Membangun Sinergi Muhammadiyah-NU Untuk Membangun Bangsa, Negara dan Ke-Ummatan

Oleh: Mukhtarudin Muchsiri
Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palembang
KoranRakyat.co.id —-Awalan Harapan. Alhamdulillah dengan segala serba serbi dan dinamikanya, Muktamar ke-35 Nahdhatul Ulama telah berlangsung dan dilakukan penutupan. Tampak banyak peserta ataupun yang turut hadir ikut menyaksikan dan meramaikan acara Muktamar saling berpelukan mengungkapkan kemenangan dan kebahagiaan, ada juga yang diam karena calon pilihan yang diusung tidak berhasil menduduki tahta tertinggi Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU).
Satu hal utama kita sudah terjadi regenerasi kepemimpinan baru di tubuh PBNU untuk periode 2026-2031 dengan terpilihnya KH. Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin. Tulisan ini diperuntukan untuk berbagai harapan bahwa pasca Muktamar ke-35 NU kita berharap akan ada peningkatan kongkrit dan signifikan antara Muhammadiyah dengan Nahdhatul Ulama.
Negeri Dengan Penduduk Muslim Terbesar Di Dunia.
Ketika kita bicara Indonesia, kita bicara tentang sebuah laboratorium peradaban terbesar dalam sejarah Islam. Tidak ada negara lain di dunia yang penduduk muslimnya sebanyak di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini, yang demokrasinya hidup, yang keberagamannya sedemikian rupa, dan yang Islamnya mampu hidup berdampingan dengan ratusan suku dan agama. Di tengah laboratorium itu, dua raksasa organisasi berdiri paling depan: Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.
Keduanya bukan hanya organisasi. Mereka adalah ekosistem. Mereka adalah sekolah, rumah sakit, pasar, masjid, desa, kota, bahkan cara berpikir jutaan orang. Selama lebih dari satu abad, keduanya berjalan berdampingan. Kadang seirama, kadang berbeda tempo. Tapi yang menarik, di titik-titik genting sejarah, keduanya selalu bertemu di satu garis: garis kebangsaan. Ketika Belanda kembali setelah proklamasi, yang maju ke medan perang bukan hanya tentara.
Para santri NU dengan bendera Resolusi Jihad dan para pemuda Muhammadiyah dengan semangat jihad membela tanah air sama-sama turun. Ketika negara hampir pecah tahun 1965, jaringan masjid Muhammadiyah dan surau NU jadi tempat menenangkan warga. Ketika reformasi datang, dua-duanya sama-sama menahan diri agar perubahan tidak menjadi anarki. Ini bukan kebetulan. Ini karena keduanya punya satu akidah kebangsaan yang sama: bahwa Indonesia adalah rumah final bagi umat Islam. Tidak ada proyek khilafah, tidak ada negara agama, tapi juga tidak ada sekularisme yang menceraikan agama dari kehidupan publik.
Kesampingkan Perbedaan Furu’iyah
Lalu kenapa hari ini kita masih sering melihat seolah ada tembok antara keduanya? Jawabannya sederhana: karena kita terlalu lama disibukkan dengan furu’iyah. Furu’iyah itu soal teknis ibadah. Qunut atau tidak. Tahlil atau tidak. Tarawih cepat atau lambat. Hisab atau rukyat. Semua itu penting, tapi tidak prinsip. Para pendiri NU dan Muhammadiyah dulu justru sangat santai soal ini. KH Ahmad Dahlan pernah shalat di masjid yang qunutan. Para kiai NU dulu banyak yang sekolah di sekolah Muhammadiyah. Hubungan personal mereka cair. Yang membuat kaku adalah kita, generasi setelahnya, yang kadang menjadikan perbedaan kecil sebagai identitas kebanggaan.
Padahal kalau kita jujur, tantangan zaman hari ini jauh lebih besar dari soal qunut. Coba lihat data, 1 dari 4 anak Indonesia masih stunting. Pengangguran usia muda masih tinggi. Judi online dan pinjaman online sudah masuk ke desa-desa. Radikalisme tidak lagi datang lewat mimbar, tapi lewat algoritma TikTok dan YouTube. Kerusakan lingkungan membuat petani kehilangan musim. Di titik ini, berdebat soal 8 atau 20 rakaat terasa mewah. Berkutat pada masalah furu’iyah adalah membuang-buang waktu dan energi.
Ummat Menunggu Kehadiran dan Kemanfaatan Sinergisitas.
