70 Tahun Muba, Herman Deru: Kekayaan SDA dan Prestasi Muba Harus Jadi Pemacu Pembangunan

Sekayu|KoranRakyat.co.id —-— Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel)Dr. H. Herman Deru menegaskan, kekayaan sumber daya alam (SDA) serta berbagai prestasi yang telah ditorehkan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) harus menjadi pemacu untuk terus berbuat lebih baik dalam pembangunan ke depan.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Herman Deru saat menghadiri Sidang Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Musi Banyuasin dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-70 Kabupaten Muba Tahun 2026, Rabu (30/9/2026), di Ruang Rapat Paripurna DPRD Muba.
Menurut Herman Deru, peringatan hari jadi daerah setiap tahunnya bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi momentum penting untuk melakukan introspeksi secara menyeluruh terhadap berbagai capaian yang telah diraih serta langkah yang akan dilakukan ke depan. “Setiap tahun kita peringati sebagai wahana untuk introspeksi, apa saja yang sudah kita perbuat, apa saja yang sudah kita capai, apa saja yang sedang kita perbuat, dan apa yang sedang kita cita-citakan,” ujar Herman Deru di hadapan para peserta sidang.
Ia juga mengapresiasi transformasi signifikan yang terjadi di Kabupaten Muba selama tujuh dekade terakhir. Menurutnya, perubahan tersebut tidak terlepas dari perkembangan zaman maupun sentuhan pembangunan yang didukung kerja keras berbagai institusi serta amanah masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Herman Deru turut menjawab keresahan masyarakat terkait fenomena antrean kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Sumsel.
Ia menjelaskan secara terbuka mengenai akar persoalan kuota bahan bakar bersubsidi yang selama ini kerap memicu pertanyaan di tengah masyarakat.
Pemerintah Provinsi Sumsel sebelumnya telah mengusulkan kuota sebesar 2,8 juta kiloliter untuk minyak bersubsidi pada 2026. Namun, realisasi yang disetujui dan didistribusikan ke lapangan jauh di bawah angka tersebut. “Dari 2,8 juta kiloliter yang diusulkan gubernur, yang turun ke SPBU-SPBU totalnya cuma 650 ribu kiloliter, atau hanya sekitar seperempatnya. Inilah yang membuat durasi pengisian dan antrean menjadi panjang,” ungkapnya.
Begitu pula dengan komoditas Pertalite. Dari usulan sebesar 1,7 juta kiloliter, realisasi yang didistribusikan hanya 700 ribu kiloliter.

Gubernur menegaskan bahwa kewenangan pengaturan dan pembagian kuota distribusi tersebut berada di tangan pemerintah pusat melalui BPH Migas dan Pertamina Patra Niaga, bukan di tingkat pemerintah daerah.
Menyoroti potensi minyak yang luar biasa yang dimiliki Muba, Herman Deru juga membahas persoalan regulasi yang melibatkan masyarakat, baik dalam sektor pengeboran maupun penyulingan tradisional.
Pihaknya bersama jajaran terkait di tingkat provinsi terus mematangkan koordinasi untuk mencari solusi regulasi yang akomodatif. “Kemarin sudah rapat di provinsi dari masing-masing unsur, dan rencananya kita finalisasi dua minggu setelah ini. Kita juga akan melibatkan semua unsur terkait untuk menyusun langkah komprehensif, sehingga ada angin segar bagi teman-teman asosiasi penyulingan,” jelasnya.
Menutup arahannya, Gubernur Herman Deru mengingatkan seluruh jajaran pemerintah dan pemangku kepentingan untuk terus menjaga semangat melayani masyarakat, terutama di tengah berbagai tantangan ekonomi dan dinamika sosial yang ada.
Ia berpesan agar aparatur pemerintah tetap mengedepankan pendekatan yang humanis, sabar, dan tidak mudah reaktif dalam menghadapi berbagai keluhan warga.
Menurutnya, semangat melayani menjadi hal penting untuk menjaga stabilitas dan kondusivitas daerah. “Semangat melayani ini penting. Tantangan yang ada harus kita kelola dengan baik. Mudah-mudahan dengan kebersamaan ini, kondisi keuangan negara dan daerah kita akan segera membaik,” pungkasnya. (*)
