30 April 2026

Jalan Lingkar Sumbing Wonosobo Ditutup Sementara, DPUPR Fokus Pengamanan Lereng dan Penataan Kawasan

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Ruas Jalan Lingkar Sumbing (Jalisu) di jalur Butuh–Bowongso, Kecamatan Kalikajar, yang sempat viral di media sosial karena panorama alamnya, saat ini ditutup sementara oleh Pemerintah Kabupaten Wonosobo.

Penutupan dilakukan sebagai langkah antisipatif menyusul masih adanya sejumlah titik rawan longsor di sepanjang jalur tersebut. Penutupan ini dijadwalkan berlangsung mulai 16 Januari 2026 hingga 20 Februari 2026.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo, Nurudin Ardiyanto, menjelaskan bahwa Jalisu merupakan jalan baru yang proses pembangunannya masih membutuhkan penyempurnaan, terutama dari sisi keamanan lereng. Menurutnya, kondisi geografis Wonosobo yang didominasi kawasan pegunungan membuat risiko longsor tidak bisa diabaikan, terlebih di tengah curah hujan yang masih tinggi.

“Jalisu ini adalah jalan baru kita yang cukup viral. Upaya kita menuju lebar jalan standar 5,5 meter, tetapi karena berada di daerah pegunungan, pembukaan jalannya harus memotong bukit. Dengan kondisi galian dan timbunan yang masih baru serta curah hujan yang tinggi, masih ada titik-titik rawan longsor,” ujar Nurudin Ardiyanto saat ditemui pada Rabu, (21/01/2026).

Ia menambahkan, secara alami lereng-lereng tersebut juga belum sepenuhnya stabil karena belum ditumbuhi vegetasi penguat. Oleh karena itu, DPUPR berencana melakukan penanaman tanaman pencegah erosi serta penambahan infrastruktur pengaman di titik-titik tertentu.

“Hari ini kondisinya memang belum sempurna. Kami justru khawatir animo masyarakat yang tinggi berhadapan dengan risiko longsor. Itu yang menjadi pertimbangan utama penutupan sementara,” tegasnya.

Selain faktor keselamatan, penutupan Jalisu juga dimanfaatkan untuk menyiapkan penataan kawasan secara lebih menyeluruh. Nurudin menyebut, masyarakat di sepanjang jalur Jalan Lingkar Sumbing memiliki semangat kuat untuk menata wilayahnya agar tidak sekadar viral sesaat, tetapi berkembang menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan.

“Kemarin kami sudah berkoordinasi dengan Bu Camat dan masyarakat untuk menata kawasan ini agar menjadi destinasi wisata yang rapi, bersih, dan teratur. Tidak hanya FOMO, tetapi viralnya bisa terus berkelanjutan,” katanya.

Ia menekankan bahwa pembangunan Jalisu tidak dimaksudkan hanya sebatas menyediakan infrastruktur jalan, tetapi juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Hal ini sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam optimalisasi sektor pariwisata dan agrobisnis.

“Kami ingin dibukanya Jalan Lingkar Sumbing ini betul-betul memberikan dampak berkelanjutan bagi peningkatan perekonomian masyarakat. Tidak sekadar membangun jalan, tetapi juga terjadi pertumbuhan ekonomi warga,” jelas Nurudin.

Ke depan, kawasan ini juga diproyeksikan berkembang dengan hadirnya homestay, glamping, serta penguatan UMKM lokal. Namun demikian, DPUPR menegaskan bahwa aspek tata ruang tetap menjadi perhatian agar tidak terjadi alih fungsi lahan secara masif.

“Dampak ekonomi tentu kita harapkan, tetapi dari sisi tata ruang harus dijaga. Jangan sampai terjadi alih fungsi lahan yang tidak terkendali sehingga sumber daya alam tidak bisa dikelola secara berkelanjutan,” imbuhnya.

Selama masa penutupan, DPUPR akan fokus pada perencanaan teknis dan nonteknis. Dari sisi teknis, dilakukan desain kebutuhan infrastruktur pengamanan lereng. Sementara dari sisi nonteknis, dilakukan pemberdayaan masyarakat melalui perencanaan kawasan wisata secara kolaboratif.

“Secara teknis kami mendesain kebutuhan infrastruktur yang harus dilakukan. Secara nonteknis, kami sudah bertemu dengan camat dan masyarakat untuk mendesain kawasan pariwisata Jalan Lingkar Sumbing. Dalam waktu dekat, kami juga akan mengundang stakeholder lain seperti dinas pariwisata, dinas perdagangan, koperasi, dan perbankan,” ungkapnya.

Terkait kondisi lapangan, Nurudin mengungkapkan bahwa terdapat tujuh titik longsor yang dinilai cukup rawan. Meski setiap kejadian longsor selalu ditangani, pihaknya tidak ingin mengambil risiko dengan tetap membuka akses saat kondisi cuaca tidak menentu.

“Kemarin ada sekitar tujuh titik longsor yang cukup rawan. Kami tidak ingin ketika masyarakat sedang menikmati pemandangan, tiba-tiba terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Karena itu, kami sepakat dengan masyarakat dan Bu Camat untuk menutup sementara,” tuturnya.

Jalan Lingkar Sumbing sendiri memiliki panjang sekitar 3,2 kilometer dan berada tepat di bawah lereng Gunung Sumbing. Jalan ini merupakan pelebaran dari lebar sebelumnya sekitar dua meter menjadi tujuh meter, serta pembukaan lahan baru sepanjang kurang lebih 350 meter. Dari jalur ini, pengendara disuguhi panorama Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, hingga Gunung Kembang, lengkap dengan hamparan kebun tembakau khas dataran tinggi Wonosobo.

Meski saat ini ditutup, Jalan Lingkar Sumbing tetap diproyeksikan menjadi jalur alternatif strategis penghubung antarwilayah sekaligus destinasi wisata baru di Wonosobo. Pemerintah daerah berharap, setelah seluruh aspek keamanan dan penataan kawasan rampung, Jalisu dapat dibuka kembali dengan kondisi yang lebih aman, tertata, dan memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat. (Aris)