Isi Malam Tahun Baru Masehi dengan Muhasabah

INDRALAYA|KoranRakyat co.id—TRADISI merayakan malam tahun baru Masehi dengan aktifitas hura-hura, berusaha untuk di rem oleh pengurus MSDI (Majelis Silaturrahmi dan Dakwah Islam) Kabupaten Ogan Ilir (OI). Bekerjasama dengan pengurus Masjid Al-Khoiriyah Indralaya, mereka menggelar kegiatan muhasabah atau refleksi dan introspeksi terhadap apa yang dilakukan selama tahun 2023.

Tampil sebagai pembicara antara lain Drs KH Ahmad Nahrowi, MM, Anggota Dewan Syuro PC NU Ogan Ilir, Ki Abdul Gofar Ruslan, Ketua MSDI, Ketua LPTQ, dan Waketum MUI OI, KH Mukhlis Mansyur, Dewan Penasihat MSDI dan MUI, serta Drs H Ahmad Syafei, S.Ag, Wakil Ketua MSDI OI.
Selain itu juga hadir penggagas acara, Ustadz Gusti M Ali, Dr Zainal Fanani, dan Drs H Iklim Cahya, MM. Kemudian hadir juga sekitar 50 orang jemaah masjid yang terletak di Jalan Tanjung Raya TPI itu.

Menurut Gusti Ali, acara muhasabah ini untuk menunjukkan kepada publik khususnya anak-anak muda, bahwa merayakan tahun baru lebih baik diisi dengan kegiatan keagamaan, atau kegiatan yang bermanfaat yang tidak melanggar ajaran agama. Baik itu tahun baru hijriyah maupun tahun baru miladiyah. Karena itulah pihaknya menginisiasi acara muhasabah tersebut, bekerjasama dengan pengurus masjid Al-Khoiriyah. Kendati gemanya belum dirasakan, tapi mudah-mudahan hal ini bisa jadi role model aktifitas mengisi malam tahun baru, harap Gusti.
Sementara KH A. Nahrowi sebagai pembicara utama mengapresiasi kegiatan muhasabah tersebut, yang banyak manfaatnya bagi masyarakat. Nahrowi mengajak masyarakat untuk senantiasa melakukan muhasabah diri, bukan hanya pada moment-moment tertentu. “Muhasabah diri diperlukan supaya apa yang lalai dan salah yang pernah kita lakukan dapat secepatnya diperbaiki,” ujar mantan Ketua PCNU OI ini.

Sedangkan Ki Abdul Gofar Ruslan, menjawab pertanyaan salah seorang jemaah mengenai dakwah di desa-desa pelosok, menurutnya hal ini sering dilakukan pihaknya. Seperti beberapa waktu lalu, bekerjasama dengan Ponpes Raudhatul Ulum Sakatiga. Menurut Abdul Gofar, dakwah ke desa-desa memang sangat diperlukan. Hanya terkadang masih dijumpai, ada tokoh agama di desa-desa kurang menerima tampilnya dai-dai mudah menjadi petugas imam dan khotib di masjid desa mereka.
Hal senada juga dikatakan Ustadz Ahmad Syafei. Menurutnya, perlu untuk semakin menggencarkan ulama turba ke desa-desa pelosok. Karena untuk di desa-desa pelosok imam dan khotib, sangat terbatas.
Acara muhasabah ini diakhiri dan foto bersama, serta makan burgo. (ica)
