18 Oktober 2026

Kehidupan Dunia yang Menipu dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadist

Oleh: Prof. Dr. Ir. H. Supli Effendi Rahim, M.Sc

Dosen dan Kaprodi S2 Ilmu Pertanian PPs UM Palembang

KoranRakyat.co.id  —Kehidupan dunia merupakan anugerah sekaligus ujian bagi manusia. Al-Qur’an dan hadis mengingatkan bahwa dunia dapat menipu ketika manusia terperdaya oleh harta, jabatan, kekuasaan, popularitas, dan kesenangan sementara hingga melupakan Allah Swt. serta kehidupan akhirat.

Artikel ini bertujuan menjelaskan hakikat kehidupan dunia yang menipu berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadis, faktor-faktor yang menyebabkan manusia terperdaya, serta prinsip Islam dalam membangun keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Kajian dilakukan melalui studi kepustakaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa dunia bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan, melainkan amanah yang harus dikelola secara bertanggung jawab. Persoalan utama muncul ketika dunia dijadikan tujuan akhir, bukan sarana untuk beribadah dan memberikan manfaat kepada sesama. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar duniawi, kesadaran spiritual, dan persiapan menghadapi kehidupan akhirat.

Kata kunci: kehidupan dunia, Al-Qur’an, hadis, matā‘ al-ghurūr, akhirat, amal saleh.

Manusia menghabiskan sebagian besar kehidupannya untuk mencari kekayaan, mengejar jabatan, mengembangkan ilmu, membangun keluarga, dan memperoleh pengakuan sosial. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan yang wajar. Namun, persoalan muncul ketika pencapaian duniawi membuat manusia melupakan tujuan hidup, mengabaikan tanggung jawab moral, dan menganggap bahwa kebahagiaan hanya ditentukan oleh materi.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia memiliki daya tarik yang dapat memperdaya manusia. Allah Swt. berfirman: “Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 185).

Ungkapan *matā‘ al-ghurūr* menunjukkan bahwa kesenangan dunia dapat menimbulkan keterperdayaan apabila manusia menganggapnya sebagai sesuatu yang abadi. Harta dapat habis, jabatan dapat berakhir, kesehatan dapat menurun, dan kehidupan manusia pada akhirnya akan berhadapan dengan kematian.

Oleh karena itu, memahami hakikat dunia berdasarkan Al-Qur’an dan hadis sangat penting agar manusia tidak kehilangan orientasi hidup. Dunia perlu dijalani dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk melupakan Allah Swt. dan pertanggungjawaban di akhirat.

Artikel ini membahas mengapa kehidupan dunia dapat menipu manusia, bagaimana Al-Qur’an dan hadis menjelaskan fenomena tersebut, serta bagaimana seorang Muslim seharusnya menjalani kehidupan dunia secara produktif, bermoral, dan berorientasi pada keselamatan akhirat.

Mengapa Kehidupan Dunia Dapat Menipu Manusia?

  1. Dunia menawarkan kesenangan yang bersifat sementara

Allah Swt. berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. … Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Al-Hadid [57]: 20; petikan ayat).

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia mudah terikat pada kesenangan, perhiasan, persaingan status, dan keinginan memperbanyak kekayaan.

Harta, keluarga, dan kedudukan bukanlah sesuatu yang buruk. Semuanya dapat menjadi karunia dan sarana kebaikan. Namun, semua itu dapat memperdaya apabila manusia menjadikannya sebagai ukuran mutlak keberhasilan.

Seseorang mungkin memiliki kekayaan yang besar, tetapi kehilangan ketenangan karena terus menginginkan lebih banyak. Seseorang dapat memperoleh jabatan tinggi, tetapi kehilangan integritas karena ingin mempertahankan kekuasaannya.

Intinya, dunia menjadi menipu ketika sesuatu yang sementara dianggap sebagai tujuan akhir kehidupan.

  1. Manusia sering mengutamakan dunia daripada akhirat

Allah Swt. berfirman: “Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A‘la [87]: 16–17).

Manusia cenderung mengutamakan sesuatu yang dapat dilihat dan dinikmati secara langsung. Kekayaan, popularitas, dan jabatan memberikan kepuasan yang segera dirasakan, sedangkan kehidupan akhirat merupakan perkara gaib yang diyakini berdasarkan iman.

