 215 ribu.
Sementara itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Banjarnegara, Arief Rahman, menyebut festival literasi ini merupakan puncak acara yang dibiayai DAK Non Fisik.
“Manusia yang literat akan menghasilkan karya. Bazaar ini digelar untuk memamerkan karya, untuk memberikan support dan kampanye budaya literasi di Banjarnegara,” kata Arief.
Ia berharap, dengan berliterasi akan muncul kegiatan usaha yang menghasilkan pendapatan, sehingga pada akhirnya kesejahteraan pegiat meningkat, meski membutuhkan proses dan waktu.
Apresiasi juga datang dari Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana. Ia menilai festival literasi sangat membantu meningkatkan literasi pelajar dan masyarakat Banjarnegara.
“Sangat mengapresiasi festival literasi ini, sangat membantu meningkatkan literasi untuk pelajar dan masyarakat Banjarnegara. Dapat meningkatkan kemampuan dan kreativitasnya,” ujar Amalia.
Menurut Bupati, literasi memiliki banyak manfaat. Dengan meningkatkan kemampuan literasi, masyarakat bisa mengimplementasikan pengetahuannya menjadi karya nyata yang pada akhirnya dapat meningkatkan taraf perekonomian. (dar)

