21 Oktober 2026

Larangan Menggambar Wajah Nabi di Era AI: Syariat yang Datang Mendahului Zaman

Drs. Mastudiar

Pengamat Sosial Keagamaan

KoranRakyat.co.id   —Teknologi AI sekarang memang luar biasa. Foto diam bisa dibuat bergerak. Patung bisa seolah hidup, bicara, bahkan berjalan. Video deepfake makin sulit dibedakan dari kenyataan. Kita lihat patung Yesus dibuat seolah turun dari mimbar sambil membawa salib, jemaat pun kaget dan berdiri.

Patung-patung kuno di candi dan museum diekspresikan jadi melotot, mulutnya mangap-mangap, untuk bahan candaan. Patung Buddha juga tidak luput. Foto pejabat, artis, ulama, bahkan orang yang sudah meninggal bisa dibuat joget, bicara, atau bereaksi lucu. Foto Prabowo dan Jokowi, misalnya, sering jadi bahan konten hiburan. Suara mereka dipakai untuk membuat video bayi kaget, dan sebagainya.

Di titik ini, kita jadi bisa melihat hikmah besar dari larangan menggambarkan wajah Rasulullah SAW.

Dalam tradisi Islam, khususnya Ahlus Sunnah, para ulama sangat berhati-hati bahkan menghindari penggambaran wajah Nabi Muhammad SAW dan para nabi lain. Mereka juga membatasi tashwir, yaitu penggambaran makhluk bernyawa, terutama dalam bentuk patung. Ini bukan aturan yang lahir dari kekurangan, tapi dari penjagaan.

Dulu, alasan yang sering disebut adalah agar tidak jatuh ke syirik, tidak menyembah berhala, dan tidak mengkultuskan fisik. Itu benar. Tapi hari ini, kita melihat hikmah lain yang sama besarnya: menjaga kemuliaan dan menutup celah penghinaan.

Nabi SAW, dengan bimbingan wahyu dari Allah, sebenarnya sangat visioner. Beliau tidak hanya memimpin umat di zamannya. Beliau seperti sudah mengetahui bahwa zaman akan terus maju, manusia semakin canggih, dan teknologi akan berkembang pesat. Maka aturan yang beliau sampaikan bukan hanya untuk masa itu, tetapi juga untuk masa depan yang jauh termasuk masa ketika AI, deepfake, dan media digital menjadi bagian hidup manusia.

Bayangkan kalau 1400 tahun lalu wajah Rasulullah SAW diilustrasikan, dilukis, atau dipatungkan. Hari ini, ketika AI semakin liar, wajah itu hampir pasti jadi korban. Dijadikan meme, stiker, parodi, video joget, deepfake, bahkan hal-hal yang melecehkan. Tidak ada filter yang cukup kuat untuk menahan kreativitas digital yang kehilangan adab.

Karena itu, dalam Islam, tidak adanya visual Nabi bukan sekadar kekosongan. Itu perlindungan.

Pertama, menjaga kemuliaan. Tidak ada lukisan atau patung yang bisa benar-benar mewakili keagungan beliau. Imajinasi manusia pasti terbatas. Kalau dipaksakan, yang muncul justru penggambaran yang tidak layak.

Kedua, menutup celah penghinaan. Kalau tidak ada wujud visualnya sama sekali, tidak ada yang bisa diedit, di-deepfake, atau dilecehkan. Dalam bahasa iman, ini seperti Allah menjaga martabat Nabi-Nya jauh sebelum manusia mengenal AI.

Ketiga, menjaga fokus pada risalah, bukan pada rupa. Islam ingin kita mengikuti akhlak dan ajarannya, bukan mengkultuskan fisiknya. Yang penting bukan bagaimana wajahnya, tapi bagaimana pesannya.

Bandingkan dengan apa yang terjadi sekarang. Kekristenan memiliki tradisi visual yang sangat kuat: patung, lukisan, film Yesus. Buddhisme dan Hinduisme juga menggambarkan tokoh suci mereka. Akibatnya, di era AI, figur-figur itu sangat mudah dianimasikan, diubah ekspresinya, bahkan dijadikan bahan lawakan. Deepfake dan meme yang menghina tokoh agama memang terjadi di mana-mana, tidak hanya pada Islam. Bedanya, dalam Islam larangan itu lebih tegas dan masih kuat diikuti sebagian besar umat, sehingga memang lebih sulit—meski tidak mustahil—membuat konten visual yang langsung menampilkan wajah Nabi.

Teknologi seperti Kling, Runway, Hailuo, dan lainnya bisa membuat foto diam jadi bergerak. Patung Yesus bisa seolah hidup dan berjalan. Patung candi bisa dibuat melotot. Foto presiden dan tokoh publik bisa jadi bahan candaan. Bahkan suara Prabowo dan Jokowi dipakai untuk membuat video bayi kaget. Semua ini menunjukkan satu hal: teknologi tanpa etika bisa merendahkan apa pun.

Maka kita perlu melawan normalisasi pelecehan digital. Bukan melawan teknologinya, tapi melawan cara penggunaannya yang kehilangan adab. Kita perlu bijak ber-AI. Hormati tokoh agama, simbol agama, dan manusia. Jangan jadikan semua hal bahan lawakan. Teknologi boleh canggih, tapi adab harus tetap dijaga.

Syariat itu datang mendahului zaman. Larangan yang 1400 tahun lalu mungkin terlihat hanya sebagai aturan ibadah, hari ini terbukti menjadi tameng etika digital yang paling kuat. Ia bukan ketinggalan zaman. Justru ia visioner. Dan itu menunjukkan bahwa Nabi SAW, dengan petunjuk Allah, sudah melihat jauh ke depan bahwa suatu saat zaman akan maju dan teknologi berkembang pesat. (*)