9 Mei 2026

SD Negeri Sukatani, Ruang Belajar Alternatif Tumbuh dari Dusun Liyangan Temanggung

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, terdapat sebuah ruang belajar alternatif bernama SD Negeri Sukatani. Meski menggunakan nama “sekolah dasar”, tempat ini bukan lembaga pendidikan formal, melainkan ruang kolektif yang dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan belajar, literasi, dan aktivitas komunitas.

Ruang tersebut dikelola oleh seorang pemuda yang akrab disapa Mas Bandost. Setelah lama merantau, ia memutuskan kembali ke kampung halaman pada 2017 untuk merawat orang tuanya. Sejak awal kepulangannya, rumah yang ia tempati memang telah ia gagas sebagai ruang komunal yang kemudian dikenal dengan nama SD Negeri Sukatani.

“Ya mungkin sampai hari ini tuh, rumah saya atau SD Sukatani itu sesuai harapan saya menjadi ruang silaturahmi, ruang kumpul-kumpul,” ujarnya.

Gagasan menghadirkan ruang kolektif berangkat dari kebiasaannya berinteraksi dengan anak-anak muda di Dusun Liyangan, terutama sejak kawasan Situs Liyangan mulai ramai dikunjungi. Ia melihat banyak anak muda yang berkumpul tanpa wadah kegiatan yang jelas, sehingga muncul kebutuhan akan ruang yang lebih produktif dan edukatif.

Di sisi lain, kegiatan literasi di dusun tersebut telah lebih dulu berjalan melalui Pondok Literasi Damar Panuluh yang digagas oleh warga setempat. Mas Bandost kemudian terlibat dalam pengelolaan kegiatan tersebut bersama para pengurus.

Seiring berjalannya waktu, aktivitas pondok literasi mengalami dinamika, termasuk perpindahan lokasi serta penurunan kegiatan saat pandemi. Ketika kegiatan mulai diaktifkan kembali, Pondok Literasi Damar Panuluh kemudian dipindahkan ke rumah Mas Bandost, yang sejak awal telah difungsikan sebagai SD Negeri Sukatani.

Sejak saat itu, Pondok Literasi Damar Panuluh menjadi bagian dari aktivitas di SD Negeri Sukatani dan memperkuat fungsi tempat tersebut sebagai ruang belajar bersama bagi masyarakat.

Selain sebagai tempat membaca, ruang ini juga dimanfaatkan sebagai wadah berkegiatan bagi berbagai kalangan, khususnya anak-anak dan pemuda. Suasananya yang santai membuatnya lebih diminati dibandingkan ruang formal.

“Menurut mereka ngumpul di balai desa itu terlalu kaku, terlalu formal. Jadi akhirnya di sini jadi ruang kolektifnya mereka,” katanya.

Berbagai kegiatan rutin dilakukan, mulai dari membaca bersama, latihan teater, hingga kegiatan luar ruang seperti jelajah desa. Salah satu kegiatan yang cukup dikenal adalah Serawung Bocah, yang menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak melalui pertunjukan seni seperti tari, puisi, dan teater.

Dalam pelaksanaannya, tantangan minat baca anak-anak masih menjadi perhatian. Menurutnya, pendekatan yang terlalu formal justru berpotensi membuat anak-anak jenuh, sehingga kegiatan literasi dikemas secara lebih santai dan menyenangkan.

“Kita tidak terlalu menekan. Kalau sama seperti sekolah, anak-anak pasti jenuh,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa ruang baca tidak difungsikan sebagai tempat mengerjakan pekerjaan rumah, melainkan sebagai ruang eksplorasi agar anak-anak dapat mengenal buku secara lebih bebas.

Nama “SD Negeri Sukatani” sendiri dipilih dengan pertimbangan tertentu. Selain terinspirasi dari nama-nama desa dalam buku pelajaran sekolah dasar, nama tersebut juga mencerminkan kondisi masyarakat sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Tidak jarang, nama ini membuat pengunjung mengira tempat tersebut merupakan sekolah formal.

“Padahal ini ruang belajar untuk siapa saja. Sekolah itu kan sebenarnya sepanjang hayat,” ungkapnya.

Ke depan, ia tidak menetapkan target besar dalam pengembangan kegiatan. Fokus utama adalah menjaga keberlanjutan ruang belajar tersebut agar tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Yang penting saya berusaha untuk tetap ada dan eksis. Ini kami niatkan sebagai amal baik,” katanya.

SD Negeri Sukatani menjadi salah satu contoh ruang belajar berbasis masyarakat yang berkembang secara organik. Dari sebuah rumah di Dusun Liyangan, kegiatan literasi dan pembelajaran terus dihidupkan sebagai bagian dari keseharian warga. (Aris)