Akibatnya, sebagian orang bersedia mengorbankan kejujuran demi keuntungan, mengabaikan keluarga demi ambisi, atau menunda ibadah karena kesibukan duniawi.

Ayat ini mengingatkan bahwa kepentingan jangka pendek tidak boleh mengalahkan nilai-nilai yang lebih kekal. Keberhasilan duniawi perlu diarahkan agar tidak bertentangan dengan kewajiban agama dan tanggung jawab moral.

  1. Dunia merupakan tempat ujian, bukan tujuan akhir

Allah Swt. berfirman:  “Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).

Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan merupakan ujian terhadap kualitas amal manusia.

Ujian tidak hanya berupa kemiskinan, penyakit, dan kesulitan. Kekayaan, kesehatan, kecerdasan, jabatan, dan keberhasilan juga merupakan ujian.

Orang kaya diuji melalui cara memperoleh dan menggunakan hartanya. Seorang pemimpin diuji melalui keadilan dan tanggung jawabnya. Seorang akademisi diuji melalui kejujuran ilmiah dan manfaat pengetahuannya.

Dengan demikian, keberhasilan duniawi tidak otomatis menunjukkan kemuliaan seseorang di sisi Allah. Yang lebih penting adalah bagaimana kesempatan dan nikmat tersebut digunakan untuk menghasilkan amal yang baik.

  1. Manusia mudah terlena karena melupakan kematian

Allah Swt. berfirman: “Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh.” (QS. An-Nisa’ [4]: 78).

Kematian merupakan kepastian yang tidak dapat dihindari oleh kekayaan, jabatan, teknologi, ataupun kekuasaan.

Namun, manusia sering bertindak seolah-olah memiliki waktu yang tidak terbatas. Ia menunda pertobatan, menunda berbuat baik, dan terus mengejar ambisi tanpa memikirkan keterbatasan hidup.

Mengingat kematian bukan berarti kehilangan semangat hidup. Sebaliknya, kesadaran tersebut seharusnya mendorong manusia menggunakan waktu secara bijaksana, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan menyelesaikan tanggung jawabnya.

Penjelasan Hadis tentang Kehidupan Dunia yang Menipu

  1. Dunia adalah tempat persinggahan

Rasulullah SAW  bersabda: “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang pengembara yang sedang melintasi suatu jalan.” HR. al-Bukhari, no. 6416.

Hadis ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tempat tinggal yang abadi. Sebagaimana seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan, manusia perlu memanfaatkan masa hidupnya untuk mempersiapkan perjalanan menuju akhirat.

Seorang Muslim tetap harus bekerja, belajar, membangun keluarga, dan memenuhi kebutuhan hidup. Namun, ia tidak boleh melupakan tujuan akhir dari seluruh perjalanan tersebut.

  1. Kekayaan sejati terletak pada jiwa

Rasulullah SAW  bersabda: “Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” HR. al-Bukhari, no. 6446; Muslim, no. 1051.

Hadis ini menjelaskan bahwa kekayaan material tidak otomatis menghasilkan ketenangan batin.

Orang yang terus membandingkan dirinya dengan orang lain dapat merasa kekurangan meskipun memiliki harta berlimpah. Sebaliknya, orang yang bersyukur dan mampu mengendalikan keinginannya dapat menikmati kehidupannya secara lebih bijaksana.

Kekayaan jiwa tidak berarti menolak kerja keras atau kemajuan ekonomi. Maknanya adalah tidak menjadikan harta sebagai penguasa hati dan tidak mengorbankan prinsip moral demi memperolehnya.

  1. Kenikmatan dunia sangat kecil dibandingkan dengan akhirat

Rasulullah SAW  bersabda:  “Demi Allah, perbandingan dunia dengan akhirat hanyalah seperti seseorang mencelupkan jarinya ke laut; hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jarinya itu.”

  1. Muslim, no. 2858.

Perumpamaan ini menunjukkan betapa terbatasnya kenikmatan dunia jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

Oleh sebab itu, manusia tidak seharusnya mengorbankan kejujuran, keadilan, dan ketaatan kepada Allah hanya demi keuntungan sesaat.

