3 Oktober 2026

Wonosobo Genjot Hilirisasi Opak Cledok, Fasilitas Produksi Rp1,7 Miliar Disiapkan

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Upaya meningkatkan nilai tambah singkong di Kabupaten Wonosobo mulai diarahkan ke tahap hilirisasi melalui pengembangan opak singkong di Desa Cledok, Kecamatan Kaliwiro. Kolaborasi pemerintah daerah, masyarakat, Politeknik ATMI Surakarta, dan FKS Group tersebut ditujukan untuk memperkuat ekonomi petani sekaligus meningkatkan kapasitas produksi perajin lokal.

Pengembangan tersebut dibahas dalam Audiensi dan Sinergi Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Potensi Pangan di Pendopo Belakang Kabupaten Wonosobo, Jumat (25/9/2026).

Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mengatakan, pengembangan opak singkong di Cledok telah melalui proses yang cukup panjang. Saat ini, sejumlah persyaratan masih diselesaikan agar fasilitas produksi dapat segera digunakan.

“Ini proses yang cukup lama dan panjang, sudah hampir satu tahun lebih. Ternyata masih dalam tahap penyelesaian izin dan lain-lain. Harapannya bulan November sudah bisa beroperasi, mengingat kita sudah memasuki musim penghujan,” ujar Afif.

Menurut Afif, pengembangan opak tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Keberlanjutan bahan baku dan kesejahteraan petani juga perlu dipastikan sejak dari hulu.

“Packaging yang bagus ada nilai jual yang lebih tinggi. Jadi kita kuatkan mulai dari hulunya. Terlebih harga singkong masih murah dan tantangannya tentu bagaimana petani mau menanam singkong lagi,” katanya.

Ia mengatakan, tanaman singkong membutuhkan waktu sekitar delapan bulan hingga panen. Karena itu, peningkatan produksi opak harus diikuti kepastian pasar dan harga agar petani memiliki alasan ekonomi untuk terus menanam singkong.

“Jangan sampai petaninya semangat, tetapi harga jualnya rendah,” tegasnya.

Afif berharap fasilitas produksi dapat mulai berjalan pada awal 2027 dan pengembangan opak Cledok nantinya bisa menjadi contoh bagi desa lain dalam mengolah potensi pangan lokal menjadi produk bernilai tambah.

Sementara itu, VP of Corporate Communication and Sustainability FKS Group, Patris, mengatakan pengembangan opak berawal dari kunjungan tim R&D FKS ke Wonosobo. Dari kunjungan tersebut, tim melihat potensi opak sebagai produk pangan lokal yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas.

“Awalnya tim R&D kami datang ke Wonosobo lalu melihat ternyata Wonosobo itu punya potensi opak yang luar biasa. Opaknya juga enak, tetapi banyak masyarakat yang belum mengenal opak Wonosobo,” ujar Patris.

FKS kemudian berkolaborasi dengan Politeknik ATMI Surakarta melalui program Bestari Saintek yang didukung LPDP dan Kemendiktisaintek. Politeknik ATMI mengembangkan teknologi tepat guna berupa mesin produksi untuk meningkatkan kapasitas, konsistensi, dan higienitas pengolahan opak.

Di sisi lain, FKS menyiapkan fasilitas produksi sekaligus menjadi off-taker bagi produk yang dihasilkan perajin. Dengan skema tersebut, hasil produksi diharapkan tidak berhenti pada proses pembuatan, tetapi memiliki jalur pemasaran yang lebih jelas.

“Biasanya pengrajinnya sudah didampingi, tetapi produksinya mau ke mana. Nah, kami akan berkomitmen sebagai off-taker-nya,” kata Patris.

Fasilitas produksi dibangun di atas lahan milik Desa Cledok dengan ukuran sekitar 9 x 24 meter. Nilai pembangunan fasilitas diperkirakan mencapai sekitar Rp1 miliar, sementara kebutuhan peralatan produksi sekitar Rp700 juta.

Fasilitas tersebut ditargetkan siap pada November 2026. Setelah itu, FKS bersama Politeknik ATMI akan melanjutkan pendampingan untuk menjaga kapasitas produksi, higienitas, dan kualitas produk.

Namun, kebutuhan bahan baku menjadi tantangan tersendiri. Dalam satu shift, fasilitas produksi diproyeksikan membutuhkan sekitar 15 ton singkong. Kondisi tersebut membuat kesinambungan pasokan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan produksi.

“Harapannya dengan pendampingan secara langsung kepada para pengrajin dan petani, peningkatan ekonomi itu bisa berdampak langsung kepada para pengrajin maupun para petani,” jelas Patris.

Selain produksi dan pemasaran, identitas lokal juga akan dibawa dalam pengembangan produk. Kemasan opak nantinya direncanakan mengangkat unsur khas Wonosobo, termasuk Gunung Sindoro-Sumbing.

Dari sisi pemerintah daerah, Kabag Perekonomian dan SDA Setda Wonosobo Lintang Esti mengatakan Pemkab akan mempercepat penyelesaian berbagai kebutuhan administratif yang masih menjadi persyaratan pembangunan dan operasional fasilitas.

Sejumlah hal yang perlu diselesaikan meliputi perizinan kelembagaan dan koperasi, kerja sama dengan pemerintah desa, hingga persyaratan pembangunan fasilitas.

“Ini harus kita langsung respons. Utamanya terkait perizinan, baik dari lembaganya sendiri, koperasi untuk produksi opaknya, kemudian hubungannya dengan desa dan kerja samanya dengan lembaga-lembaga lainnya,” kata Lintang.

Pemkab juga akan mendukung pemenuhan persyaratan pembangunan, antara lain Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), Sertifikat Laik Fungsi (SLF), perizinan lingkungan, serta kebutuhan administratif lainnya.

Lintang mengatakan Bagian Perekonomian dan SDA akan mengoordinasikan perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM, DPMPTSP, serta Dinas Lingkungan Hidup.

“Jangan sampai semuanya sudah ready, tetapi terkendala perizinan dan yang lainnya. Kami akan segera merespons supaya nanti tidak terlalu lama lagi,” ujarnya.

Pengembangan opak singkong di Cledok menjadi salah satu upaya mendorong komoditas pertanian Wonosobo masuk ke rantai nilai yang lebih panjang. Singkong tidak hanya diposisikan sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk pangan dengan nilai tambah dan akses pasar yang lebih luas.

Skema tersebut mempertemukan petani sebagai penyedia bahan baku, perajin sebagai pelaku produksi, teknologi sebagai pendukung efisiensi, serta industri sebagai mitra hilirisasi dan pemasaran. (Diskominfo Wonosobo/Aris)