Novel “Istana Gonong Gonong” , Mengangkat Cerita Epik Komering Minanga.

Palembang|KoranRakyat.co.id — Tiuh (dusun Minanga), sebuah nama komunitas masyarakat hukum adat yang mendiami di antara satu tiuh (dusun) dari 58 etnis komuring yang hidup di aliran sungai Komering yang berhulu dari Gunung Seminung (danau Ranau), Kabupaten Ogan Komering ulu Selatan sampai diperbatasan Gunung Batu perbatasan kabupaten Ogan Komering Ilir Dangan Kabupaten Ogan Komering ulu Timur).
Tiuh Minanga sudah menjadi pusat perhatian para penulis, diantaranya bapak H.M.Arlan Ismail, SH, dengan salah satu bukunya berjudul Periodesasi Sejarah Sriwijaya ( bermula di Minanga Komuring Ulu Sumatera Selatan, Berjaya di Palembang Berakhir di Jambi).
Beliau putra asli etnis tiuh Minanga.
Di tahun 2025 ini, atas prakarsa SAIKU ( satu komuring Minanga), akan meluncurkan sebuah Novel Epik Berjudul ISTANA GONONG GONONG, yang ditulis oleh dua penyusun yang juga putra asli tiuh Minanga, yaitu. H. Irwansyah Mulkan dan H. Albar Sentosa Subari. Yang prolog singkat nya dapat ditelusuri sebagai berikut.
Prolog – Istana Gonong Gonong
Dunia sastra Sumatera Selatan kembali bergemuruh dengan hadirnya karya fiksi epik spiritual berjudul “Istana Gonong Gonong”, hasil kolaborasi dua penulis besar: H. Irwansyah Mulkan dan H. Albar Sentosa Subari.
Novel ini membawa pembaca menelusuri jejak Kerajaan Minanga Purba, sebuah kerajaan megah yang berdiri di bawah kaki Gunung Seminung, diselimuti kabut abadi dan kisah mistik yaris terlupakan. Dari sanalah legenda tentang Indok Minyak Wangi Panglimunan lahir — minyak suci yang konon hanya bisa ditemukan oleh mereka yang berhati bersih dan memiliki garis darah Raja Minanga.
Kisah ini berpusat pada Iswan, sosok muda yang tanpa disadari merupakan titisan Datu Minanga, sang raja terakhir yang lenyap bersama istananya dalam badai spiritual ribuan tahun silam. Di sisinya hadir Maya, titisan sang Permaisuri Mandini yang memegang kunci rahasia Indok Minyak Wangi Panglimunan — pusaka yang dipercaya mampu menghidupkan kembali roh para leluhur dan membuka gerbang antara dunia manusia dan alam ruh.
“Istana Gonong Gonong” bukan hanya kisah cinta dan pengkhianatan, tetapi juga perjalanan jiwa menuju asal mula kehidupan. Dengan latar istana raksasa yang berdiri gagah di bawah bayang Gunung Seminung, para pembaca diajak menyelami filosofi spiritual tentang kekuasaan, keabadian, dan penebusan dosa masa lampau.
Novel ini dipuji banyak kalangan sebagai karya fiksi fantasi epik Nusantara yang menggabungkan unsur budaya Komering, sejarah Sriwijaya, dan nilai-nilai mistik Melayu.
“Indok Minyak Wangi Panglimunan adalah simbol penyatuan jiwa manusia dengan semesta — hanya mereka yang mampu menundukkan diri, akan memahami maknanya,” ujar salah satu pengulas sastra Palembang.
Karya fenomenal ini akan diluncurkan dalam acara Deklarasi SAIKU Minanga di akhir tahun 2025, dan segera tersedia di berbagai platform digital serta toko buku utama.
Apakah Istana Gonong Gonong benar-benar pernah berdiri di bawah kaki Gunung Seminung, dan apakah Indok Minyak Wangi Panglimunan itu nyata adanya?
Jawabannya, dengan membaca sampai Bab Terakhir. (*)
