17 April 2026

Donald Trump Hubungi  Netanyahu Minta Kurangi Serangan ke Lebanon

Jakarta|KoranRakyat.co.id  — Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menghubungi Perdana Menteri (PM), Benjamin Netanyahu agar  mengurangi serangan ke Lebanon. Menurut Trump Netanyahu menyanggupi permintaan itu.

Dilansir detikNews dan  NBC News, Jumat (10/4/2026), Trump berbincang dengan Netanyahu melalui sambungan telepon. Trump mengkonfirmasi percakapan tersebut dalam wawancaranya dengan NBC News dengan mengatakan bahwa Israel mengurangi operasi di Lebanon.
“Saya sudah berbicara dengan Bibi dan dia akan bersikap tenang. Saya rasa kita harus sedikit lebih tenang,” kata Trump.
Trump mengaku sangat optimis kesepakatan perdamaian dengan Iran sudah di depan mata. Sementara delegasi diplomatik yang dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance bersiap menuju Pakistan untuk pembicaraan penting yang bertujuan mengakhiri konflik yang berlangsung hampir enam minggu. “Jika mereka tidak mencapai kesepakatan, itu akan sangat menyakitkan,” tambah Trump.
Namun gencatan senjata sementara antara AS dan Iran sudah menunjukkan tanda-tanda ketegangan, karena pasukan Israel terus melakukan serangan di seluruh Lebanon selatan, tempat kelompok militan Hizbullah yang didukung Teheran bermarkas.
Para pemimpin Eropa juga telah memohon agar Lebanon dimasukkan dalam gencatan senjata terbatas. Netanyahu belum menunjukkan indikasi publik bahwa ia siap untuk mengurangi serangan, meskipun ia mengatakan pemerintahnya akan mencari “negosiasi langsung” dengan Lebanon. “Saya bersikeras bahwa gencatan senjata sementara dengan Iran tidak termasuk Hizbullah, dan kami terus menyerang mereka dengan keras,” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu, menambahkan bahwa “persahabatan yang mendalam” antara pemerintah Israel dan Trump mengubah wajah Timur Tengah.
Iran Tutup Selat Hormuz Lagi
Serangan Israel ke Lebanon berdampak pada aktivitas di Selat Hormuz. Jalur laut penghubung Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab itu kembali ditutup Iran.
Militer Israel melancarkan serangan ke wilayah Lebanon hingga menewaskan 112 orang. Serangan itu juga melukai ratusan orang lainnya di Lebanon.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz pasukannya melakukan serangan yang menargetkan ratusan anggota Hizbullah di seluruh Lebanon. “IDF melakukan serangan mendadak terhadap ratusan anggota Hizbullah di pusat-pusat komando di seluruh Lebanon. Ini adalah pukulan terkonsentrasi terbesar yang diderita Hizbullah sejak Operasi Beepers,” kata Katz dalam pernyataan video, merujuk pada operasi besar tahun 2024 terhadap Hizbullah yang melibatkan bom pager dilansir AFP, Rabu (8/4).
Israel melancarkan serangkaian serangan di Beirut pada Rabu (8/4), menyebabkan kepanikan di antara penduduk dalam serangan paling keras di ibu kota sejak awal perang dengan Hizbullah.
Dilansir CNN, Kamis (9/4), Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan serangan Israel di berbagai wilayah negara, termasuk ibu kota Beirut, telah menewaskan sedikitnya 112 orang, menurut data sementara terbaru. Sebanyak 837 orang lainnya terluka dalam serangan hari ini, menurut kementerian tersebut.
Otoritas Iran dilaporkan menutup kembali Selat Hormuz menyusul serangan militer Israel di Lebanon terhadap kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran. Penutupan itu dilaporkan media pemerintah Iran, Fars.
Dua kapal tanker berhasil melewati selat tersebut, yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menurut Marine Traffic, sebuah layanan pelacakan kapal.
Kapal milik Yunani, NJ Earth, dan kapal berbendera Liberia, Daytona Beach, berhasil melewati selat tersebut, kapal pertama yang melintasi jalur air strategis tersebut sejak gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan.
Penutupan selat tersebut terjadi bersamaan dengan serangan militer Israel di Lebanon pada hari Rabu, yang menewaskan ratusan orang.
Dilansir The Hill, Kamis (9/4/2026), ketika ditanya tentang laporan penutupan Selat Hormuz dari kantor berita Fars, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan laporan tersebut “palsu.” (*)