Layar Seasri Hidupkan Lagi Geliat Perfilman Wonosobo, 19 Film Hasil Kurasi Diputar

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Sebanyak 105 film dari delapan negara masuk dalam open submission Layar Seasri Film Festival 2026. Setelah melalui proses kurasi, sebanyak 19 film dipilih untuk ditayangkan dalam festival yang berlangsung di New Star Cineplex (NSC) Wonosobo, 22–23 Agustus 2026.
Festival yang digelar Sekitar Kita Kreativa tersebut menghadirkan film-film independen dan film pendek dari Indonesia maupun mancanegara. Selain pemutaran film, rangkaian acara juga diisi diskusi, film talks, sinema talks, hingga kegiatan bersama komunitas.

Ketua Layar Seasri Film Festival 2026, Moch Alvi, mengatakan festival tersebut digelar untuk mempertemukan karya film dengan penontonnya sekaligus memberikan ruang apresiasi bagi film independen.
“Kami berharap festival ini bisa mempertemukan film dengan penontonnya, menjadi ruang untuk menyaring sekaligus mengapresiasi film-film independen di Indonesia maupun internasional,” kata Alvi.
Ke-19 film yang lolos kurasi tersebut ditampilkan melalui dua skema pemutaran, yakni layar utama dan layar alternatif. Layar utama menampilkan enam film hasil kurasi serta satu film special screening, sementara film lainnya ditampilkan melalui layar alternatif.
Panitia juga memberikan ruang bagi film hasil film lab yang sebelumnya digelar sebagai bagian dari rangkaian festival. Karya dari program tersebut turut diputar di layar alternatif, sementara film terbaiknya mendapat kesempatan ditampilkan di layar utama.
Rangkaian festival diawali pada Sabtu (22/8/2026) melalui kegiatan Jejak Sinema Wonosobo bersama Komunitas Jalan Pintas. Peserta diajak menyusuri sejumlah lokasi yang memiliki kaitan dengan sejarah perfilman di Wonosobo, termasuk tempat-tempat yang dahulu pernah menjadi bioskop.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai sejarah sinema Wonosobo bersama tim riset. Pada hari yang sama, festival memasuki agenda pembukaan, pemutaran film melalui layar alternatif, serta sejumlah sesi diskusi.
Pada Minggu (23/8/2026), panitia melanjutkan agenda dengan pemutaran film alternatif untuk pelajar dan sinema talks bersama narasumber internasional, termasuk Maya dari Polandia.
Sementara pada malam harinya, pemutaran film beralih ke studio NSC melalui layar utama. Rangkaian festival ditutup dengan closing ceremony yang dilanjutkan pertunjukan sinemusik.
Menurut Alvi, Layar Seasri Film Festival tidak hanya ditujukan sebagai agenda pemutaran film. Lebih jauh, festival tersebut diharapkan menjadi titik awal untuk menghidupkan kembali ekosistem perfilman di Wonosobo.
“Harapannya, ini menjadi awal untuk festival film di Wonosobo yang bisa menggerakkan ekosistem film yang ada di Wonosobo. Bisa menjadi ruang temu, ruang berjaring, dan juga ruang apresiasi,” ujarnya.
Antusiasme terhadap festival juga datang dari masyarakat yang hadir sebagai penonton. Yosi, salah seorang tamu, menilai kehadiran festival film menjadi perkembangan positif setelah cukup lama Wonosobo tidak memiliki festival film sendiri.

“Bagus sih. Akhirnya Wonosobo punya festival film sendiri setelah sekian tahun dunia perfilmannya seperti tidak bergerak sama sekali,” kata Yosi.
Menurutnya, festival tersebut memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati film-film berkualitas secara langsung di Wonosobo. Ia juga berharap kehadiran Layar Seasri dapat mendorong sineas lokal dan pelaku seni lainnya untuk terus menghasilkan karya.
Yosi berpesan agar para pelaku seni tidak berhenti berkarya meski menghadapi pandangan negatif dari sebagian masyarakat. Menurutnya, karya yang dihasilkan tetap dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. (Aris)

