Tehnologi Komunikasi: Menghapus Teknologi Usang 2G

Oleh: Moch S Hendrowijono
Mantan Editor Harian Kompas, pengamat masalah telekomunikasi.
KoranRakyat.co.id —Penerapan layanan seluler generasi kelima, 5G, tampaknya masih terganjal layanan 2G yang teknologinya kuno, boros dan tidak efisien. Teknologi 2G sangat “rakus” makan frekuensi terutama di rentang 900 MHz. Padahal 900 MHz juga jadi spektrum emas bersama frekuensi 700 MHz.
Layanan 2G menggunakan frekuensi selebar 25 MHz di rentang 900 MHz yang dimiliki Indosat 10 MHz, dan Telkomsel serta XLSmart masing-masing memiliki sisanya, 7,5 MHz, tetapi milik XLSmart harus dikembalikan ke pemerintah Desember mendatang sebagai efek merger XL Axiata dan Smart Telecom April tahun lalu.
Teknologi kuno 2G, dengan kapasitas (MHz – megahertz) yang hanya 20% dari kapasitas 4G dan 10% dari kapasitas 5G, biaya operasi 2G mencapai 40% lebih mahal dibanding biaya 4G LTE dan 60% di atas biaya operasi 5G. Nilai ekonominya pun sama, kontribusi 2G hanya 40% jika digunakan untuk 4G LTE dan 10% saja jika digunakan untuk 5G.
Semua operator kini sudah punya spektrum 5G selebar 260 MHz di rentang 700 MHz (70 MHz) dan di 2600 MHz selebar 190 MHz. Di frekuensi rendah (low band) 700 MHz XLSmart punya 30 MHz, Indosat 20 MHz dan Telkomsel selebar 20 MHz, di mid band (frekuensi menengah) 2600 MHz, XLSmart punya 50 MHz, Indosat 60 MHz dan Telkomsel 80 MHz.

Namun Telkomsel baru menggunakan spektrum 2600 MHz pada minggu kedua Oktober pada perhelatan Moto GP Mandalika, Lombok, selain masih pakai DSS (dynamic spectrum sharing – menggunakan spektrum bersama secara dinamis) di cakupan-cakupan lain, di spektrum 2100 MHz. DSS tidak mungkin mencakup secara nasional, hanya ada, misalnya, di sekitaran pusat layanan, GraPari, bandara, tempat keramaian dan sebagainya,
Juga Indosat (-Ooredoo Hutchison), saat membuka layanan 5G di Depok (Jawa Barat) dan Banjarmasin dan Banjarbaru (Kalimantan Selatan) 19 Oktober lalu, masih menggunakan DSS di spektrum 1800 MHz. Indosat sudah memberi layanan 5G itu di puluhan bagian kota, di Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan Sulawesi.
Tidak sederhana

Layanan 5G sepenuhnya baru XL Ultra 5G+ sejak Desember 2025 memanfaatkan sepenuhnya (dedicated) pita selebar 40 MHz di frekuensi menengah (mid band) di 2300 MHz. Dengan cara itu XLSmart sudah melingkupi semua sudut (blanket) di 80 kota, yang akan berkembang jadi 101 kota pada akhir tahun setelah ditambah frekuensi selebar 50 MHz di mid band 2600 MHz hasil lelang Juni lalu.
Telkomsel pemilik pita selebar 50 MHz di spektrum 2300 MHz, ditambah pita baru selebar 80 MHz di spektrum 2600 MHz, tampaknya lebih memilih menggunakannya untuk kawasan sibuk karena memang ia punya pelanggan paling banyak, 153,67 juta. Pelanggan kedua pesaingnya masing-masing di bawah 100 juta.
Indosat yang belum pernah punya spektrum mid band memenangkan pita selebar 60 MHz di 2600 Mhz. Spektrum mid band, atau yang lebih tinggi, memberi operator kapasitas lebih besar karena radius cakupannya lebih sempit sehingga jarak antar-BTS (base transceiver station – radio pemancar-penerima) bisa lebih dekat.
Jangkauan mid band hanya sekitar 200 meter – 300 meter. Walau dikatakan bisa menjangkau radius sampai lima kilometer, makin jauh dari BTS (base transceiver station – basis radio pengirim dan penerima), sinyalnya makin meredup.
Frekuensi 900 MHz, dan 700 MHz, efisien untuk 5G karena radius jangkauannya bisa sampai 17 kilometer. Spektrum ini mampu menembus dinding tebal, hutan lebat dan kendala-kendala lain yang tidak bisa ditembus mid band.
Diseret MK
Belum lama ini Asosiasi Penyelenggara Layanan Seluler Indonesia (ATSI) meminta Kementerian Komunikasi Digital (Komdigi), untuk menutup layanan 2G dan memberikan frekuensinya untuk layanan 5G. Sesuatu yang tidak sederhana karena jumlah pelanggan 2G lebih dari 29 juta atau 10% dari 295 juta pelanggan seluler se-Indonesia dan tidak semudah pindah paksa pelanggan 3G ke 4G beberapa tahun lalu.
Masalahnya, seluruh pelanggan 2G masih menggunakan feature phone yang hanya bisa dipakai untuk suara dan SMS, tidak data, tidak fitur-fitur yang memberi layanan internet cepat apalagi video call. Harga ponselnya pun sekitaran Rp 200.000.
Selain kelas bawah di kota, belasan juta pengguna 2G ada di kawasan 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) semisal Papua, sebagian Maluku, Kalimantan, Sulawesi dan pulau-pulau lain. Kegiatan bisnis kota juga masih ditopang 2G, antara lain untuk mesin EDC (electronic data capture) pembayaran merchant, layanan IoT (Internet of Things), pelacak kendaraan dan sensor industri.
Namun Komdigi maupun ketiga operator belum ada yang berani memindahkan pelanggan 2G ke 4G LTE atau langsung ke 5G. Menghapus layanan milik puluhan juta pelanggan bisa-bisa terseret ke Mahkamah Konstitusi.
Sebelum dilakukan suntik mati 2G sebaiknya Komdigi dan operator memetakan di mana saja 2G masih digunakan. Lalu sosialisasi kepada pemakainya soal migrasi ke 4G atau ke 5G terutama di kawasan 3T yang jarak antar-penduduk atau antar-permukiman relatif jauh.
Sebab, tidak mungkin mengganti semua ponsel 2G di masyarakat dengan ponsel pintar (smartphone), meski harga ponsel pintar termurah saat ini sudah mencapai Rp 800.000. Suntik mati 2G pun bisa jadi mustahil dan usulan penggelaran serat optik (FO – fiber optic) ke semua kawasan terpencil itu lebih mustahil lagi karena biaya modalnya sangat mahal.
Di Vietnam saat shut down (suntik mati) layanan 2G, operator Vietsel membagikan 400.000 ponsel pintar gratis ke orang miskin dan masyarakat 3T mereka. Di Afrika Selatan operator menjual ponsel pintar pengganti ponsel 2G dengan hanya 5 dollar AS, kurang dari Rp 85.000.
Wacana utusan Presiden Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, membagikan ponsel pintar gratis yang dilengkapi rekening digital untuk bantuan sosial dibantah Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Pemerintah, katanya, belum pernah bahas hal itu, kecuali soal pembukaan rekening bank. (*)
