25 April 2024

Pemberantasan Sarang Nyamuk Lebih Penting daripada  Fogging

Oleh : Khusnul Khotimah, S.KM. M.KM.

Promotor Kesehatan Ahli Madya di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan

Kenapa demikian? Karena fogging/pengasapan nyamuk dengan jenis insektisida, dosis dan prosedur yang tidak tepat tidak membuat nyamuk aedes mati, mereka hanya mabuk sebentar, nungging dan terbang lagi. Fogging tergolong dalam pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) secara kimiawi yang menggunakan insektisida. Insektisida adalah racun yang jika tidak digunakan dengan benar akan memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dan organisme bukan sasaran, termasuk manusia.

Kalaupun dosis tepat dan disemprotkan di pemukiman penduduk, hanya nyamuk dewasa yang akan mati, tapi telur dan jentik-jentik yang jumlahnya lebih banyak akan tetap hidup, menetas dan dewasa kembali menggigit untuk menghisap darah manusia. Tubuh manusia sebagai reservoir utama bagi virus dengue yang akan menularkan DBD pada yang lain melalui gigitan nyamuk. Fogging akan sia-sia tanpa PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk), nyamuk aedes dewasa betina akan menelurkan kurang lebih 100 telur nyamuk yang juga terinfeksi. Jadi, bagi pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat daripada meminta Puskesmas atau Dinas Kesehatan melakukan fogging wilayah pemukiman lebih baik dan efektif jika menggunakan kekuatan dan pengaruhnya dalam menggerakkan dan memeberdayakan masyarakat untuk bersama-sama memberantas sarang nyamuk.

Kejadian DBD kurun Januari – Desember 2023 tercatat 2.041 kasus alert yang harus di tindaklanjuti oleh Puskesmas di Provinsi Sumatera Selatan dengan jumlah kematian akibat dengue ini sebanyak 21 kasus, 11 kasus kematiannya dari Kota Palembang. Awal tahun 2024 sebenarnya telah diprediksi akan terjadi ledakan kasus DBD, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan telah mengeluarkan peringatan berupa surat edaran tentang PSN serentak dan Pelaporan KDRS Dengue pada tanggal 8 Januari 2024. Terjadi, bulan Januari belum berakhir tapi kasus DBD di Sumatera Selatan sudah mencapai 700 kasus. Jika dibiarkan akan meningkat cepat seiring dengan musim hujan yang belum berakhir.

PSN 3M Plus

PSN 3M merupakan pilihan yang paling efektif dalam pengendalian vektor DBD melalui kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menguras bak mandi/bak penampungan air, menutup rapat-rapat tempat penampungan air dan memanfaatkan kembali/mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan jentik nyamuk. PSN 3M akan memberikan hasil yang baik apabila dilakukan secara luas dan serentak, terus menerus dan berkesinambungan. PSN 3M sebaiknya dilakukan sekurang-kurangnya seminggu sekali sehingga terjadi pemutusan rantai pertumbuhan nyamuk pra dewasa tidak menjadi dewasa.

Sasaran kegiatan PSN 3M adalah semua tempat potensial perkembangbiakan nyamuk Aedes, antara lain tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari seperti drum, tangki reservoir, tempayan, bak mandi/wc, dan ember dan tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari (non-TPA) seperti: tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut, bak kontrol pembuangan air, tempat pembuangan air kulkas/ dispenser, talang air yang tersumbat, barang-barang bekas (contoh : ban, kaleng, botol, plastik, dll) dan tempat penampungan air alamiah seperti: lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan potongan bambu dan tempurung coklat/karet, dll.

PSN 3M dilakukan dengan cara, antara lain :

  1. Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi/wc, drum, dan lain-lain seminggu sekali (M1)
  2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air, seperti gentong air/ tempayan, dan lain-lain (M2)
  3. Memanfaatkan atau mendaur ulang barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan (M3).

PSN 3M diiringi dengan kegiatan Plus lainya, antara lain :

  1. Mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat- tempat lainnya yang sejenis seminggu sekali.
  2. Memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak
  3. Menutup lubang-lubang pada potongan bambu/pohon, dan lain-lain (dengan tanah, dan lain-lain).
  4. Menaburkan bubuk larvasida, misalnya di tempat-tempat yang sulit dikuras atau di daerah yang sulit air
  5. Memelihara ikan pemakan jentik di kolam/bak-bak penampungan air. (cupang, tampalo, gabus, guppy, dll), sedangkan larva capung (nympha), Toxorrhyncites, Mesocyclops dapat juga berperan sebagai predator walau bukan sebagai metode yang lazim untuk pengendalian vektor DBD.
  6. Memasang kawat kasa
  7. Menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam kamar
  8. Mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruang yang memadai
  9. Menggunakan kelambu
  10. Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk
  11. Cara-cara spesifik lainnya di masing-masing daerah.

