Slukatan Wonosobo Masuk 10 Besar Kandidat WIA 2026, Usung Pariwisata Berbasis Pemberdayaan

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Desa Wisata Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, berhasil melangkah ke jajaran 10 besar kandidat perwakilan Provinsi Jawa Tengah dalam kurasi ajang Wonderful Indonesia Award (WIA) 2026 kategori Desa Wisata.
Capaian ini menjadi tonggak penting bagi Desa Slukatan yang mengusung konsep pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat. Pengembangan pariwisata di desa tersebut tidak hanya diarahkan untuk mendatangkan wisatawan, tetapi juga menjadi sarana membuka akses ekonomi dan meningkatkan keterlibatan masyarakat.

Inisiatif pembentukan desa wisata ini berawal dari keprihatinan penggagasnya, Ahmad Hafid, terhadap kondisi sosial dan ekonomi di desanya. Sejak memulai kegiatan pemberdayaan pada 2022, Hafid dihadapkan pada persoalan rendahnya tingkat pendidikan warga, khususnya di Dusun Silandak.
Mayoritas anak lulusan SD dan SMP memilih tidak melanjutkan sekolah dan langsung merantau ke luar kota untuk bekerja sebagai buruh bangunan, pemotong ayam, atau pekerja rumah tangga.
“Kebanyakan kalau sudah lulus SD atau SMP itu mereka stuck, nanti akan langsung ke luar kota. Itu benar-benar pendidikan di sini masih rendah sehingga pola pikir mereka untuk bisa maju, entah di bidang pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi itu masih kurang,” ungkap Hafid saat diwawancarai di rumahnya pada Kamis (27/8/2026).
Kondisi tersebut berdampak pada tingginya angka anak putus sekolah, minimnya keterlibatan perempuan di sektor publik dan pariwisata, serta terbatasnya akses ekonomi warga.
Di sisi lain, sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat juga kerap menghadapi persoalan ketika harga komoditas utama seperti labu siam anjlok drastis hingga menyentuh Rp200 per kilogram. Ditambah lagi, kepengurusan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) lama yang terbentuk sejak 2020 sempat tidak berjalan aktif.
Melihat kompleksnya persoalan tersebut, Hafid mengawali langkahnya secara bertahap. Upaya tersebut dimulai dengan merangkul para pemuda melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja) untuk memberikan motivasi agar melanjutkan pendidikan, sebelum kemudian berkembang ke pemberdayaan UMKM lokal.
Upaya tersebut turut mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan. Saat ini, sekitar 250 anak di Desa Slukatan bersekolah untuk jenjang SD dan MI, yang menjadi bagian dari upaya membangun motivasi belajar serta membuka peluang pendidikan bagi generasi muda desa.
Hafid turut mendampingi proses perizinan dan legalitas usaha. Kini, sekitar 45 UMKM telah mengantongi sertifikasi halal, sementara beberapa di antaranya mendapatkan hak merek melalui hasil kolaborasi dengan Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Jawa Tengah.

Untuk menggerakkan roda pariwisata, Hafid membentuk kepengurusan yang terstruktur dan aktif di berbagai bidang, mulai dari pengembangan inovasi, pemberdayaan, UMKM dan ekonomi kreatif, lingkungan dan konservasi, hingga publikasi dan digitalisasi.
Kepengurusan tersebut secara rutin bermusyawarah sekaligus mencari akses pendampingan, peluang kompetisi, maupun program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Upaya pemberdayaan tersebut juga menyasar kelompok masyarakat rentan. Remaja putus sekolah dilibatkan sebagai pemandu wisata dan perempuan dalam paket budaya. Sementara untuk warga disabilitas, pengelola saat ini masih melakukan penjaringan dan asesmen sebagai tahap awal untuk membuka ruang keterlibatan mereka dalam pengembangan pariwisata ke depan.
Selain mengandalkan pemandangan alam, Desa Wisata Slukatan mengemas potensi lokal menjadi sejumlah paket wisata tematik yang diharapkan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Salah satunya Paket Workshop Golek Tholo, yang mengangkat sekaligus merevitalisasi tradisi lokal berupa boneka dari kain jarik. Tradisi tersebut dahulu digunakan sebagai piranti untuk ngeneng-ngeneng atau menenangkan bayi maupun seseorang yang sedang sedih atau menangis.
Dalam paket tersebut, wisatawan dapat belajar membuat Golek Tholo sekaligus mengenal makna tembang doa dan tarian pengiringnya. Kegiatan ini melibatkan perempuan serta anak putus sekolah sebagai pemandu.

Ada pula Paket Mangku Alam di Dusun Slukatan. Wisatawan diajak menyusuri jembatan gantung dan menikmati kesegaran sumber mata air Mudal, kemudian mengikuti edukasi menyeduh kopi khas di Hidden Gem Cafe serta menikmati kuliner lokal seperti Grubi atau Keripik Ubi.
Sementara itu, Paket Pager Nompok di Dusun Bismo menawarkan wisata edukasi budidaya lebah madu Apis cerana di sembilan titik lokasi. Pengunjung dapat melihat demonstrasi panen sekaligus mencicipi madu secara langsung.
Di Dusun Silandak, potensi pertanian dikembangkan melalui konsep Agrowisata & Event yang mengintegrasikan kegiatan fun walk, pendakian, meditasi, dan live in dengan aktivitas panen labu siam bersama petani lokal.
Melalui konsep live in, wisatawan dapat tinggal sementara di rumah warga dan merasakan langsung kehidupan masyarakat desa. Program ini memberikan insentif tambahan bagi petani sekaligus memperkenalkan kehidupan serta potensi lokal Desa Slukatan kepada wisatawan.
“Kalau menurut saya, penilaian dari WIA kemarin sehingga kita bisa masuk 10 besar, selain fokus di pengembangan dan pengelolaan wisata, karena kami juga fokus pada pariwisata berbasis pemberdayaan masyarakat dengan semua potensi yang terintegrasi melalui paket wisata. Jadi benar-benar semua lapisan masyarakat bisa terlibat termasuk peran perempuan,” jelasnya.
Capaian masuk 10 besar WIA 2026 tersebut juga tidak lepas dari pendampingan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo. Dukungan diberikan mulai dari pendampingan penyusunan dokumen hingga pengelolaan konten dan persiapan menghadapi tahapan penilaian.
“Alhamdulillah Dinas Pariwisata Kebudayaan Wonosobo sangat membantu keberadaan Desa Wisata Slukatan, mulai dari kolaborasi konten sampai bimbingan mereka yang sangat bagus bagi kami,” tutur Hafid.

Keberhasilan masuk 10 besar tersebut disambut positif warga dan pengelola Desa Wisata Slukatan. Capaian ini dinilai menjadi hasil dari proses panjang dan perjuangan bersama dalam membangun pariwisata yang melibatkan masyarakat.
Menghadapi tahapan verifikasi lapangan oleh tim dewan juri, Hafid berharap Desa Wisata Slukatan dapat menampilkan performa terbaiknya.
“Harapannya nanti pas tahap penilaian lanjutan atau verifikasi lapangan dari tim dewan juri, kita bisa menampilkan yang terbaik. Bukan cuma sekadar pamer wisata alam atau spot foto saja, tapi benar-benar memperlihatkan bagaimana pariwisata ini bisa menggerakkan roda ekonomi dan mengubah pola pikir masyarakat di Desa Slukatan ini,” pungkas Hafid. (Aris)
