30 Januari 2023

Stok dan Distribusi BBM di SPBU, Pangkal Masalah Antrean Panjang Kendaraan

PALEMBANG | Koranrakyat.co.id — PASCA kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang resmi diumumkan Pemerintah RI pada 3 September 2022 lalu, ternyata antrean kendaraan para pengguna BBM di sejumlah Stasiun Pengisian Bakar Umum (SPBU) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) masih tetap tidak berubah. Antrean kendaraan yang akan mengisi BBM di SPBU, tetap panjang alias “mengular” sama saja dengan sebelum harga BBM dinaikkan.

Dari pantauan wartawan Koran Rakyat. co.id bersama sejumlah wartawan yang tergabung dalam Komunitas Wartawan Peduli Sumber Daya Alam (Warpesda) pada sejumlah SPBU, antrean kendaraan konsumen terjadi untuk pengguna BBM jenis Pertalite (bensin) dan jenis Solar. Sedangkan untuk jenis Pertamax, Dexlite, Pertamina Dex yang harganya jauh lebih mahal, tidak terlihat antrean, bahkan hampir tidak terlihat yang membelinya, kecuali kalau pertalite dan solar lagi kosong (tidak tersedia) di SPBU tersebut.

Apa sebetulnya penyebab semua ini?  Dari pantauan di lapangan terlihat bahwa stok (persediaan) dan distribusi (penyaluran) BBM jenis pertalite dan solar di SPBU masih belum sesuai dengan harapan, sehingga terkesan mengalami kelangkaan. Stok yang masih kurang karena ada pengurangan kuota, serta distribusi BBM inilah yang dinilai menjadi pangkal masalah penyebab antrean panjang tersebut. Ditambah lagi kendaraan besar yang seharusnya tidak boleh menggunakan BBM bersubsidi, juga ikut memanfaatkan BBM tersebut. Dan kondisi ini terjadi jauh sebelum pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM.

Informasi yang didapat wartawan dari petugas di sejumlah SPBU menyebutkan, saat ini jatah (kuota) BBM bersubsidi (Pertalite dan Solar) yang dikirim pihak Pertamina ke SPBU mereka, terus mengalami penurunan/pengurangan. Kalau dulu jatah (kuota) yang dikirim mencapai 24.000 liter (24 ton) setiap harinya, tapi kini hanya 16.000 liter bahkan 8.000 liter saja per hari.

Akibat persediaan BBM yang menurun ini, di beberapa SPBU juga terlihat pompa yang bisa difungsikan juga tidak maksimal. Misalnya dari lima pompa yang ada, yang berfungsi melayani konsumen hanya dua pompa saja.
Hal ini juga menjadi penyebab terjadinya antrean cukup panjang. Ironisnya lagi bagi kendaraan yang menggunakan solar, tidak jarang harus menunggu berjam-jam atau bahkan seharian, dikarenakan Solar tidak tersedia, menunggu distribusi dari pihak Pertamina. Disaat hal ini terjadi maka antrean sangat panjang hingga ke jalan raya mengganggu arus lalu lintas. Apalagi kebanyakan kendaraan pengguna solar ini jenis truk baik besar maupun kecil.

Antrean kendaraan yang panjang ini, baik kendaraan roda empat maupun roda dua yang setiap hari mewarnai sejumlah SPBU, diharapkan tidak terjadi lagi pasca kenaikan harga BBM. Namun faktanya antrean kendaraan tersebut masih terjadi, bahkan terkesan BBM jenis Solar dan Pertalite mengalami kelangkaan, karena distribusi tidak menentu waktunya. Kadang datangnya pagi, bahkan sore hari, ujar petugas SPBU.

Seperti terpantau di SPBU 24.306.26. yang sering disebut masyarakat SBPU TPI (Perumahan Taman Permata Indah) Indralaya KM 36, tetap sulit untuk mendapatkan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, namun untuk BBM non subsidi yakni Pertamax dan Dexlite tetap ada/tersedia .
“Kami setiap harinya hanya diberi jatah atau kuota oleh Pertamina 8.000 liter untuk Pertalite dan Solar, jenis BBM bersubsidi,’’ kata Desi Staf Administrasi SPBU, Jumat. 9 September 2022 lalu.

