6 November 2026

Teater Banyu UNSIQ Perkuat Ruang Kolaborasi Seni Lewat Agenda Triwulan

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Komunitas seni Teater Banyu Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo membuka ruang kolaborasi bagi kelompok teater dan pelaku seni lokal melalui kegiatan Triwulan yang digelar di Aula Al A’la UNSIQ, Kamis (5/11/2026). Kegiatan ini tidak hanya menjadi panggung pementasan, tetapi juga ruang berbagi gagasan dan pengalaman antarkomunitas seni.

Rangkaian kegiatan Triwulan diawali dengan diskusi seni bertajuk “Ketika Kehidupan Menjadi Panggung”. Diskusi tersebut menghadirkan seniman Fakih Arya Kusuma dan Pujiono Yakena, seorang script supervisor sekaligus filmmaker independen asal Wonosobo.

Pembina Teater Banyu, Fakih Arya Kusuma, mengatakan Triwulan merupakan agenda pementasan rutin yang diselenggarakan setiap tiga bulan sekali. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program berkesenian Teater Banyu yang juga memiliki sejumlah agenda lain, seperti Lesehan, kegiatan lapanan, hingga Kado Budaya.

Menurutnya, Triwulan dirancang untuk memberikan kesempatan kepada anggota dalam mengembangkan kemampuan berkesenian sekaligus menerapkan materi yang diperoleh selama latihan rutin ke dalam sebuah pertunjukan.

“Tujuan Triwulan ini memang untuk menyediakan ruang bagi teman-teman agar bisa berkarya dan belajar peran. Sehingga pembelajaran reguler atau kegiatan latihan sehari-hari di Teater Banyu bisa diterapkan dalam sebuah pementasan,” ungkap Fakih.

Lebih dari sekadar panggung internal, Triwulan juga melibatkan kelompok seni dari luar Teater Banyu. Hal itu terlihat dalam rangkaian pementasan malam hari yang menghadirkan Teater Wayuku dan Teater Tungku dari SMK 1 Wonosobo.

Teater Wayuku tampil melalui pembacaan puisi oleh Naya yang membawa pesan kritis untuk kasus pelecehan seksual terhadap perempuan, khususnya yang melibatkan tokoh agama. Penampilan tersebut menjadi bentuk ekspresi seni sekaligus suara kritik terhadap persoalan sosial yang belakangan menjadi perhatian masyarakat.

Sementara itu, Teater Tungku dari SMK 1 Wonosobo membawakan drama berbahasa Jawa berjudul SAR-SER SPAL SPIL. Pertunjukan tersebut memadukan humor, konflik, dan nuansa budaya Jawa untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menyikapi informasi secara bijak.

Drama itu mengingatkan bahwa tidak semua kabar layak dipercaya, tidak semua rahasia pantas diumbar, dan tidak semua informasi harus langsung disebarluaskan. Pesan tersebut disampaikan melalui gambaran bagaimana tindakan membagikan informasi tanpa pertimbangan dapat memicu persoalan yang lebih besar.

Selain penampilan kelompok teater lain, Teater Banyu juga menghadirkan pementasan spesial berjudul “Pementasan Tari”. Karya tersebut mengangkat cerita tentang perjuangan seseorang dalam melawan ego dan rasa takut.

Rangkaian acara turut dimeriahkan penampilan musik akustik dari sejumlah alumni Teater Banyu yang kini membentuk kelompok musik sendiri. Keterlibatan alumni tersebut memperlihatkan kesinambungan hubungan antargenerasi dalam komunitas.

Fakih menyebut, keterlibatan berbagai kelompok seni memungkinkan setiap pementasan memperoleh perspektif dan penilaian yang berbeda. Kritik serta saran dari sesama pelaku seni diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas karya Teater Banyu ke depan.

“Penampilan yang menurut kami sudah sangat bagus mungkin saja memiliki pandangan berbeda ketika dilihat oleh kelompok teater lain, seniman, maupun budayawan. Mereka bisa memberikan kritik dan saran yang membangun,” jelasnya.

Saat ini, Teater Banyu memiliki anggota sekitar 50 hingga 100 orang. Sementara itu, pada proses penerimaan anggota baru terakhir, komunitas tersebut mencatat sekitar 170 pendaftar.

Fakih menilai tingginya minat tersebut menjadi hal positif bagi perkembangan komunitas. Ia berharap Teater Banyu dapat terus menjadi ruang belajar, berkarya, dan bertumbuh bagi generasi muda sekaligus memperkuat ekosistem seni pertunjukan di Wonosobo. (Aris)