Sambung Roso Tandai Tiga Tahun Komunitas Jalan Pintas di Wonosobo

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Komunitas Jalan Pintas menggelar kegiatan bertajuk Sambung Roso pada Minggu (18/01/2026), bertempat di Ndalem Kenyo, Sukoyoso, Wonosobo. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini menjadi ruang temu lintas praktik literasi, bunyi, bahasa, serta refleksi kebudayaan.
Jalan Pintas merupakan komunitas jalan-jalan yang berbasis Sustainable City Walking Tour dan aktif di Wonosobo. Melalui Sambung Roso, komunitas ini menghadirkan ruang diskursus, ekspresi, serta perawatan ingatan kolektif yang berpijak pada kesadaran bahwa rasa, pengetahuan, dan kebudayaan tumbuh melalui dialog.
Ketua Komunitas Jalan Pintas, Pratika Indah, menjelaskan bahwa Sambung Roso dirancang sebagai ruang belajar bersama yang menempatkan pengetahuan bukan sebagai hasil akhir, melainkan sebagai proses yang terus berjalan.
“Acara Sambung Roso ini kami hadirkan sebagai ruang belajar bersama, tempat pengetahuan tidak diposisikan sebagai hasil akhir, melainkan sebagai proses yang terus dinegosiasikan melalui pengalaman estetik dan percakapan,” ujarnya.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Ketua RT Kampung Sukoyoso, Jarwo, bersama Ketua RW setempat, Agus Wiryanto. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan Wacanan, yakni diskusi dan bedah buku secara santai bersama Erwin Abdillah. Buku yang dibedah berjudul Teman Jalan, yang diterbitkan secara independen oleh penerbit lokal Wonosobo, Bimalukar Kreativa.

Pratika Indah menjelaskan bahwa buku Teman Jalan merupakan karya perdana yang lahir dari proses panjang kegiatan Komunitas Jalan Pintas. Ia menyebut, para penulis dalam buku tersebut adalah para peserta yang sebelumnya mengikuti berbagai kegiatan Jalan Pintas.
“Buku Teman Jalan ini sebenarnya merupakan karya pertama dari Komunitas Jalan Pintas. Penulisnya adalah teman-teman peserta yang pernah mengikuti kegiatan Jalan Pintas sebelumnya, sehingga buku ini lahir dari pengalaman berjalan, berjumpa, dan merekam ingatan bersama,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa buku tersebut mengajak pembaca menyusuri ruang-ruang perjumpaan dan ingatan dari beragam sudut pandang.
“Melalui buku Teman Jalan, kami mengajak menyusuri ruang-ruang ingatan dan perjumpaan, melihat dari berbagai sudut pandang yang bermakna. Lewat 30 penulis yang luar biasa, kita menyelami ingatan dan kenangan bersama,” kata Pratika.
Menurutnya, buku ini melibatkan sekitar 24 penulis dan komunitas yang terlibat dalam proses penulisannya. Lebih lanjut, Pratika menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku dalam Sambung Roso juga menjadi momen peluncuran resmi buku Teman Jalan.
“Di acara bedah buku ini, Teman Jalan juga kami rilis secara resmi. Jadi tidak hanya dibaca dan dibahas, tetapi juga menjadi penanda perjalanan awal karya literasi Komunitas Jalan Pintas,” jelasnya.
Selain diskusi buku, rangkaian acara Sambung Roso juga diisi dengan Dialek Wonosobo, berupa pembacaan dialek lokal sebagai arsip hidup bahasa oleh Bagus AR dari Sanggar Bagaskara. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Swara, yakni eksplorasi bunyi melalui penampilan solo trompet oleh Ranju La Royba yang menghadirkan suasana kontemplatif.

Rangkaian berikutnya adalah praktik Serat Tan Salira, di mana peserta diajak menulis surat untuk diri mereka di masa depan. Surat-surat tersebut akan dikirimkan kembali kepada para peserta pada waktu yang telah ditentukan. Proses menulis surat diiringi oleh white noise yang dibawakan oleh Ervan Muzaki, sehingga menghadirkan suasana reflektif dan hening.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, peserta diajak bernostalgia melalui sesi kartu pos bersama Fatonah dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Wonosobo. Acara kemudian ditutup dengan foto bersama dan menikmati kudapan khas berupa nasi megono.
Pratika Indah menambahkan bahwa kegiatan Sambung Roso juga memiliki makna khusus bagi Komunitas Jalan Pintas.
“Acara Sambung Roso ini juga kami selenggarakan untuk memperingati hari jadi Komunitas Jalan Pintas yang telah memasuki usia tiga tahun,” pungkasnya.
Melalui Sambung Roso, Komunitas Jalan Pintas berharap dapat terus membuka ruang perjumpaan, dialog, dan refleksi bersama, sekaligus merawat ingatan kolektif sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran kebudayaan di Wonosobo. (Aris)
