Sepuluh Hari Terakhir, Masjidil Haram Makin Padat, Waktu Terbaik Laksanakan Umroh agar Tidak Berdesakan

Makkah|KoranRakyat.co.id —-Suasana Masjidil Haram di Kota Makkaha terlihat semakin padat, tidak hanya oleh Jemaah yang melaksanakan ibadah umroh yang datahg dari berbagai Negara Islam. Namun suasana semakin crowded karena jemaah lain memperbanyak iktikaf baik siang hari maupun malam.
Pengamatan KoranRakyat.co.id di lapangan terlihat hampir 24 jam aktivitas Jemaah tidak pernah berhenti karena 10 hari terakhir merupakan waktu yang tepat memperbanyak ibadah dan berebut malam lailatur qadar yang dijanjikan Allah SWT bagi yang mendapat malam tersebut sama dengan 1000 bulan beribadah. Bagi Jemaah yang tidak bisa lagi masik ke bangunan utama Masjidil Haram, Jemaah ditampung di sejumlah yang sudah dipersiapkan dengan kelengkapan seperti pengeras suara dan tikat, bahkan di sejumlah ruas jalan pun Jemaah tidak tertampung.
Dilansir Himpusnews, lonjakan jemaah di Masjidil Haram selama Ramadan membuat pelaksanaan umrah sering kali berlangsung dalam kondisi sangat padat. Karena itu, memilih waktu yang tepat menjadi faktor penting agar ibadah dapat dilakukan dengan lebih khusyuk dan nyaman.

Suasana Plataran Masjidil Haram ssat jemah keluar mesjid usai melaksanakan shalat,(KR)
Kepadatan jemaah terutama terjadi di area mataf atau pelataran yang mengelilingi Ka’bah, tempat pelaksanaan tawaf. Dengan perencanaan waktu yang tepat, jemaah dapat menjalankan rangkaian ibadah seperti tawaf dan sa’i dengan lebih leluasa.
Memilih jam yang relatif sepi juga memungkinkan jemaah lebih fokus dalam berdoa, bermunajat, dan menikmati suasana spiritual di salah satu tempat paling suci bagi umat Islam.
Tiga Waktu Relatif Sepi untuk Umrah
Beberapa jam tertentu dinilai lebih ideal untuk melaksanakan umrah karena kepadatan jemaah cenderung lebih rendah.
Pagi Hari Setelah Subuh (06.00–08.00)
Waktu pagi setelah salat Subuh menjadi salah satu momen paling tenang untuk melaksanakan umrah.
Pada jam ini, banyak jemaah yang memilih beristirahat setelah ibadah malam sehingga area mataf relatif lebih lengang. Suasana pagi yang sejuk juga membantu jemaah menjalankan tawaf dan sa’i dengan lebih nyaman, terutama pada bulan-bulan dengan suhu lebih rendah.
Selain itu, suasana fajar yang tenang sering dimanfaatkan jemaah untuk memperbanyak doa dan refleksi spiritual.
Tengah Hari (12.00–14.00)
Rentang waktu tengah hari juga bisa menjadi pilihan bagi jemaah yang ingin menghindari kerumunan besar.
Pada jam tersebut, sebagian jemaah memilih beristirahat di area teduh atau kembali ke penginapan untuk menghindari panas. Hal ini membuat area ibadah relatif lebih lapang dibandingkan waktu-waktu utama lainnya.
Namun jemaah tetap disarankan menjaga kondisi tubuh, terutama dengan memastikan kecukupan cairan dan menggunakan pakaian yang ringan serta nyaman.
Dini Hari (02.00–04.00)
Bagi jemaah yang menginginkan suasana paling tenang, waktu dini hari menjadi pilihan yang banyak direkomendasikan.
Udara yang lebih sejuk serta jumlah jemaah yang lebih sedikit menciptakan suasana ibadah yang lebih khusyuk. Tawaf dan sa’i juga bisa dilakukan dengan lebih lancar tanpa gangguan kerumunan.
Banyak jemaah memanfaatkan waktu ini untuk memperbanyak doa dan ibadah karena atmosfer spiritualnya yang lebih hening.
Pemerintah Saudi Atur Waktu Umrah Selama Ramadan
Melansir surat kabar lokal saudi Okaz, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi bahkan mengeluarkan aturan “sembilan jam” jadwal umrah selama Ramadan guna mengendalikan kepadatan jemaah di Masjidil Haram.
Kementerian mengimbau para peziarah yang hendak melaksanakan umrah agar memilih waktu di luar rentang jam yang paling padat.
Berdasarkan indikator kepadatan selama dua pekan pertama Ramadan, waktu 16.00–22.00 dan 05.00–08.00 tercatat sebagai periode dengan kerumunan paling tinggi.
Sementara itu, tingkat kepadatan 23.00–04.00 tergolong sedang, sedangkan 08.00–15.00 relatif lebih ringan.
Untuk membantu pengelolaan jemaah, otoritas Saudi memanfaatkan perangkat keamanan berbasis teknologi dan kecerdasan buatan. Sistem tersebut digunakan untuk memantau jumlah jemaah di area thawaf serta mengelola arus keluar-masuk pengunjung.
Selain itu, teknologi tersebut juga membantu memperlancar akses menuju kawasan pusat serta mengurai kemacetan bus pengantar jemaah.
Otoritas keamanan Arab Saudi juga meningkatkan kesiapan selama sisa Ramadan guna mengantisipasi lonjakan jemaah umrah maupun jemaah salat di Masjidil Haram.
Berbagai aspek pengamanan dan pelayanan diperkuat, mulai dari pengelolaan kerumunan, manajemen lalu lintas, pelayanan kemanusiaan, hingga dukungan bagi instansi terkait yang terlibat dalam operasional di kawasan masjid suci tersebut.

Fokus Ibadah
Direktur PT All Wally Wahyu Aulia Putra ketika bersilaturrahmi dengan KoranRakyat.co.id menyampaikan pesan untuik para jemaah Full Ramadhan agar selalu fokus untuk beribadah dengan kondisi kesehatan yang prima. “Kalau ada waktu istirahat, manfaatkan untuk istirahat, sebab b agi jemaah yang akan iktikaf dalam mesjid, sudah harus siap untuk tidak pulang ke hotel. Kalau menyempatkan diri untuk pulaang, tempat semula sudah diambil alih jemaah lain” sembari menambahkan bahwa ada jemaah yang bawa bekal berbuka dan sahur ke mesjid dan pulangnya setelah menunaikan shalat sunat Syuru’ dan Dhuha(*)
