21 Juli 2024

Niat Ibadah di Balik BPJS, Jaminan Keselamatan dan Kesehatan Abadi Bagi Peserta dan Pengelola

Oleh : Ahmad Humaidi – Wartawan koranrakayat.co.id

Para pendiri negeri RI telah meletakkan dasar-dasar bernegara bagi warga negara terdiri dari lima sila, di mana sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Dipertegas dalam UUD 1945 Pasal 29 yaitu bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Dengan demikian apapun perbuatan baik pejabat2 pemerintahan khususnya dan warga negara umumnya untuk kebaikan negerinya adalah ibadah. Inilah yang dimaksud dengan beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya.

Itu sebabnya memberikan iuran BPJS setiap bulannya adalah perbuatan baik yang bisa diniatkan sebagai ibadah. Sebab iurannya bisa dimanfaatkan bukan saja untuk menjaga kesehatan dirinya dan keluarganya tapi juga orang2 lainnya.

Dalam pengelolaannya, BPJS serupa bisnis asuransi berbentuk kerja sama dua pihak yang saling menguntungkan. Hanya saja bedanya BPJS melibatkan pemerintah secara langsung dengan yang mewajibkan setiap warga negara menjadi peserta BPJS. Hal ini tidak pada bisnis asuransi2 yang ada.

Berkaitan dengan kewajiban iuran BPJS maka dalam Islam ada kewajiban berzakat, berinfak dan bersedekah. Kewajibannya selalu disandingkan dengan kewajiban shalat. Berarti juga siapa2 berinfak dan bersedekah hendaknya juga menegakkan shalat. Tertulis dalam Alquran surat Albaqarah ayat 110: “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat….”

Tampak ada kemiripan iuran BPJS dengan kewajiban zakat. Kemiripan paling nyata didapatkan pada kewajiban berinfak dan bersedekah. Dalam hal ini besaran iuran BPJS bisa sama dan bisa juga berbeda dengan besaran infak dan sedekah. Pasalnya besaran infak dan sedekah ditentukan kebijakan penganutnya itu sendiri dan bisa juga kebijakan pemerintah atau ulil amri minkum.

Itu sebabnya niat ibadah di balik iuran BPJS bisa terpenuhi dengan memberlakukan iuran BPJS layaknya infak atau sedekah. Besaran iuran sesuai kemampuan setiap warga negara. Tersedia tiga pilihan besaran iuran BPJS per bulannya. Yaitu: untuk Kelas 1 sebesar RP 150.000,- per orang, Kelas 2 sebesar Rp 100.000,- per orang, dan Kelas 3 sebesar Rp 35.000,- per orang.

Niat ibadah di balik iuran BPJS memberi jaminan keselamatan dan kesehatan kepada warga negara beragama Islam bukan saja di dunia tapi juga di akhirat. Bahkan jaminan di akhirat berlaku selama-lamanya alias abadi sedangkan di dunia hanya sementara.

Keselamatan dan kesehatan itu didapatkan dari makna kata “sehat”. Berasal dari bahasa Arab yaitu “ash-shihhah” yang berarti sembuh, sehat, selamat dari cela, nyata, benar, dan sesuai dengan kenyataan.

Adapun sinonim “ash-shihhah” adalah “al-afiah” yang berarti “ash-hihhah at-tammah” alias sehat yang sempurna. Keduanya seringkali digabungkan menjadi satu yaitu “ash-shihhah dan al-afiah”. Dalam bahasa Indonesia menjadi “sehat wal afiat” atau sehat secara sempurna. Dan sehat secara sempurna hanya didapatkan manusia di akhirat kelak dalam surgaNya.

Allah Pemilik Dunia Akhirat yang memberikan jaminan keselamatan dan kesehatan bagi peserta BPJS yang berniat ibadah melalui infak dan sedekah berbentuk iuran BPJS. Tertulis dalam Alquran Surat Attaubah ayat 111: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka…..”

Beramal baik shalat dan zakat termasuk infak, sedekah dan iuran BPJS di dalamnya adalah premi dari tertanggung (ibarat peserta BPJS) kepada Allah sebagai Penanggung (ibarat penggelola BPJS) selama hidupnya di dunia. Penanggung barulah memberikan keselamatan dan kesehatan abadi bila tertanggung berakhir hidupnya di dunia berupa keselamatan dan kesehatan dalam surga atau kehidupan abadi yang tidak pernah ada susah2nya.

Jaminan keselamatan dan kesehatan selama-lamanya itu didapatkan bilamana peserta BPJS tidak melupakan apalagi menolak shalat. Jadi tetaplah shalat setiap harinya dan membayar iuran BPJS sebagai infak dan sedekah setiap bulannya.

Niat ibadah di balik iuran BPJS tidak hanya berlaku atas tertanggung atau peserta BPJS melainkan juga penanggung atau pengelola BPJS. Berlaku bilamana pengelola BPJS meniatkan ibadah dalam mengelola iuran2 peserta BPJS. Karenanya pengelola BPJS juga akan mendapatkan jaminan keselamatan dan kesehatan di dunia dan di akhirat dari Allah sebagai Penanggung. Asalkan menunaikan shalatnya sebagai premi hariannya.

Dengan shalatnya itu, pengelola BPJS bisa terhindar dari perbuatan korupsi, mark up dan berbagai penyelewengan keuangan untuk kesenangan pribadi dan kelompoknya. Bukankah shalat mencegah perbuatan keji dan munkar? Tertulis dalam Alquran Surat Alankabut ayat 45: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”

Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bilamana peserta BPJS dan pengelola BPJS menjadikan niat ibadah dalam perbuatan2 baiknya di balik BPJS? Tentu keuntungan dan manfaat dari iuran BPJS yang dianggap sebagai infak dan sedekah akan menjadi besar dan sebesar-besarnya dalam mensejahterakan rakyat. Meski keuntungan dan manfaat sebesar-besarnya di dunia ini masih tetap jauh lebih kecil dibandingkan dengan keselamatan dan kesehatan abadi di akhirat kelak yang dijanjikan Allah. Ibarat setetes air dibandingkan dengan luasan air laut tidak bertepi.

Peserta dan pengelola BPJS yang tetap menjaga shalatnya memungkinkan munculnya ide2 besar dan temuan2 baru dalam perkembangan iptek kesehatan dan pemberantasan penyakit. Terbuka peluang lahirnya ilmuwan2 besar seperti Ibnu Sina di Arab atau Avicenna di Barat yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern. Kejadian di masa lalu bisa berulang lagi di masa sekarang saat manusia2 telah menjadikan perbuatan2 baiknya sebagai ibadah untuk mengagungkan Tuhannya.***

**) Karya tulis ini merupakan bukti kepersertaan penulis pada Lomba Karya Jurnalistik Program JKN-KIS & BPJS Kesehatan, Tahun 2022.