Merawat Bumi dengan Akhlak Ekologis, Dari Ihtimam dan Itsar Menuju Rahmatan lil’alamin

Oleh: Asruri Muhammad
Pemerhati Sosial Keagamaan
KoranRakyat.co.id —-Ada yang menarik dalam cara Al-Qur’an menyebut orang beriman. Hampir selalu iman digandengkan dengan amal saleh: alladzina amanu wa ‘amilush-shalihaat. Iman tidak berhenti di dalam dada. Iman yang hidup pasti bergerak, melahirkan perbuatan.
Rasulullah menegaskan hal ini dengan sangat indah. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda bahwa iman itu memiliki lebih dari enam puluh atau tujuh puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah kalimat Laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu pun adalah bagian dari iman.
Perhatikan. Cabang iman yang disebut paling rendah justru bukan ritual besar di dalam masjid, melainkan tindakan yang sangat sosial dan ekologis: menyingkirkan duri, paku, atau sampah yang mengganggu orang di jalan. Dalam riwayat lain, Rasulullah mengisahkan ada seseorang yang diampuni Allah hanya karena menyingkirkan dahan berduri dari jalan.
Di sini iman tampil dalam bentuk paling konkret. Seorang mukmin tidak mungkin acuh. Ketika ia melihat sesuatu yang berpotensi mencelakakan orang lain, hatinya tergerak. Inilah buah pertama dari iman: kepedulian atau ihtimam.
Iman yang Menghadirkan Keselamatan
Pesan tentang duri di jalan ini sesungguhnya sangat dalam. Logikanya sederhana namun menghentak kesadaran. Jika gangguan kecil saja diperintahkan untuk disingkirkan karena dapat melukai, bagaimana mungkin seorang mukmin justru menjadi sumber gangguan itu sendiri? Bagaimana mungkin seorang yang beriman justru menebarkan teror, melakukan kekerasan, merusak fasilitas umum, atau membuang limbah yang mencemari lingkungan?
Jika duri saja disingkirkan, maka yang lebih besar mudaratnya tentu lebih wajib untuk dicegah.
Rasulullah juga mengajarkan untuk memadamkan api dan menutup pintu ketika hendak tidur. Sekilas tampak sepele, tapi di baliknya ada pendidikan tentang mitigasi risiko dan tanggung jawab. Islam mengajarkan prinsip pencegahan bahaya sebelum terjadi.
Inilah yang sering kita lupakan. Kepedulian tidak lahir tiba-tiba. Ia perlu dilatih dari perkara kecil. Seseorang tidak akan peduli pada keselamatan bangsa jika sampah kecil di selokan depan rumahnya saja ia biarkan. Seseorang tidak akan peduli pada kelestarian bumi jika ia masih menganggap membuang sampah ke sungai bukan masalah.
Kepedulian tumbuh dari kepekaan. Dari menyingkirkan duri, ia belajar mencegah bahaya. Dari menjaga kebersihan, ia belajar menghargai kehidupan.
Prinsip ini dikuatkan oleh kaidah fikih yang sangat terkenal: Laa dharar wa laa dhirar – tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya. Seorang mukmin tidak hanya dituntut menghadirkan kebaikan, tapi juga memastikan tangannya tidak menjadi sumber keburukan.
Al-Qur’an bahkan melarang seorang anak mengatakan “ah” kepada orang tuanya. Jika kata sekecil itu saja dilarang karena menyakiti hati, apalagi membentak, memukul, atau melakukan kekerasan yang lebih besar. Islam mendidik kepekaan dari level paling halus.
Pesan yang sama terlihat dalam hadis tentang tetangga. Rasulullah mengaitkan iman kepada Allah dan hari akhir dengan kewajiban memuliakan tetangga, memuliakan tamu, dan berkata baik atau diam. Bahkan beliau bersabda, belum sempurna iman seseorang sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.
Maka iman mengubah cara kita bertanya. Bukan hanya “Apa yang saya dapat?”, tapi “Apa yang saya berikan?”. Bukan hanya “Apakah saya aman?”, tapi “Apakah orang lain aman karena kehadiran saya?”.
Menjaga Jiwa, Menjaga Kehidupan
Kesadaran ini sejalan dengan salah satu tujuan utama syariat, yaitu hifzh an-nafs, menjaga jiwa. Dalam kerangka maqashid asy-syari’ah, menjaga kehidupan adalah kemaslahatan mendasar yang wajib dilindungi.
Al-Qur’an dalam Surah Al-Ma’idah ayat 32 memberikan gambaran yang sangat kuat: barang siapa membunuh satu jiwa tanpa hak, seakan-akan ia membunuh seluruh manusia. Dan barang siapa menyelamatkan satu jiwa, seakan-akan ia menyelamatkan seluruh manusia.
Satu jiwa sangat berharga. Maka, jika menyingkirkan duri dari jalan adalah bagian dari iman karena mencegah celaka, maka menyelamatkan manusia dari kelaparan, membantu korban bencana, mencegah perundungan, dan menjaga lingkungan hidup adalah bagian dari semangat yang sama: menjaga kehidupan dan mencegah kerusakan.
Inilah Islam Berkemajuan yang tidak memisahkan kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Shalat yang khusyuk seharusnya melahirkan tangan yang amanah.
Dari Ihtimam Menuju Itsar
Kepedulian atau ihtimam yang terus dipupuk akan naik tingkat menjadi itsar, yakni kesediaan mendahulukan kepentingan orang lain, bahkan ketika diri sendiri juga membutuhkan.
