12 September 2026

Dibalik Kades Minta Jabatan Seumur Hidup.

Oleh H. Albar S Subari SH MH

Pengamat Hukum dan Sosial

KoranRakyat.co.id—Berkuasa sebagian manusia dianggap sebagai suatu kebahagiaan namun di balik itu dia lupa bahwa jabatan itu adalah amanah yang dititipkan Tuhan kepadanya untuk dijalankan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama yang dianutnya. Bahwa itu nanti akan dipertanggung­jawabkan di muka Pencipta.

Hal tersebut memang sudah merupakan ujian bagi manusia. Kita ingat kisah para sahabat di zaman kekhalifahan salah satunya adalah Khalifah Umar bin Khattab saat dimintai untuk memegang kekhalifahan. Apa yang dia ucapkan adalah kalimat Innalilahi wa innailaihi rojiun.

Bermakna cukup berat tanggung jawab hukum harus dia pertanggung jawabkan di hari kemudian. Demikian pula saat Abubakar, didaulat oleh para sahabatnya untuk kesediaan nya menjadi pemimpin saat itu.

Artinya buat kita ini merupakan suatu pelajaran bahwa kepemimpinan itu adalah suatu tugas yang mulia. Namun apa yang kita saksikan dalam beberapa hari ini beredar berita hasil pertemuan sejumlah ribuan kepala desa melalui perwakilan mereka saat audiensi dengan lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia beberapa waktu yang lalu yang intinya bahwa salah satu permohonan mereka agar jabatan kades diubah menjadi seumur hidup.

Tentu ini menjadikan bahan pembicaraan publik.

Salah satu pertanyaan nya apakah hal ini logis dan sesuai dengan nilai nilai hidup bernegara yang berasaskan Pancasila.

Tentu jawabnya usulan tersebut bertentangan dengan asas demokrasi yang pemerintahan berlaku semua orang sama di muka hukum dan pemerintahan.

Jabatan tertinggi pun seperti Kepala Negara mempunyai batas waktu, yang maksudnya supaya ada regenerasi kepemimpinan untuk dapat memilih orang yang berkompeten dan berkualitas untuk diserahkan tanggung jawab oleh masyarakat/ rakyat Indonesia.

Sehingga apa bedanya dengan kades yang mau berlaku seumur hidup. Tentu ini akan membawa dampak negatif terhadap sebuah kepemimpinan.

Tidak semua kades sukses bahkan diterima warganya disebabkan oleh faktor kepribadian maupun kepemimpinan.

Banyak kasus yang terjadi di masyarakat berapa jumlah oknum kades yang tersandung kasus hukum dan etika.

Memang jabatan itu menggiurkan. Sebuah jabatan seperti kades misalnya di masyarakat pedalaman kades menjadi figur utama dan dihormati baik secara ikhlas mungkin juga ada keterpaksaan warga, akibat kepemimpinannya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak faktor kenapa orang ingin selamanya berkuasa seperti kasus di atas.

Apalagi kalau dikaitkan dengan keuntungan atau kesempatan untuk mendapatkan kepentingan pribadi, kelompok atau golongan ini akan menjadi persoalan sosial budaya dan politik yang akan datang.

Banyak motivasi motivasi yang melekat pada diri nya baik untuk memanfaat ataupun dimanfaatkan oleh suatu sistem pengelolaan negara ( politik, sosial budaya dan pertahanan keamanan serta keuangan negara). (*)