Menyepurnakan Shalat : Jalan Menuju Khusuk Dan Ditertima Di Sisi Allah SWT

Oleh: Prof Dr H Ir Supli Effendi Rahim
Dosen Universitas Muhammadiyah Palembang
KoranRakyat.co.id –-Shalat adalah ibadah pokok yang menjadi tiang agama dan penentu kualitas seorang Muslim. Kualitas shalat dipengaruhi oleh kualitas iman, yang sifatnya naik-turun.
Tulisan ini mengkaji hubungan antara iman dan shalat, pentingnya khusyuk, kewajiban mempedomani shalat Nabi SAW, serta penerapan konsep shalat terakhir sebagai sarana meningkatkan kualitas ibadah.
Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan tematik dari Al-Qur’an, hadis, dan pandangan ulama salaf. Hasil kajian menunjukkan bahwa shalat yang dilakukan dengan penuh kesadaran, mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, dan seolah-olah menjadi shalat terakhir akan memberikan dampak positif terhadap akhlak dan kehidupan spiritual.
Kata Kunci:Shalat, Khusyuk, Iman, Shalat Nabi, Shalat Terakhir, Akhlak.
Shalat bukan sekadar ritual formal yang dilaksanakan asal tuhgas selesai, melainkan ibadah yang memadukan gerakan, bacaan, dan kesadaran hati. Dalam Islam, iman adalah fondasi shalat. Rasulullah SAW bersabda: “Jika engkau berdiri untuk shalat, maka shalatlah seperti shalatnya seseorang yang berpamitan (shalat terakhir).” (HR. Ibn Majah, no. 4171)
Hadis ini mengajarkan betapa pentingnya kesungguhan, karena iman seseorang tidak selalu stabil —kadang bertambah dengan ketaatan, kadang berkurang karena kelalaian.
Pembahasan
- Shalat sebagai Cermin Iman
Allah SWT berfirman: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (Al-Mu’minun: 1–2)
Para ulama sepakat bahwa khusyuk adalah ruh shalat. Tanpa khusyuk, shalat hanya menjadi gerakan tanpa pengaruh spiritual dan tidak berdampak apa-apa bahkan kelelahan.
- Fluktuasi Iman dan Dampaknya pada Shalat
Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya iman itu bisa usang dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana pakaian menjadi usang. Maka mintalah kepada Allah agar memperbarui iman dalam hati kalian.” (HR. al-Hakim, no. 7841)
Shalat yang dilakukan dalam kondisi iman tinggi akan lebih khusyuk dan berpengaruh pada akhlak.
- Shalat Kita Harus Mempedomani Shalat Nabi Muhammad SAW
Rasulullah SAW bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. al-Bukhari, no. 631)
Hadis ini menjadi landasan utama bahwa setiap detail shalat —mulai dari takbiratul ihram, rukuk, sujud, duduk iftirasy dan tawarruk, hingga salam— wajib mengikuti tuntunan beliau.
- Prinsip Shalat Terakhir
Konsep shalat terakhir mengandung tiga dimensi:
- Kesadaran akan kematian – mengingat bahwa ajal bisa datang kapan saja.
- Konsentrasi penuh – fokus hanya pada Allah selama shalat.
- Memberikan yang terbaik – seakan mempersembahkan ibadah pamungkas.
- Shalat yang Mencegah Fahsyah dan Munkar
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. (Al-‘Ankabut: 45)
Shalat yang benar akan memberi efek moral yang kuat, menjadi benteng dari kemaksiatan.
- Panduan Praktis Menuju Shalat Khusyuk
- Persiapan Fisik & Mental: Wudhu dengan tenang, datang lebih awal, memakai pakaian bersih.
2 Fokus di Takbiratul Ihram: Menghadirkan hati di awal shalat.
- Menghayati Bacaan: Memahami arti ayat dan doa.
- Gerakan Tenang:Menjaga thuma’ninah pada setiap rukun.
- Menghadirkan Ihsan:Berdiri seakan-akan melihat Allah atau disaksikan-Nya.
Nabi SAW bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim, no. 8)
- Shalat di Awal Waktu: Nabi ﷺ bersabda: “Amalan yang paling utama adalah shalat pada awal waktunya.”(HR. Tirmidzi, no. 170)
- Berjemaah: Nabi SAW bersabda: “Shalat berjemaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. al-Bukhari, no. 645)
- Shalat di Tempat Azan Dikumandangkan (Masjid): Para sahabat segera memenuhi panggilan azan dan melaksanakan shalat berjemaah di masjid. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena uzur.” (HR. Ibn Majah, no. 793)
- Apakah Shalat Kita Diterima?
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (At-Taubah: 120)
Seorang hamba wajib berusaha sebaik mungkin dan berprasangka baik kepada Allah. Selama shalat dilakukan dengan ikhlas, sesuai tuntunan Nabi SAW, dan terus diperbaiki kualitasnya, seorang Muslim boleh berharap besar bahwa Allah akan menerimanya.
Shalat adalah barometer iman. Memperbaiki shalat berarti memperbaiki iman. Prinsip mempedomani shalat Nabi SAW, shalat di awal waktu, berjemaah, shalat di tempat azan dikumandangkan, dan menghadirkan perasaan shalat terakhir adalah kunci menuju kekhusyukan dan diterimanya shalat. Allah Maha Baik, tidak akan menyia-nyiakan amal hamba-Nya yang tulus. (*)