Desi mengatakan, kuota jenis Pertalite dan Solar per hari sebanyak 8.000 liter ini sudah lebih dari 1 tahun, sebelumnya pernah diberi jatah 16.000 liter hingga 24.000 liter per hari, tuturnya.

“Namun sejak subsidi dibatasi, saat ini kami hanya diberi jatah oleh Pertamina hanya 8.000 per liter per hari, jelas jumlah ini sangat kurang dengan kebutuhan masyarakat, dan masalah ini hampir sama dialami semua SPBU,’’ ungkapnya.

Sedangkan untuk BBM non subsidi seperti Pertamax, lanjut Desi, tidak ada masalah,’’ Berapapun kami minta jatah ke Pertamina , pasti dipenuhi ‘’kata Desi seraya mengatakan, SPBU 24.306.26 memiliki 7 pompa,’’ Dari 7 Pompa, hanya 5 beroperasi, 2 Pompa mengalami kerusakan,’’ tuturnya.

Senada terjadi di SPBU 24.306.177, dekat pintu Tol Palindra, Indralaya , juga terjadi kelangkaan sejumlah BBM. ’’Bukan kelangkaan Pak, melainkan BBM yang kami pesan dari Pertamina belum datang, makanya kosong saat ini, ‘’ kata Ujang Asisten Pengawas SPBU 24.306.177.

Ujang mengatakan, bahwa sejak pertengahan Agustus 2022 lalu SPBU ini hanya mendapat kuota sebanyak 16.000 liter perharinya untuk BBM Subsidi seperti Pertalite. “Kami hanya menjual Pertalite, Pertamax dan Dexlite, sedangkan solar kami tidak menjual,’’jelas Ujang.

Namun, sebelum Agustus lalu, SPBU yang diawasinya ini mendapat kuota sebanyak 20.000 liter per hari,’’ Jadi sebenarnya BBM di SPBU ini tidak mengalami kelangkaan, hanya saja kedatangan sering terlambat , makanya beberapa jam sering terjadi kekosongan, sehingga konsumen menganggap terjadi kelangkaan,’’ ujar Ujang.

Pendistribusi BBM memang waktunya tidak menentu lanjut Ujang. “Kadang masuk pagi, sehingga siang kehabisan, kadang datang malam, besok paginya masih ada , dan memang kadang terjadi kesalahan sistem pemesanan di Pertamina, inilah yang membuat pengiriman terlambat, atau bisa jadi pihak pertamina melakukan skala prioritas ke sejumlah SPBU di Palembang untuk didahulukan,’’ jelasnya.

Sedangkan kuota untuk Pertamax SPBU ini yang memiliki lima Pompa dan hanya dua beroperasi hanya memesan 8.000 liter perharinya. “Untuk 8.000 liter jenis Pertamax tidak habis satu hari,’’ tukasnya

Masalah kuota BBM yang dikirim dari Depo Pertamina ke SPBU di Ogan Ilir, menurut Aan perwakilan Pertamina dalam FGD yang diadakan Polres OI di Aula Utama LPMP belum lama ini, tidak ada masalah. Karena untuk kuota SPBU di OI sudah dinaikkan hingga 27,5 persen. Menurutnya kelangkaan diperkirakan karena banyaknya konsumen yang membeli BBM jenis Solar dan Pertalite di SPBU dalam wilayah Kabupaten Ogan Ilir.

Sedangkan Kapolres OI, AKBP Andi Baso Rahman, meminta agar supply dan distribusi BBM ke SPBU yang ada supaya berjalan lancar. Termasuk pelayanan kepada konsumen oleh petugas di SPBU supaya dilakukan dengan maksimal. Jangan sampai terkesan lambat dan bertele-tele, supaya lamanya antrean dapat diatasi, pintanya.