Rosululloh mengajarkan dengan sabdanya, “Orang yang paliang baik diantara kalian adalah orang yang bermanfaat bagi sesamanya”. Maka tuga kita dari keluarga besar Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama adalah memberi dan menebar kemanfaatan. Ummat membutuhkan kehadiran. Dan kehadiran itu hanya mungkin kalau dua kekuatan terbesar Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama ini saling menguatkan, bukan saling mengawasi. Tetapi saling sinergi. Mari kita bedah lebih dalam apa yang sebenarnya bisa disinergikan.
Pertama di bidang pendidikan. Muhammadiyah hari ini punya lebih dari 12 ribu sekolah dan 172 perguruan tinggi. NU punya lebih dari 20 ribu pesantren dan ribuan madrasah. Ini kekuatan luar biasa. Tapi selama ini seperti dua rel kereta yang sejajar tapi tidak pernah bertemu. Bayangkan kalau ada pertukaran. Dosen dari Universitas Muhammadiyah atau Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) mengajar metodologi riset di pesantren-pesantren Nahdhatul Ulama. Sebaliknya Kiai-kiai dari pesantren-pesantren Nahdhatul Ulama mengajar akhlak dan fiqh kontekstual di kampus PTMA. Mahasiswa IMM dan IPNU-IPPNU KKN bareng di satu desa atau kawasan. Kurikulumnya digabung: sisi rasionalitas, sains, dan manajemen dari PTMA, ditambah sisi spiritualitas, adab, dan kearifan lokal dari NU. Hasilnya bukan sarjana yang kering agama, dan bukan pula santri yang gagap teknologi. Hasilnya adalah manusia Indonesia yang utuh dan paripurna.
Kedua, di bidang kesehatan dan kemanusiaan. Saat gempa Cianjur, saat banjir Kalimantan, saat COVID-19, yang paling pertama buka dapur umum dan RS lapangan adalah MDMC Muhammadiyah dan LPBI NU. Tapi seringnya jalan sendiri-sendiri. Padahal kalau logistik digabung, ambulans dikoordinasi, dan data korban disatukan, penanganannya jauh lebih cepat. Begitu juga dengan LazisMu dan LazisNU. Dua-duanya punya dana umat ratusan miliar. Kalau ada program beasiswa, bedah rumah, atau penanganan stunting, sangat memungkinkan untuk penanganan satu pintu sinergisitas. Warga tidak peduli donasinya lewat mana, melainkan kehadiran dan kemanfaatannya. Yang mereka butuhkan adalah sembako datang, anak bisa sekolah, dan orang tua dapat pelayanan pengobatan.
Ketiga, di bidang ekonomi. Ini yang paling mendesak. Ekonomi umat kita masih lemah karena jalan sendiri-sendiri. Muhammadiyah kuat dengan Baitul Maal dan koperasi. NU kuat dengan BMT dan jaringan usaha santri. Tapi pasarnya sering rebutan. Padahal musuhnya bukan satu sama lain, tapi minimarket besar, pinjaman online, dan sistem ekonomi yang tidak adil. Sinerginya bisa begini: NU punya basis di desa dan pertanian, Muhammadiyah punya jaringan di kota dan industri. Gabungkan. Buat rantai pasok halal dari sawah NU ke toko Muhammadiyah. Buat dana wakaf bersama untuk bangun pabrik kecil. Aisyiyah dan Fatayat bisa menggerakkan UMKM ibu-ibu. Pemuda GP Ansor dan Pemuda Muhammadiyah bisa jadi tenaga marketing digital. Kalau ini jalan, dalam 10 tahun kita bisa punya konglomerasi ekonomi umat yang benar-benar mandiri.
Keempat, di bidang kebangsaan dan politik. Ini wilayah paling sensitif, tapi paling penting. Setiap kali ada isu kebangsaan, dua pimpinan pusat ini selalu ditunggu sikapnya. Ketika ada penistaan agama, ketika ada RUU bermasalah, ketika pilkada memanas. Selama ini sering keluar dua pernyataan berbeda. Akibatnya, umat bingung ikut yang mana. Padahal kalau sebelum bicara ke publik, dua pimpinan duduk dulu di satu meja, hasilnya akan jauh lebih kuat. Bukan untuk berpolitik praktis, tapi untuk menjaga agar politik tidak memecah umat. Ingat, 80 juta warga NU dan Muhammadiyah itu pemilih rasional. Kalau mereka dapat arahan yang sama tentang pentingnya pemilu damai, anti politik uang, dan memilih pemimpin yang amanah, maka kualitas demokrasi kita akan naik kualitasnya.