Keuntungan material mungkin memberikan manfaat sementara, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab moral dan spiritual.

  1. Amal yang bermanfaat dapat terus mengalir setelah kematian

Rasulullah SAW  bersabda:  “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.” HR. Muslim, no. 1631.

Hadis ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia merupakan kesempatan untuk menanam kebaikan yang manfaatnya dapat berlanjut setelah kematian.

Dalam bidang pendidikan, ilmu yang diajarkan secara benar dapat memberikan manfaat bagi generasi berikutnya. Dalam penelitian, pengetahuan yang dikembangkan secara jujur dapat membantu memecahkan persoalan masyarakat. Dalam kepemimpinan, kebijakan yang adil dapat meninggalkan manfaat jangka panjang.

Dengan demikian, kehidupan yang bermakna bukan hanya kehidupan yang menghasilkan keuntungan bagi diri sendiri, tetapi juga kehidupan yang meninggalkan manfaat bagi orang lain.

Dunia Bukan untuk Ditinggalkan, Melainkan Dikelola dengan Benar

Islam tidak mengajarkan manusia untuk membenci dunia atau meninggalkan tanggung jawab kehidupan. Sebaliknya, Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat.

Allah Swt. berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuatbaiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas [28]: 77).

Ayat ini mengandung empat prinsip penting.

  1. Berorientasi pada akhirat: menjadikan keridaan Allah sebagai tujuan utama kehidupan.
  2. Memenuhi kebutuhan dunia:bekerja, belajar, membangun keluarga, dan meningkatkan kesejahteraan secara halal.
  3. Memberikan manfaat: menggunakan harta, ilmu, dan kedudukan untuk membantu sesama.
  4. Menghindari kerusakan: tidak menghalalkan segala cara demi keuntungan ekonomi atau kekuasaan.

Dalam konteks pendidikan tinggi dan pembangunan pertanian, misalnya, keberhasilan tidak cukup diukur dari gelar akademik, jumlah publikasi, peningkatan produksi, atau keuntungan ekonomi. Keberhasilan juga harus dinilai berdasarkan kejujuran, kebermanfaatan, keadilan, dan keberlanjutan lingkungan.

Ilmu, jabatan, dan kekayaan dapat menjadi sarana ibadah apabila dikelola secara bertanggung jawab. Sebaliknya, semua itu dapat menjadi sumber keterperdayaan apabila hanya digunakan untuk kesombongan dan kepentingan pribadi.

Berdasarkan penjelasan Al-Qur’an dan hadis, kehidupan dunia disebut menipu karena kesenangannya bersifat sementara dan dapat membuat manusia melupakan tujuan penciptaannya. Harta, jabatan, popularitas, dan berbagai pencapaian duniawi dapat memperdaya apabila dianggap sebagai tujuan akhir kehidupan.

Al-Qur’an melalui QS. Al-Hadid ayat 20 menegaskan bahwa kehidupan dunia merupakan matā‘ al-ghurūr, sedangkan QS. Al-A‘la ayat 16–17 mengingatkan bahwa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal. Hadis Nabi Muhammad ﷺ juga mengajarkan bahwa manusia hendaknya memandang dunia sebagai tempat persinggahan, mengutamakan kekayaan jiwa, dan memanfaatkan kehidupan untuk menghasilkan amal yang bermanfaat.

Namun, Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia. QS. Al-Qasas ayat 77 justru memerintahkan manusia mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagiannya di dunia.

Oleh karena itu, sikap yang tepat bukanlah membenci dunia, melainkan menempatkannya secara proporsional. Manusia perlu bekerja keras tanpa menjadi budak harta, mengejar ilmu tanpa menjadi sombong, memegang jabatan tanpa menyalahgunakan kekuasaan, serta membangun kesejahteraan tanpa mengorbankan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

Dunia adalah tempat menanam amal, sedangkan akhirat adalah tempat mempertanggungjawabkannya. Kesadaran ini seharusnya mendorong setiap manusia untuk menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.

Semoga Allah Swt. membimbing kita agar tidak terperdaya oleh kesenangan dunia yang sementara, tetapi mampu menjadikannya sebagai jalan untuk meraih rida-Nya dan keselamatan di akhirat. (*)