Sementara kuota pengiriman BBM bersubsidi di SPBU 24.306.106 yang terletak di kawasan Muara Meranjat Desa Meranjat III, Indralaya Selatan, Ogan Ilir, juga mengalami penurunan. Rata2 untuk jenis Pertalite dan Solar dikirim sebanyak 16.000 liter/hari, sekitar 50 persen dari kapasitas tangki yang memiliki daya tampung 32.000 liter. Sedangkan untuk BBM jenis Pertamax rata-rata dikirim 8.000 liter per hari, atau bisa juga lebih sesuai permintaan.

Menurut Rian (29), Pengawas SPBU Muara Meranjat, BBM di SPBU tersebut rata-rata habis terjual pada sore hari, kalau supply dari Pertamina masuk pagi hari. Kecuali kalau pengiriman dari Pertamina baru masuk sore atau malam hari, tentu akan tersedia malam hingga pagi hari, tuturnya.

Kondisi hampir serupa juga terjadi di SPBU 24.306.28 Tanjung Raja. Menurut, Firnawan (32), Pengawas SPBU tersebut, kuota Pertalite sebanyak 16.000 liter/hari dari kapasitas tangki 30.000 liter. Sedangkan untuk jenis Solar, kuota yang mereka terima per harinya hanya 8.000 liter dari daya tampung 15.000 liter. Sementara untuk Pertamax, sama halnya dengan di SPBU Muara Meranjat, akan dikirim oleh pihak Pertamina, sebanyak yang mereka pesan.

Begitu juga yang terpantau di SPBU 24. 306.33 di Desa Pulau Semambu Kecamatan Indralaya Utara. Kuota juga dikurangi oleh pihak Pertamina. Menurut Asisten Pengawas, Solindra, untuk Pertalite setiap hari dikirim 8.000 liter, dari kapasitas 45.000 liter. Bahkan untuk pengiriman Solar sementara ini dihentikan, karena SPBU tersebut lagi berikan sanksi, karena lalai dalam melengkapi data pelat kendaraan serta jumlah pembelian oleh kendaraan tersebut. Hal itu dikarenakan SPBU tersebut sudah menerapkan sistem digital. Namun sebelumnya SPBU Pulau Semambu ini untuk solar mendapat kuota 16.000 liter dari Pertamina, dari kapasitas tangki 45.000 liter.

Selain di SPBU dalam Kabupaten Ogan Ilir (OI) kondisi yang sama juga terlihat di SPBU di Kota Prabumulih. Dari pemantauan di SPBU 24.311.125 Kelurahan Patih Galung Kota Prabumulih, Kamis sore, tanggal.15 September 2022, stok BBM jenis Pertalite dan Solar juga sebanyak 8.000 liter. Begitu juga stok Pertamax.

Menurut Supervisor SPBU Patih Galung, Jaylani, sejak dulu hingga saat ini, dalam satu hari menghabiskan 8.000 liter (8 KL) untuk semua jenis BBM yang tersedia di SPBU tersebut (Pertalite, Solar, dan Pertamax).

Diakuinya, jumlah 8.000 liter tersebut bukan keinginan pihak SPBU melainkan pembatasan dari pihak pemasaran Pertamina. Kapasitas daya tampung SPBU 30.000 liter untuk setiap jenis BBM, namun pihak Pertamina hanya memenuhi 8.000 liter per hari.

“Untuk BBM bersubsidi memang permintaan kita dibatasi kuotanya dari Pertamina. Jadi tidak bisa melebihi kuota yang diberikan,” tutur pria yang akrab disapa Pak Jay itu.

Ditambahkan Pak Jay, dengan kuota yang diberikan pihak Pertamina, pengirimannya lancar. Hanya masalah pembongkaran atau datangnya BBM di SPBU waktunya tidak menentu. Pihaknya tidak bisa mengontrol waktu pengantaran pesanan oleh pihak Pertamina, tukasnya. (ica)

Saran Pembenahan ;

1. Penuhi Kuota SPBU
2. Distribusi BBM ke SPBU harus tepat waktu. (Bila perlu dikawal Aparat)
3. Semua Pompa Harus diaktifkan
4. Pelayanan di SPBU harus maksimal. Satu pompa dilayani setidaknya oleh dua petugas.

Lewat ke baris perkakas