4 Juli 2026

Prosesi Sakral Pasrah Tampi Panji Buka Rangkaian Hari Jadi Ke-201 Wonosobo

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Prosesi Pasrah Tampi Panji Miwah Pusaka Pagetan Ambal Warsa Kaping-201 menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-201 Kabupaten Wonosobo.

Kegiatan yang berlangsung di Halaman Pendopo Bupati Wonosobo, Kamis (2/7/2026), tersebut menandai dimulainya Kirab Panji dan Pusaka yang akan berkeliling ke seluruh wilayah Kabupaten Wonosobo sebagai simbol persatuan, pelestarian budaya, dan penguatan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan daerah.

Prosesi diawali dengan penyerahan panji kepada Kecamatan Watumalang sebagai kecamatan pertama yang menerima amanah kirab. Selanjutnya, panji akan dibawa secara estafet menuju 14 kecamatan lainnya hingga menjangkau seluruh 265 desa di Kabupaten Wonosobo.

Dalam sambutannya, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menegaskan bahwa Pasrah Tampi Panji merupakan tradisi yang memiliki makna lebih dari sekadar seremoni tahunan. Momentum tersebut menjadi ruang untuk mengenang perjalanan sejarah sekaligus memperkuat tekad bersama dalam membangun Kabupaten Wonosobo.

“Serah terima Panji menjadi rangkaian pembuka Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang mengandung nilai sejarah, budaya, sekaligus kebersamaan kita sebagai masyarakat Wonosobo,” ungkapnya.

Menurut Bupati, Kirab Panji dan Pusaka tidak hanya memindahkan simbol-simbol daerah, tetapi juga membawa amanah untuk menjaga nilai-nilai luhur warisan para pendahulu agar tetap hidup sebagai dasar dalam pelaksanaan pembangunan, baik saat ini maupun pada masa mendatang.

Empat panji yang dikirab, yakni Sang Saka Dwi Warna, Catragung Pangayom, Tombak Karawelang Katentreman, dan Panji Gegunungan Praja, merepresentasikan kesatuan berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat. Simbol tersebut mengandung pesan bahwa pembangunan daerah hanya dapat diwujudkan melalui sinergi pemerintah, DPRD, TNI, Polri, dan seluruh elemen masyarakat dengan semangat gotong royong.

“Panji yang kita tampi hari ini adalah amanah bersama. Ia mengingatkan bahwa setiap langkah pembangunan harus selalu berpijak pada nilai persatuan, dijaga dengan semangat pengabdian, serta diarahkan untuk menghadirkan ketenteraman dan kemuliaan bagi masyarakat Wonosobo,” jelasnya.

Memasuki usia ke-201, Bupati mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Jadi sebagai momentum memperkuat optimisme dan kebersamaan dalam melanjutkan pembangunan daerah. Ajakan tersebut sejalan dengan tema Hari Jadi tahun ini, “Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi,” yang menegaskan pentingnya persatuan dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan, termasuk memperkuat ketahanan pangan dan energi.

Bupati juga menegaskan bahwa pelaksanaan Kirab Panji ke seluruh kecamatan dan desa merupakan bentuk komitmen agar peringatan Hari Jadi benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat, bukan hanya menjadi kegiatan pemerintah.

“Melalui kirab ini, kita ingin menghadirkan semangat Hari Jadi hingga ke seluruh pelosok desa, agar tumbuh rasa memiliki, kebanggaan, dan kecintaan terhadap daerah kita tercinta,” ujarnya.

Selain menjadi media pelestarian budaya, rangkaian Hari Jadi diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pemberdayaan UMKM, pengembangan ekonomi kreatif, dan optimalisasi potensi lokal yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada pelaksanaan tahun ini, sejumlah agenda disesuaikan dengan kondisi ekonomi yang tengah dihadapi. Salah satunya, gelar budaya di masing-masing kecamatan tidak diselenggarakan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, menurut Bupati, keputusan tersebut justru mencerminkan nilai kesederhanaan dan kepedulian sosial.

“Dari situ kita belajar bahwa kebersamaan tidak selalu diwujudkan dalam kemeriahan, tetapi juga dalam sikap saling memahami dan menempatkan keadaan secara bijaksana,” tuturnya.

Usai prosesi Pasrah Tampi Panji, empat panji kehormatan kemudian diberangkatkan untuk dikirab ke seluruh kecamatan hingga desa-desa di Kabupaten Wonosobo. Kirab tersebut diharapkan semakin mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat sekaligus membangkitkan semangat pengabdian, gotong royong, dan kecintaan terhadap daerah.

Menutup sambutannya, Bupati mengajak seluruh masyarakat terus menjaga semangat “Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi” agar Wonosobo semakin maju, lestari, aman, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Wonosobo, Fahmi Hidayat, menyampaikan bahwa rangkaian Hari Jadi Ke-201 Kabupaten Wonosobo secara umum tetap mempertahankan tradisi-tradisi budaya yang telah menjadi identitas peringatan Hari Jadi.

“Rangkaian tersebut meliputi Pasrah Tampi Panji, Sarasehan Hari Jadi di masing-masing kecamatan, Prosesi Pengambilan Air dari Enam Mata Air, Ziarah ke Makam Para Pendiri Wonosobo, Bedhol Kedhaton, Tapa Bisu, Hastungkara, hingga Birat Sengkala sebagai rangkaian prosesi menjelang puncak peringatan Hari Jadi,” jelasnya.

Puncak peringatan Hari Jadi Ke-201 Kabupaten Wonosobo dijadwalkan berlangsung pada 24 Juli 2026 melalui Prosesi Pisowanan Agung. Agenda tersebut akan menghadirkan prosesi adat sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah berdirinya Kabupaten Wonosobo, sekaligus dimeriahkan dengan Pagelaran Kesenian Utama, Prosesi Ruwat Rambut Gimbal, dan Pagelaran Seni Kerakyatan yang melibatkan seniman serta masyarakat sebagai ruang ekspresi budaya dan daya tarik wisata daerah.

Selain agenda utama tersebut, berbagai kegiatan pendukung juga telah berlangsung di berbagai wilayah, mulai dari kegiatan sosial, olahraga, pemberdayaan masyarakat, promosi UMKM, hingga berbagai perlombaan dan hiburan rakyat. Seluruh rangkaian kegiatan diharapkan mampu memperkuat kebersamaan masyarakat, menggerakkan perekonomian lokal, serta menjadikan peringatan Hari Jadi Ke-201 Kabupaten Wonosobo semakin bermakna bagi seluruh masyarakat. (Diskominfo Wonosobo/Aris)