20 Mei 2024

Tindak Lanjut Kunker Kemehub, Bupati Natuna Adakan Audiensi ke Kantor Kemenhub Jakarta

KR Natuna -Sebagai tindak lanjut kunjungan Menteri Perhubungan Indonesia, Budi Karya Sumadi beserta rombongan dalam rangka Kunjungan Kerja di Kabupaten Natuna (08/02/2024) lalu  dan upaya mendapatkan dukungan untuk penguatan Sumber Daya dalam bidang perhubungan, Pemkab Natuna melakukan audiensi di Kementerian Perhubungan , Jakarta, Jum’at (23/2/2014).

Tampak Bupati Natuna Wan Siswandi memimin rombongan  dan disambut langsung oleh Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Kementerian Perhubungan, di Kantor Kementerian Perhubungan.

” Tujuan dari audiensi ini adalah untuk meminta dukungan penguatan sumberdaya yang berkaitan dengan Perhubungan. Kedatangan kami hari ini tentunya untuk meminta dukungan bagaimana putra putri daerah Kabupaten Natuna dapat mendapatkan pendidikan yang tentunya berkaitan dengan Kementerian Perhubungan,” kata Wan Siswandi.


Sementara itu, Kepala BKPSDM Kementerian Perhubungan, Wisnu menyampaikan, dengan kondisi geografis Kabupaten Natuna yang sebagian besar adalah laut, maka pendidikan bagi putera daerahnya juga harus menyesuaikan.

“Karena Natuna secara geografis didominasi wilayah laut, sehingga sekolah pelayaran adalah pilihan yang tepat, sebagai wilayah kepulauan mungkin pilihan lainnya adalah penerbangan. Sehingga potensi potensi ini dapat dilakukan pemetaan penguatan sumberdaya yang tepat,” jelas Wisnu.Ada berbagai skema kerja sama yang dapat dilakukan baik dari segi pendidikan, termasuk pengadaan formasi profesional yang berkaitan dengan Kementerian Perhubungan.’

 

Bupati Natuna minta 4 hal ke menhub Budi karya sumadi saat kunker ke Natuna.

Natuna sebagai wilayah kepulauan menggunakan transportasi laut sebagai transportasi utama untuk bepergian dan logistik, seperti Transportasi darat dan udara belum mampu menjangkau berbagai pulau di wilayah Natuna sehingga mayoritas masyarakat di Natuna menggunakan kapal untuk melakukan perjalanan.

Kabupaten Natuna terdapat satu pelabuhan ferry sungai di Binjai, satu pelabuhan kelas kapal perintis di Penagi, satu pelabuhan kapal kelas kapal motor, beberapa pelabuhan nelayan kecil untuk melaut,dan Pelabuhan kapal besar di Selat Lampa.

Bupati Natuna, Wan Siswandi menyampaikan kebutuan Natuna yaitu :

1. Perlunya penunjang sarana dan prasarana Pelabuhan Selat Lampa yang memadai sebagai pelabuhan kelas kapal besar.

“Alhamdulillah kami Natuna mempunyai sebuah pelabuhan untuk bersandar kapal-kapal besar tapi untuk saat ini sarana dan prasarananya masih belum memadai seperti ruang tunggu penumpang yang kapasitasnya masih kecil sedangkan kebutuhan ruang tunggu bisa sampai ratusan hingga ribuan penumpang. Tentu kita juga perlu pelabuhan kelas 1 yang bisa menampung ribuan penumpang,” ujar Bupati Natuna, Wan Siswandi.

2. Kemudian Bupati Natuna juga mengharapkan dengan adanya fasilitas yang memadai akan membuat banyak sering bersandar dan membuat traffic datang/pergi ke Natuna semakin tinggi Intensitasnya.

“Kami mengharapkan kepada Kementerian Perhubungan agar mungkin bisa secepatnya merealisasikan pembangunan fasilitas sarana dan prasarana penunjang Pelabuhan Selat Lampa agar nantinya banyak kapal yang pergi ke Natuna dan akan meningkatkan perekonomian dari segi logistik dan pariwisata dengan banyaknya pengunjung yang berkunjung ke Pulau Indah ini,” tambah Bupati Natuna, Wan Siswandi.

Menteri Perhubungan Indonesia, Budi Karya Sumadi menyampaikan bahwa Natuna sebagai daerah kepulauan perbatasan dan terluar harus mempunyai fasilitas pelabuhan yang memadai dengan sarana dan prasarana yang baik agar Tol Laut menjadi maksimal serta para penumpang nyaman.

“Saya senang bisa melihat keindahan Natuna yang di mana Natuna ini merupakan daerah kepulauan dan berbatasan langsung dengan sembilan negara. Tentu sesuai arahan Presiden Jokowi bahwa Tol Laut menjadi prioritas utama untuk transportasi manusia dan logistik. Tentu nantinya kami dari Kementerian Perhubungan akan segera merealisasikan program pembaharuan Pelabuhan Selat Lampa ini agar nantinya pelayanan pelabuhan menjadi maksimal,” ujar Menteri Perhubungan Indonesia, Budi Karya Sumadi.