Demam Berdarah Dengue (DBD)

DBD adalah penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus dengue yang ditandai demam 2 – 7 hari disertai dengan manifestasi perdarahan, penurunan trombosit (trombositopenia), adanya hemokonsentrasi yang ditandai kebocoran plasma (peningkatan hematokrit, asites, efusi pleura, hipoalbuminemia). Dapat disertai gejala-gejala tidak khas seperti nyeri kepala, nyeri otot & tulang, ruam kulit atau nyeri belakang bola mata.

Menurut hasil penelitian, hanya 1 orang yang menunjukkan gejala khas DHF (Dengue Hemorragic Fever) dan 9 orang lainnya tidak menunjukkan gejala (asimptomatis). Dan hanya 1 orang dari 6 orang yang bergejala mencari pengobatan di fasyankes. Hal ini justru membahayakan, dengan tidak menunjukkan gejala yang khas sering membuat penderita dan keluarganya abai untuk segera mencari pertolongan dan melakukan pengobatan. Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya DBD lebih berat segera datangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk pemeriksaan dan tindakan lebih lanjut.

Penularan

Nyamuk Aedes betina biasanya terinfeksi virus dengue pada saat dia menghisap darah dari seseorang yang sedang dalam fase demam akut (viraemia) yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul. Gejala awal penyakit secara mendadak, yang ditandai demam, pusing, myalgia (nyeri otot), hilangnya nafsu makan dan berbagai tanda atau gejala lainnya.

Penyebab penyakit Dengue adalah Arthrophod borne virus, famili Flaviviridae, genus flavivirus. Virus Dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes (Ae) betina. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan. Seseorang yang di dalam darahnya mengandung virus Dengue merupakan sumber penular Demam Berdarah Dengue (DBD). Virus Dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam.

Aktivitas menggigit nyamuk Aedes aegypti biasanya mulai pagi dan petang hari, dengan 2 puncak aktifitas antara pukul 09.00 – 10.00 dan 16.00 – 17.00. Aedes aegypti mempunyai kebiasaan mengisap darah berulang kali dalam satu siklus gonotropik, untuk memenuhi lambungnya dengan darah. Dengan demikian nyamuk ini sangat efektif sebagai penular penyakit. Setelah mengisap darah, nyamuk akan beristirahat pada tempat yang gelap dan lembab di dalam atau di luar rumah, berdekatan dengan habitat perkembangbiakannya. Pada tempat tersebut nyamuk menunggu proses pematangan telurnya.

Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akan meletakkan telurnya di atas permukaan air, kemudian telur menepi dan melekat pada dinding-dinding habitat perkembangbiakannya. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik/larva dalam waktu ±2 hari. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat menghasilkan telur sebanyak ±100 butir. Telur itu di tempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan ±6 bulan, jika tempat-tempat tersebut kemudian tergenang air atau kelembabannya tinggi maka telur dapat menetas lebih cepat.

Ciri-ciri nyamuk Aedes dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain dan mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badan dan kaki. Bulu antena nyamuk Aedes dewasa betina tidak lebat. Nyamuk ini menyukai tempat – tempat dan air yang bersih, bukan got atau selokan yang kotor.

Grafis :

Jumantik

Dengan memahami proses penularan DBD melalui nyamuk Aedes, sangat penting untuk memastikan tempat – tempat penyimpanan air bebas dari telur dan jentik nyamuk. Jika angka bebas jentik (ABJ) lebih atau sama dengan 95% maka kegiatan PSN 3M dianggap berhasil dan diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.

 

Keberadaan juru pemantau jentik (jumantik) sangat penting untuk mengendalikan nyamuk Aedes, Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) bisa digalakkan untuk memberdayakan setiap keluarga di rumah tangga masing-masing. Setiap rumah tangga memiliki satu orang penanggungjawab kegiatan PSN 3M Plus di rumahnya. Melalui Gerakan ini diharapkan semua keluarga :

  1. Melaksanakan kegiatan pemantauan jentik dan PSN 3M Plus secara rutin sekurangnya seminggu sekali.
  2. Melakukan pencatatan hasil pemantauan jentik di rumah pada kartu jentik.
  3. Mengenal tanda dan gejala DBD sehingga segera melakukan pemeriksaan kepada petugas kesehatan jika ada anggota keluarga yang diduga menderita penyakit DBD.
  4. Melaporkan kepada RT/RW, Kepala Desa/Kelurahan, jika ada anggota keluarga yang diduga menderita penyakit DBD, agar dilakukan penggerakan masyarakat di sekitarnya guna mencegah meluasnya penularan penyakit ini.
  5. Membantu kelancaran pengendalian vektor penyakit DBD yang dilakukan oleh petugas kesehatan.

 

Gerakan PSN 3M Plus dilaksanakan dengan cara memotivasi masyarakat (keluarga dan pengelola tempat- tempat umum) untuk melaksanakan kegiatan pemberantasan jentik nyamuk di rumah dan lingkungannya masing-masing untuk mengendalikan peningkatan kasus DBD.