11 Oktober 2026

Pertumbuhan Ekonomi : Vibecession Dan Kesenjangan Ekonomi Masyarakat

Oleh : Sudarta

Akademisi FEB UMPalembang

KoranRakyat.co.id –Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,29% di Q2-2026 itu bukan angka bohong. Tapi juga bukan angka yang kamu rasakan di warung, di pasar, atau di akhir bulan saat gaji belum naik tapi harga sudah naik duluan.

Itulah inti vibecession: Vibe + Recession. Ekonominya tidak resesi secara teknis, tapi rasanya seperti resesi bagi mayoritas.

Kesenjangan antara data makro yang kokoh dan daya beli yang tertekan di Indonesia saat ini punya 7 penyebab struktural yang saling mengunci:  Mesin pertumbuhan bukan dari dompet rakyat

PDB Indonesia dihitung dari: Konsumsi + Investasi + Belanja Pemerintah + Ekspor Neto.

Di Q2-2026, pendorong utamanya masih: Investasi padat modal (smelter, kawasan industri, infrastruktur di IKN & hilirisasi nikel) Ekspor komoditas.

Kedua sektor ini menyumbang besar ke PDB, ke cadangan devisa US$146,5 miliar, tapi multiplier ke lapangan kerja kecil. Satu smelter Rp 30 triliun mungkin hanya serap 1.000 pekerja tetap. Bandingkan dengan 1.000 UMKM dengan modal yang sama yang bisa serap 20.000 orang.

Hasilnya: PDB tumbuh, tapi upah riil tidak tumbuh. Inflasi rendah secara rata-rata, tinggi di yang penting.

Inflasi headline 3,28% terlihat terkendali karena: Harga barang tradable (elektronik, pakaian) turun karena rupiah relatif stabil dan permintaan global lemah.

Harga yang diatur pemerintah (BBM, listrik) ditahan.

Tapi keranjang belanja kelas menengah-bawah isinya bukan itu. Isinya adalah: Pangan bergejolak (volatile food): beras, telur, ayam, cabai, minyak goreng. Inflasi pangan 6-8% jauh di atas headline.

Biaya wajib (administered + housing): uang sekolah, kontrakan, transportasi online, kuota internet, cicilan motor.

Jadi inflasi BPS rendah, inflasi yang dirasakan di dapur bisa 2x lipat. Ini yang paling menggerus daya beli. Pekerjaan ada, tapi kualitasnya turun.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 4,68% memang turun. Tapi lihat di baliknya: Pergeseran ke informal: Pekerja formal yang di-PHK dari manufaktur / startup beralih jadi driver ojol, freelance, jualan online. Secara statistik masih “bekerja”, tapi jam kerja tidak penuh dan tanpa jaminan.

Upah stagnan: UMP 2026 naik sekitar 6%, tapi setelah dipotong inflasi pangan dan naiknya iuran BPJS & cicilan, upah riil hampir nol.

Fenomena “banyak kerja, sedikit uang”: 1 orang punya 2-3 gig untuk bertahan. Laporan jam kerja naik, pendapatan per jam turun. Pertumbuhan 5,29% menciptakan lapangan kerja, tapi bukan lapangan kerja yang menaikkan kelas menengah.

Suku bunga 5,75% : Obat untuk makro, racun untuk mikro. BI menahan suku bunga tinggi untuk jaga rupiah dan jaga cadangan devisa. Untuk makro itu berhasil.

Untuk mikro dampaknya: Kredit UMKM bunganya 12-15%, kredit konsumsi 13-18%. Orang menahan belanja.

Cicilan KPR, motor, dan paylater makin berat. Kelas menengah yang 60% konsumsinya didorong kredit jadi rem mendadak.

Uang beredar lebih banyak parkir di deposito dan SBN (yang menikmati adalah kelas atas), bukan berputar di warung.

Ini transmisi moneter yang timpang: yang kaya dapat bunga, yang bawah dapat beban bunga.

Kesenjangan Jawa vs Luar Jawa dan Efek Hilirisasi.

Hilirisasi menaikkan PDB nasional dan PDB Sulawesi Tengah, Maluku Utara. Tapi nilai tambahnya tidak kembali ke kantong konsumen di Jawa yang menyumbang 56% konsumsi nasional.

Jawa dapat dampaknya berupa: harga energi dan bahan baku naik, tapi tidak dapat ledakan lapangan kerja dari smelter.

Hasilnya PDB nasional naik, tapi konsumsi rumah tangga di Pulau Jawa  — yang jadi penentu rasa ekonomi, melambat.

Beban kelas menengah yang tidak tercatat di PDB, PDB tidak mencatat: Naiknya biaya pendidikan privat dan kesehatan.

Sandwich generation: 1 pekerja menanggung 2 orang tua + 1 anak

Shrinkflation: Harga Indomie tetap, tapi isi 5 gram lebih sedikit. Harga kopi sachet tetap, tapi jadi lebih encer.

Secara statistik konsumsi tumbuh 4,8%. Di lapangan, volumenya sama, tapi orang membayar lebih untuk dapat lebih sedikit. Makanya data naik, perasaan turun.

Algoritma kecemasan — Penyebab vibecession itu sendiri. Vibecession bukan hanya ekonomi, tapi psikologi kolektif: Perbandingan sosial: Orang melihat PHK di tech, tutupnya toko di mall, curhatan gaji mepet di TikTok/Threads setiap hari. Otak menafsirkan itu sebagai krisis, meski datanya belum krisis.

Ekspektasi pendapatan masa depan memburuk: Survei konsumen BI & LSI menunjukkan ekspektasi penghasilan 6 bulan ke depan turun paling tajam di kelompok pengeluaran Rp 2-5 juta.

Ketika cemas, orang menahan belanja. Penahanan belanja massal itu lalu benar-benar membuat ekonomi melambat. Jadi kecemasan menjadi ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri.

Macroeconomy grows from the top, microeconomy is felt from the bottom.

Jadi apa yang harus dibaca dari penurunan 5,61% ke 5,29%?

Ini bukan sinyal akan resesi, tapi sinyal pertumbuhan yang tidak inklusif mulai kehabisan bensin. Selama pertumbuhan didorong investasi padat modal tanpa kenaikan upah riil dan tanpa pengendalian harga pangan inti, angka PDB akan terus bagus di PowerPoint, tapi akan terasa berat di dompet. (*)