14 Mei 2026

IKA FK Unsri Buka Suara Terkait Dokter Internship Asal Unsri Meninggal di Kuala Tungkal  Jambi

KoranRakyat.co.id|Palembang  —Ketua Umum Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran (IKA FK) Unsri, Achmad Junaidi akhirnya buka suara terkait meninggalnya almamaternya dr Myta Aprilia Azmy, dokter internship yang meninggal di RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal di Jambi.

net

Sebagaimana dilansir detikNews, Universitas Sriwijaya (Unsri) berduka atas meninggalnya dokter internship yang bertugas di RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal di Jambi, dr Myta Aprilia Azmy. Unsri mengatakan Myta lagi mengikuti program yang berada di bawah Kementerian Kesehatan.

Myta diduga meninggal akibat beban kerja yang berlebih saat bertugas.

Koordinator Humas Unsri Nurly Meilinda mengatakan Myta berstatus sebagai dokter yang menjalani program internship Dokter Indonesia di bawah kewenangan Kemenkes sesuai dengan peraturan Menteri Kesehatan Nomor 13 Tahun 2025. “Pelaksanaan program, penempatan serta pengaturan beban kerja berada di bawah kewenangan pihak terkait di luar Unsri,” katanya.

Atas kondisi yang demikian, pihak Unsri mendorong proses penanganan dan penyelesaian kasus ini dilakukan secara objektif. Dia mengatakan Unsri mengutamakan keselamatan tenaga kesehatan. “Kami juga menegaskan komitmen terhadap pentingnya keselamatan dan kesejahteraan tenaga kesehatan,” ujarnya.

Ketua Umum Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran (IKA FK) Unsri, Achmad Junaidi, mengatakan pihaknya akan mengawal kasus ini hingga tuntas. Dia mengaku telah mengirimkan surat kepada Kementerian Kesehatan pada 30 April 2026 untuk meminta audit terhadap rumah sakit tempat Myta bertugas. “Kami menemukan berbagai rangkaian fakta yang sangat mengkhawatirkan dan berpotensi membahayakan keselamatan dokter internship,” kata Junaidi.

Dia menyebut Myta diduga menjalani beban kerja berat tanpa waktu istirahat yang cukup. Dia mengatakan kondisi kesehatan Myta menurun sejak Maret 2026. “dr Myta telah melaporkan gejala sakit, namun tetap dijadwalkan jaga malam dalam kondisi sesak napas dan demam tinggi,” jelasnya.

Desakan IKA FK Unsri kepada Kemenkes

 Universitas Sriwijaya (Unsri) (Dok: Unsri.ac.id)

Dikutip dari sumsel.idntimes.com, seorang dokter internship bernama Myta Aprilia Azmy dari FK Unsri meninggal dunia diduga akibat beban kerja tinggi di rumah sakit Kuala Tungkal, Jambi.

IKA FK Unsri telah melaporkan dugaan pelanggaran jam kerja dan kelalaian supervisi ke Kemenkes, termasuk laporan korban yang tetap dipaksa bekerja meski dalam kondisi sakit.

Kemenkes akan melakukan investigasi resmi atas kasus ini, sementara IKA FK Unsri berkomitmen mengawal proses hingga hasil akhir ditetapkan pihak berwenang.

Menunggu investigasi Kemenkes

IKA FK Unsri sebagai lembaga tempat korban bernaung telah mengirim surat ke Kemenkes terkait temuan dugaan pelanggaran rugulasi jam kerja dan supervisi. Korban diduga bekerja tanpa libur selama 3 bulan yang secara aturan melanggar aturan Kemenkes.

Tak hanya itu, ada dugaan kelalaian dan pengabaian klinis dimana korban telah melapor mengalami sakit sejak Maret 2026. Namun, korban tetap dipaksa menjalankan jadwal jaga malam dalam keadaan sesak napas dan kesehatan yang terus menurun.

“Adanya dugaan itu nanti biar diinvestigasi oleh Kemenkes,” jelasnya.

Sempat Jalani perawatan di RSMH

Universitas Sriwijaya (psppi.unsri.ac.id)

Korban diketahui meninggal usai menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Mohammad Hoesin Palembang, Jumat (1/5/2026). Junaidi menyebut, meski ada dugaan pelanggaran dalam temuan intenal organisasi, pihaknya masih menunggu hasil invesitigasi Kemenkes untuk penyebab pasti dari dugaan pelanggaran yang ada.

“Kalau penyebabnya silakan ditanyakan ke dokter yang merawat. Informasinya ada dugaan infeksi paru-paru, tetapi kami tidak tahu persis karena tidak menangani langsung,” jelasnya.

IKA FH Unsri akan Kawal dugaan pelanggaran jam kerja

Junaidi kembali menekankan komitmen organisasinya dalam mengawasi perkembangan kasus ini hingga adanya hasil akhir yang ditetapkan oleh pihak berwenang.

“Kami akan mengawal sampai selesai. Namun karena program ini berada di bawah Kementerian Kesehatan, maka mereka yang akan melakukan investigasi dan menentukan hasil akhirnya,” jelasnya. (*)