Al-Qur’an memuji kaum Anshar dalam Surah Al-Hasyr ayat 9: mereka mencintai orang-orang Muhajirin yang berhijrah kepada mereka, dan mereka mendahulukan kepentingan Muhajirin atas diri mereka sendiri, padahal mereka sendiri dalam keadaan membutuhkan.
Inilah itsar.
Jika ego bertanya, “Apa yang bisa saya dapat?”, maka ihtimam mengubahnya menjadi “Apa yang bisa saya berikan?”. Dan itsar membawanya lebih jauh: “Apa yang rela saya kurangi dari hak saya agar orang lain mendapat kebaikan?”.
Bayangkan jika mentalitas itsar ini hidup di ruang publik kita. Pejabat yang mendapat amanah tidak menggunakannya untuk memperkaya diri. Pengusaha yang memiliki kelebihan tidak hanya menumpuk keuntungan, tapi memikirkan upah pekerjanya. Warga yang memiliki air bersih tidak menghabiskannya sendiri saat tetangganya kekeringan.
Masyarakat tidak hanya diikat oleh undang-undang, tapi oleh kesediaan untuk saling menjaga. Di titik inilah iman bergerak dari kesalehan personal menjadi kesalehan sosial yang transformatif.
Dari Kepedulian Sosial Menuju Akhlak Ekologis
Jika iman mengajarkan kita untuk tidak menyakiti tetangga dan menyingkirkan gangguan dari jalan, maka kepedulian itu seharusnya meluas kepada lingkungan tempat kita dan makhluk Allah lainnya hidup. Tetangga kita bukan hanya manusia.
Bumi bukan objek yang boleh dieksploitasi sesuka hati. Ia adalah ciptaan Allah sekaligus amanah. Al-Qur’an mengingatkan, “Wa laa tufsidu fil ardhi ba’da islahiha” – janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya [QS. Al-A’raf: 56]. Di ayat lain, Allah menegaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut telah tampak akibat ulah tangan manusia [QS. Ar-Rum: 41].
Ini adalah teguran ekologis. Ketika air tercemar, yang sakit bukan hanya ikan, tapi manusia yang meminumnya. Ketika hutan dibabat, yang kehilangan rumah bukan hanya satwa, tapi manusia yang kehilangan resapan air dan udara bersih. Merusak lingkungan pada akhirnya adalah merusak sistem kehidupan itu sendiri.
Karena itu, dalam perspektif Islam Berkemajuan, menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Inilah yang disebut akhlak ekologis. Akhlak ekologis bisa dimulai dari yang sangat sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air wudu di masjid, merawat pohon di halaman, menjaga kebersihan sungai, tidak menyiksa hewan, dan menggunakan energi secara bijaksana.
Jika kepedulian ini dilakukan bersama-sama, ia akan menjadi budaya. Dan di sinilah itsar ekologis diuji: bersediakah kita mengurangi sedikit kenyamanan hari ini – mengurangi plastik sekali pakai, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, mengurangi konsumsi berlebihan – demi keberlangsungan hidup anak cucu kita esok?
Kita menahan diri hari ini agar generasi setelah kita masih bisa menghirup udara bersih dan meminum air yang jernih.
Menjadi Rahmat dan Meninggalkan Atsar
Allah menyebut Rasulullah sebagai rahmatan lil-‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Kita tentu tidak berada pada maqam beliau, tetapi kita diperintahkan meneladani akhlak rahmat itu sesuai kadar kemampuan kita.
Rahmat tidak selalu harus besar. Seorang ayah bisa menjadi rahmat bagi keluarganya dengan tidak merokok di dalam rumah. Seorang guru bisa menjadi rahmat bagi muridnya dengan tidak membuang puntung rokok sembarangan. Seorang remaja masjid bisa menjadi rahmat bagi kampungnya dengan gerakan bersih-bersih selokan.
Lingkupnya berbeda, prinsipnya sama: hadir membawa kebaikan dan tidak menjadi sumber kerusakan.
Pada akhirnya, hidup kita akan ditanya bukan hanya apa yang kita kerjakan, tapi apa jejak yang kita tinggalkan. Allah berfirman, “Wa naktubu ma qaddamu wa aatsarahum” – Dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan [QS. Yasin: 12].
Para ulama tafsir menjelaskan atsar adalah dampak atau jejak kebaikan yang terus mengalir setelah pelakunya tiada.
Maka tanyakan pada diri sendiri: apa yang dirasakan orang lain dari kehadiran kita?
Jadilah seperti garam. Ia larut dan tidak terlihat, tapi kehadirannya membuat masakan terasa nikmat. Ketika tidak ada, terasa ada yang kurang. Seorang mukmin seharusnya demikian: tidak harus selalu tampil di depan dan disebut namanya, tapi ketika berbicara ada manfaat, ketika bertindak ada yang terbantu, dan ketika pergi ada kebaikan yang tetap hidup.
Inilah wajah Islam Berkemajuan yang sesungguhnya: iman yang tidak berhenti sebagai keyakinan, tapi bergerak menjadi kepedulian; kepedulian yang menghadirkan keselamatan; itsar yang melahirkan kemanfaatan; dan kemanfaatan yang meninggalkan atsar kebaikan bagi manusia, makhluk hidup, dan bumi yang Allah amanahkan kepada kita.
Kemajuan sejati bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi kita, tapi seberapa jauh iman membentuk kita menjadi manusia yang mampu menjaga, memberi, dan menghadirkan kedamaian. Sebaik-baik kita adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.(*)