 

2017  Sempat Ada Wacana Angin segar dari Kemenhub Untuk Natuna

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan akan mengalihkan kapal ro ro yang berada di Pelabuhan Merak ke Natuna dan Indonesia bagian timur secara bertahap. Menurutnya, hal tersebut dilakukan karena berdasarkan laporan dari pengusaha kapal RoRo di Merak, jumlah kapal ro ro di Merak ada 60 dengan tingkat okupansi hanya 40%.

“Oleh karena itu saya tegas minta kualifikasi besaran kapal, kecepatan kapal, dan usia kapalnya dan secara bertahap, akan kita alihkan ke Natuna dan Indonesia bagian timur,” ujar Menhub saat menjadi pembicara pada diskusi panel dengan topik “Menyukseskan Tol Maritim RoRo Service Jakarta-Surabaya di Hotel Mandarin Oriental Jakarta, Selasa (4/7/2017)lalu

Sementara itu, terkait pengoperasian kapal RoRo untuk mengurangi beban jalan di jalur Pantura, Menhub menyatakan hal tersebut merupakan suatu inisiasi yang harus didorong dan didukung untuk menjadikan industri yang nantinya bisa memberikan kemakmuran bagi bangsa.

Hingga peretengahan 2017 sudah ada kapal RoRo trayek Tanjung Priok – Panjang (Lampung) untuk mengurangi beban jalan raya dan mempersingkat waktu distribusi logistik. Selain itu, Kementerian Perhubungan telah mengembangkan konsep penyeberangan jarak jauh (long distance ferry) lintas Jakarta-Surabaya. Sedangkan lintas Surabaya-Lembar untuk mengurangi beban jalan raya sepanjang pantura dan pulau Bali telah dilayani KMP. Legundi (5.000 GT) milik PT ASDP Indonesia Ferry mulai tanggal 1 Desember 2016 dengan jadwal 3 kali keberangkatan dalam 2 minggu.

Pada Juli 2017, layanan kapal RoRo Jakarta-Surabaya bertambah. Layanan tersebut akan dioperatori oleh PT Jagat Zamrud Khatulistiwa.

Menhub menambahkan, perjalanan darat Jakarta-Surabaya dengan jarak 765 km untuk kendaraan (truk) barang rata-rata ditempuh selama 1,5 hari sampai 2 hari, sedangkan apabila melalui laut (kapal) dapat ditempuh selama 1,2 hari (29 jam) dengan kecepatan 15 knot.

“Hingga saat ini, terdapat 12 ribu truk yang melintasi Jakarta-Surabaya sehingga menyebabkan kondisi jalan yang cepat rusak dan kemacetan. Oleh karena itu, kapal RoRo menjadi solusi atas permasalahan tersebut,” jelas Menhub.

Sejalan dengan hal tersebut, Menhub mengatakan, penggunaan kapal untuk angkutan logistik lebih ekonomis dibanding menggunakan jalan. Sebab sparepart, ongkos jalan tol dan solar lebih irit, serta terhindar dari pungutan liar di jalan.

Menhub juga berharap agar ukuran kapal RoRo dan kecepatan kapal diatur dengan baik karena apabila kecepatannya di bawah 10 knot, tetap tidak akan kompetitif dengan jalur darat.

Dengan beroperasinya kapal RoRo jarak jauh, Menhub menambahkan, pergerakan barang ke Pelabuhan Tanjung Priok menjadi meningkat. Dengan begitu, Pelabuhan Tanjung Priok sebagai hub internasional, akan banyak didatangi oleh kapal besar.

“Pelabuhan Tanjung Priok sebagai hub internasional juga akan tumbuh, yang tadinya arus kontainernya mencapai 6 juta Teus, dalam 2 atau 3 tahun ini dapat meningkat menjadi 12 juta Teus,” ujar Menhub.

Menhub mengatakan sesuai dengan berjalannya program Tol Laut yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, Menhub berharap harga barang menjadi lebih murah di seluruh tanah air. Dengan laut pemerataan ekonomi akan tercapai.

“Saya berdiskusi dengan teman-teman di Tual dan Saumlaki, mereka senang karena mempunyai opsi untuk berdagang dan mendapatkan barang dengan harga murah,” papar Menhub.

Menhub mengakui masih terdapat kekurangan dalam program tol laut tersebut yaitu kosongnya kapal dari Indonesia bagian timur ke barat. Menurutnya, para pengusaha seharusnya bisa mengembangkan industri misalnya ikan atau rumput laut sehingga kapal dari timur bisa terisi yang nantinya meningkatkan perekonomian di wilayah Indonesia timur.

“Dengan 13 rute tol laut yang sudah ada sekarang ini, kita akan dorong terus. Makanya kita juga bangun Rumah Kita untuk mengumpulkan dan mendistribusikan secara bertahap barang-barang,” tegas Menhub.

Menhub berharap okupansi dari kapal-kapal tersebut terus bertumbuh dengan adanya industri serta penguatan industri perdagangan di daerah-daerah tujuan kapal tol laut tersebut. (red)