Melamar Kerja Sesuai Kompetensi Adalah Sunnatullah

Oleh : Sudarta Salman
Akademisi dan pengamat Sosial Kemasyarakatan
KoranRakyat.co.id —Susahnya mencari pekerjaan, membuat pencari kerja membabi buta melamar ke berbagai loker, sekalipun bukan keahliannya.
Allah memberi petunjuk kepada kita dalam hal melamar pekerjaan dengan mentadabburi QS Yusuf Ayat 55. “Jadikanlah aku bendaharawan negara Mesir, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” – QS Yusuf: 55
Kita sering diajari untuk tidak menonjolkan diri. “Jangan minta jabatan,” begitu pesan yang sering kita dengar. Niatnya baik, agar tidak sombong. Tapi kisah Nabi Yusuf justru mengajarkan sisi yang lain.
Setelah berhasil menafsirkan mimpi raja Mesir tentang tujuh tahun masa subur dan tujuh tahun paceklik, Yusuf tidak diam. Ia justru berkata, “Jadikan saya pengelola gudang pangan negara ini. Saya pandai menjaga dan saya punya ilmunya.”
Apa tidak sombong? Tidak. Para ulama tafsir menjelaskan ini.
Imam Ath-Thabari bilang, yang diminta Yusuf bukan kursi empuk. Yang diminta adalah jabatan paling berat saat itu: mengatur stok makanan, pajak, dan logistik satu negara agar rakyat tidak mati kelaparan. Imam Al-Baghawi menambahkan, Yusuf meminta karena ia tahu kalau bukan ahlinya yang pegang, negeri itu akan hancur.
Kuncinya ada pada dua kata yang diucapkan Yusuf: Hafizh dan ‘Alim.
Hafizh artinya amanah, bisa dipercaya, tidak korup, tidak menghambur-hamburkan. ‘Alim artinya punya ilmu, punya kompetensi, tahu cara menghitung, menyimpan, dan membagikan.
Dua ini tidak bisa dipisah. Jujur saja tidak cukup. Pintar saja tidak cukup. Negara butuh orang yang jujur DAN pintar.
Lalu bagaimana dengan hadis Nabi yang melarang minta jabatan?
Rasulullah pernah berpesan kepada sahabat Abdurrahman bin Samurah, “Jangan minta jabatan. Kalau kamu dapat karena meminta-minta, kamu tidak akan dibantu. Kalau kamu dapat karena dipilih tanpa meminta, kamu akan dibantu.” Hadis riwayat Muslim ini shahih.
Tidak ada yang bertentangan. Ibnu Katsir menjelaskan bedanya:
Kalau minta jabatan karena ingin kaya, ingin dipuji, ingin berkuasa, itu yang dilarang.
Tapi kalau menawarkan diri karena melihat ada masalah besar, tidak ada orang lain yang mampu, dan kita memang punya keahliannya, maka menawarkan diri itu justru tanggung jawab. Imam Al-Qurthubi bahkan bilang, dalam kondisi begitu, diam justru tidak baik.
Inilah yang relevan dengan lapangan kerja di Indonesia hari ini.
Pertama, kita sering salah menempatkan diri. Banyak orang melamar pekerjaan apa saja, yang penting dapat kerja. Ijazah pertanian melamar jadi teller bank, ijazah akuntansi melamar jadi admin medsos, bukan karena mampu, tapi karena terpaksa. Hasilnya? Kita kerja tidak betah, perusahaan juga rugi.
Kedua, kita sering minder untuk menunjukkan keahlian. Membuat CV seadanya, saat wawancara bilang “saya serabutan, bisa apa saja”. Padahal Yusuf mengajarkan etika yang jujur: sebutkan keahlian yang relevan. Kalau Anda ahli pembukuan, bilang ahli pembukuan. Kalau Anda pernah mengelola dana desa tanpa masalah, sebutkan. Itu bukan sombong, itu menjelaskan kompetensi.
Ketiga, kita sering melihat pekerjaan sebagai hadiah, bukan amanah. Padahal mengelola keuangan kantor, data perusahaan, bahkan mengelola warung kecil adalah gudang amanah. Kalau tidak punya ilmunya, menolak itu ibadah. Kalau punya ilmunya, maju itu ibadah.
Di tengah angka pengangguran terdidik yang masih tinggi dan perusahaan yang mengeluh susah cari tenaga terampil, ayat ini jadi pengingat sederhana: Sunnatullah-nya memang begitu, pekerjaan harus dipegang oleh ahlinya.
Maka sebelum melamar kerja, tanya tiga hal ini pada diri sendiri:
Apakah saya benar-benar punya ilmunya untuk pekerjaan ini?
Apakah saya bisa dipercaya menjaga amanah di pekerjaan itu?
Apakah saya melamar karena ingin bermanfaat, atau hanya ingin terlihat hebat?
Jika jawabannya adalah ingin bermanfaat dan memang punya ilmunya, jangan ragu melamar. Itu bukan ambisi. Itu adalah cara kita meneladani Nabi Yusuf: menempatkan keahlian pada tempat yang tepat agar banyak orang selamat.*

