Sepertinya Operator Hati-Hati Masuk 5G

Oleh : Moch. S. HendrowijonoPengamat
Mantan Wapemred/Editor di Harian Sriwijaya Post — Group Kompas Gramedia (1990-1991 & 1995-1996),
KoranRakyat.co.id —-Ketiga operator seluler sedang mendapat berkah berupa ratusan megahertz (MHz) spektrum frekuensi yang dibagikan pemerintah lewat lelang, Juli lalu.
Pita selebar keseluruhan 260 MHz ini akan menjadi semacam jaring untuk menangguk cuan yang lebih besar dibandingkan apa yang mereka dapat sebelumnya.
Pita selebar 260 MHz ini terdiri atas spektrum frekuensi rendah (low band) selebar 70 MHz di 700 MHz dan 190 MHz di spektrum tengah (mid band) pada 2.600 MHz.
Dari jumlah lebar frekuensi itu, Telkomsel memenangkan 100 MHz, XL Smart 80 MHz, dan Indosat 80 MHz. Semuanya merupakan spektrum emas untuk layanan 5G, layanan yang dirindukan masyarakat dan para operator sendiri.
Sejak dekade sebelumnya, berkali-kali pemerintah memberi harapan operator akan mendapat spektrum frekuensi, tetapi tidak juga. Operator pun mencoba memberi solusi layanan 5G dengan cara DSS (dynamic spectrum sharing) untuk kawasan terbatas.
DSS mengambil sebagian frekuensi milik layanan 4G LTE (long term evolution) dalam bentuk CA (carrier aggregation—gabungan beberapa spektrum frekuensi) untuk meningkatkan kecepatan dan kapasitas jaringan.
Cara ini konon bisa membuat kecepatan unduh tembus 200 Mbps (megabit per second).
Dimulai Telkomsel pada Mei 2021 yang memanfaatkan sebagian frekuensi 2.300 MHz dan 2.100 MHz untuk layanan 5G. Indosat menggunakan frekuensi 1.800 MHz dengan teknologi AI RAN (artificial intelligence radio access network) yang canggih. XL Axiata memakai frekuensi 2.100 MHz dan 1.800 MHz.
Sayangnya, layanan DSS dan AI RAN hanya bisa untuk radius sempit, di sekitar pusat layanan, kawasan wisata dan bandara, pusat-pusat keramaian dan kegiatan/event, tidak bisa secara nasional.
Masalahnya, ketika di kawasan-kawasan itu disibuki pelanggan 4G LTE, DSS dan AI RAN pun tersingkir, meski di layar ponsel tetap ada tulisan 5G. Muncullah olok-olok, layanan 5G rasa 4G.
Terbaik

Layanan 5G spesifik, beda. 5G bukan sambungan dari layanan 4G yang mendapat limpahan dari layanan 3G, yang begitu mendapat tambahan frekuensi langsung bisa diaktifkan. Secara pengalaman 5G, Telkomsel dan Indosat pun “masih piyik”, belum siap sepenuhnya.
Penggelaran spektrum 5G bisa membebani biaya modal (capex—capital expenditure) operator. Mereka harus mengukur lebih dahulu kemampuan masyarakat tempat layanan akan digelar. Sementara XL Smart sudah menggelar layanan XL Ultra 5G+ yang berkecepatan sampai 500 Mbps, yang menggunakan dua jenis frekuensi, low band dan mid band sekaligus.
Sifat frekuensi, makin tinggi dia, radius cakupannya makin rendah. Spektrum 700 MHz cakupannya bisa sampai radius 16 kilometer, cakupan mid band bisa sampai radius lima kilometer. Tetapi, cakupan di kawasan bisnis yang padat radiusnya sekitar 100 meter, yang membuat kapasitas mid band jauh lebih tinggi dibandingkan low band.
Namun, mid band tak mampu menembus tembok dan kaca, pepohonan lebat, atau menembus bukit. Selewat radius 5 kilometer, sinyal mid band melemah, keberadaan bar di ponsel makin sedikit.
Keunggulan low band—600 MHz, 700 MHz, 800 MHz, 900 MHz, 1.800 MHz, dan 2.100 MHz—bisa menembus tembok, kaca, hutan. Radius jangkauannya luas tergantung tinggi menara yang “menggendong” BTS-nya, 32 meter atau 40 meter. Jadi, dengan menggabung kedua spektrum, ponsel masih tetap mendapat layanan operator 5G sampai ujung lewat pancaran sinyal low band di ujung 16 kilometer.
Data XL Smart menyebutkan, Jakarta dengan luas 664 kilometer persegi hanya dilayani 1.000 BTS 5G. Untuk perluasan layanan hingga 80-an kota seluruh Indonesia, mereka hanya menggelar 15.000 BTS 5G.
Tetapi, menentukan titik penempatan BTS 5G adalah seni dan hitungan teknologi serta modal, sekaligus meramalkan prospek pertumbuhan pelanggan yang menggunakan ponsel 5G. Kalau mau untung, memang harus selektif dalam memilih tempat untuk ditanami BTS 5G, karena dari 320 jutaan ponsel yang digunakan masyarakat, ponsel 5G hanya 30%-nya, atau sekitar 100 juta. Operator harus jeli melacak kegiatan harian pemilik ponsel-ponsel 5G dan mengejarnya.
Di operasional semester I tahun 2026, XL Ultra 5G+ sukses menyabet empat penghargaan dari Ookla Speedtest: jaringan 5G terbaik, konektivitas terbaik, kecepatan dan respons 5G terbaik, serta mutu video streaming 5G terbaik.
Pelanggan Kecewa
Pemanfaatan jaringan 5G juga berefek pada pendapatan yang naik 26 persen dibandingkan semester pertama 2025 menjadi Rp24,03 triliun.
Laba juga melonjak 294 persen menjadi Rp2,73 triliun. Sayangnya, jumlah pelanggan turun dari 73 juta pada 2025 menjadi hanya 69,4 juta, sementara ARPU (average revenue per user—pendapatan rata-rata dari tiap pelanggan) justru naik dari Rp38.200 menjadi Rp47.100, tertinggi di industri.
Sebagai bandingan, ARPU Telkomsel Rp45.600 dengan pelanggan 153,5 juta—turun dari 158,4 juta pada 2025—pendapatannya Rp55,6 triliun, labanya Rp10,4 triliun. ARPU Indosat Rp46.000 dengan pelanggan 93,4 juta, turun dari 95,4 juta. Pendapatannya Rp30,65 triliun, naik 13,1 persen dari semester I/2025. Labanya Rp3,25 triliun, naik 49,2 persen dibandingkan semester pertama 2025.
Turunnya jumlah pelanggan di semua operator bukan sesuatu yang aneh, paling banyak karena penghapusan nomor-nomor yang tidak aktif. Bisa juga sebagai efek diterapkannya layanan 5G yang, karena kecepatannya tinggi, melahap rakus kuota internet sehingga pelanggan kecewa.
Operator pun akan merayu pelanggannya dengan berbagai paket, bundling ponsel murah bersama Erajaya, Samsung, Oppo, vivo, dan sebagainya, kredit ponsel 0 persen, roaming/jelajah mudah di 75 negara, gratis akses AI Gemini, dan bebas langganan video.
Tidak tertarik? Tanpa mengambil paket pun layanan 5G-nya tetap jalan, tetapi kecepatan datanya tidak bisa direm. (*)