Kelima, di bidang dakwah digital. Medan perangnya sudah pindah ke layar HP. Anak muda sekarang tidak lagi dengar khutbah 2 jam di masjid. Mereka dengar ceramah 1 menit di reels. Nah, di sini Muhammadiyah punya keunggulan konten: kajian sistematis, literasi, dan tema-tema kontemporer. NU punya keunggulan tokoh: kiai muda, gus-gus, dan gaya bahasa yang membumi. Kalau digabung, hasilnya dahsyat. Bayangkan channel YouTube bersama “Islam Nusantara Berkemajuan”. Isinya ada kajian tafsir dari ustadz Muhammadiyah, ada kisah kearifan kajian kitab kuning/klasik kiai NU, ada talkshow anak muda. Algoritma tidak akan membedakan itu NU atau Muhammadiyah. Yang dilihat penonton hanya satu: ini adem, ini mencerahkan.
Meniti Jalan Tidak Mudah Tapi Mulia.
Lalu bagaimana caranya agar ini tidak hanya jadi wacana? Kita butuh keberanian dari dua hal: kepemimpinan dan akar rumput. Dari atas, pimpinan pusat harus berani membuat “Majelis Sinergi”. Bukan struktur baru yang birokratis, tapi forum 10 orang. 5 dari Muhammadiyah, 5 dari NU. Tugasnya hanya satu: memetakan program apa yang bisa dikerjakan bareng tahun ini. Dari bawah, warga harus berani bergaul. Anak IPM main ke pondok. Santri ikut pelatihan di sekolah Muhammadiyah. Takmir masjid Muhammadiyah undang kiai NU untuk pengajian. Takmir masjid NU undang ustadz Muhammadiyah untuk kajian. Awalnya canggung, lama-lama cair. Karena pada dasarnya kita ini satu keluarga besar. Ada satu cerita yang saya suka. Di sebuah desa di Magelang, masjidnya dikelola Muhammadiyah, musholanya dikelola NU. Awalnya tidak tegur sapa. Tapi ketika ada warga yang sakit dan tidak punya biaya, yang jenguk duluan adalah ibu-ibu Aisyiyah dan Fatayat bareng-bareng. Yang urunan juga bareng. Yang mendoakan juga bareng. Setelah itu, pengajian rutin jadi gabungan. Jumatnya giliran. Lebarannya bareng. Itu contoh kecil. Tapi dari contoh kecil itulah bangsa dibangun.
Teladan Sepanjang Zaman.
Kita juga harus belajar dari sejarah. Pendiri bangsa ini tidak pernah bertanya “kamu NU atau Muhammadiyah” ketika merumuskan Pancasila. KH. Wahid Hasyim dari NU dan Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah duduk satu meja di BPUPKI. Mereka bertengkar gagasan, tapi tidak bertengkar hati. Hasilnya adalah negara yang sampai hari ini masih kita nikmati. Artinya, sinergi itu sudah ada dalam DNA kita. Yang kita butuhkan sekarang adalah menghidupkannya kembali. Tentu akan ada yang bertanya: “Bagaimana dengan perbedaan manhaj?” Jawabannya: hormati. Muhammadiyah silakan dengan semangat tajdidnya. NU silakan dengan semangat i’tidal dan tawassuthnya. Tidak perlu ada yang menang. Yang perlu adalah ada “ruang aman” untuk berbeda. Di ruang publik, kita bicara bahasa yang sama: bahasa kebangsaan, bahasa kemanusiaan. Di ruang internal, silakan jalankan manhaj masing-masing. Ini namanya berfikir, berbicara, bersikap dan bertindak dewasa.
Penutup Harapan yang Tak Pernah Padam.
Saya ingin mengutip pesan yang sering diulang oleh kedua tokoh besar kita. Dari Muhammadiyah: “Islam adalah agama yang berkemajuan”. Dari NU: “Islam Nusantara adalah Islam yang ramah”. Dua kalimat ini sebenarnya satu. Berkemajuan tapi ramah. Ramah tapi tidak statis. Itulah wajah Islam Indonesia yang dirindukan oleh ummat dan dunia. Maka tugas kita hari ini bukan membuktikan siapa lebih benar. Tugas kita adalah membuktikan siapa lebih bermanfaat. Dan kebermanfaatan itu hanya lahir dari sinergi. Jika Muhammadiyah adalah sayap kanan, dan NU adalah sayap kiri atau sebaliknya, maka Indonesia tidak akan terbang kalau salah satu patah. Tapi kalau dua-duanya mengepak bersama, insyaAllah kita bisa terbang lebih tinggi: membawa membangun bangsa yang adil, negara yang bermartabat, dan umat yang rahmatan lil ‘alamin. Wallohu a’lam bish-showab.

