Dari Rumah ke Ruang Kelas: Merawat Bahasa Ibu Sejak Pendidikan Dasar

Dr. Elhefni, M.Pd.I.
Dosen PGMI Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
KoranRakyat.co.id —-Bayangkan seorang nenek menyampaikan nasihat dalam bahasa daerah, sementara cucunya menjawab, “Artinya apa, Nek?” Percakapan itu membuka pertanyaan tentang masa depan bahasa keluarga: apakah anak masih memiliki kesempatan untuk memahaminya, menggunakannya, dan mewarisinya? Pada Oktober, momentum Bulan Bahasa mengajak kita menengok kembali kehidupan bahasa anak, mulai dari percakapan di rumah hingga pembelajaran di sekolah.
Perayaan bahasa di sekolah lazim menghadirkan pidato, puisi, dan lomba menulis. Bahasa Indonesia tentu perlu diperkuat sebagai bahasa persatuan. Namun, perhatian juga harus menjangkau bahasa ibu, terutama bahasa daerah yang ruang penggunaannya menyempit ketika keluarga semakin jarang menuturkannya. Bagi generasi alfa yang tumbuh bersama layar digital, percakapan keluarga tetap penting sebagai tempat belajar bahasa.
Sekolah dasar (SD/MI) perlu menempatkan bahasa ibu sebagai sumber belajar, sementara keluarga menjaga keberlangsungannya melalui percakapan sehari-hari. Perayaan Bulan Bahasa harus mendorong kedua tanggung jawab ini. Kita memerlukan kegiatan yang berlanjut menjadi kebiasaan, sehingga anak memperoleh kesempatan menggunakan bahasa dalam hubungan yang bermakna. Tanpa keberlanjutan, perayaan mudah selesai ketika panggung dibongkar dan pemenang lomba diumumkan.
Bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali diperoleh anak; bagi sebagian keluarga, bahasa itu merupakan bahasa Indonesia. Karena itu, pelestarian bahasa daerah perlu memperhatikan pengalaman setiap siswa. Kita tidak dapat menganggap semua anak otomatis memahami bahasa daerah tempat sekolahnya berada. Guru perlu mengenali bahasa yang digunakan siswa, siapa teman bicaranya, dan sejauh mana penguasaannya.
Di rumah, bahasa ibu menjadi salah satu fondasi awal kognisi. Melalui percakapan, anak belajar menamai benda, menyampaikan keinginan, mengenali perasaan, dan memahami hubungan sebab-akibat. Bahasa juga menyertai pembentukan karakter ketika orang tua menjelaskan kesopanan, tanggung jawab, serta kepedulian. Nilai-nilai tersebut tumbuh melalui dialog dan teladan yang dapat dipahami anak, kemudian dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sebagian keluarga, penggunaan bahasa daerah mulai berkurang karena orang tua lebih mengutamakan bahasa Indonesia atau bahasa asing. Keinginan untuk mempersiapkan anak menghadapi dunia yang luas dapat dipahami. Akan tetapi, bahasa daerah tetap memerlukan ruang. Keluarga dapat mempertahankannya melalui cerita, sapaan, permainan, dan percakapan yang menyenangkan, sambil mendukung anak mempelajari bahasa lain.
Orang tua dapat memulai dengan berbincang saat makan, menceritakan pengalaman masa kecil, atau mengajak anak berbicara dengan kakek dan nenek. Ketika anak belum memahami sebuah ungkapan, jelaskan maknanya dengan sabar. Jangan mempermalukan kesalahan pengucapan. Anak perlu merasakan bahwa bahasa keluarga layak digunakan dan dihargai, sehingga ia bersedia bertanya serta mencoba menuturkannya.
Sekolah dasar (SD/MI) kemudian menjembatani pengalaman rumah dengan tuntutan pembelajaran. Anak datang membawa bekal bahasa yang berbeda. Jika guru hanya menerima satu bentuk bahasa sejak awal, sebagian siswa mungkin kesulitan menunjukkan pengetahuannya. Guru perlu membedakan kesulitan memahami konsep dari kesulitan mengungkapkannya dalam bahasa pembelajaran. Perbedaan ini menentukan bantuan yang perlu diberikan kepada siswa.
Dalam panduan yang diterbitkan UNESCO mengenai pentingnya pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu (mother tongue-based multilingual education) yang dirilis pada awal tahun 2025, UNESCO menyatakan, “Pendidikan multibahasa, yang berbasis pada pengajaran bahasa ibu, sangat penting karena memungkinkan peserta didik untuk diajar dalam bahasa yang mereka pahami dan kuasai dengan baik, sehingga menghasilkan hasil belajar yang lebih baik di berbagai mata pelajaran termasuk matematika dan sains.” Prinsip tersebut memberi arah bagi sekolah untuk memanfaatkan pengalaman bahasa siswa, dengan dukungan bahan ajar dan strategi yang sesuai. Penguasaan bahasa Indonesia dikembangkan secara terencana, sementara bahasa yang akrab dengan anak tetap mendapat ruang untuk membantu pemahaman.
Dalam pelajaran matematika, misalnya, guru menjelaskan pecahan melalui kegiatan membagi makanan yang dikenal siswa. Anak boleh menerangkan prosesnya menggunakan bahasa yang paling dikuasainya. Guru kemudian menghubungkan penjelasan tersebut dengan istilah “setengah”, “seperempat”, dan lambang pecahan. Pengalaman konkret membantu anak memahami konsep, sedangkan pengenalan istilah melatihnya menyampaikan pengetahuan melalui bahasa yang digunakan dalam pelajaran.Pendekatan ini menuntut kepekaan terhadap keberagaman kelas. Guru tidak perlu memaksakan satu bahasa daerah kepada semua siswa. Benda konkret, gambar, percakapan berpasangan, dan penjelasan ulang dapat membantu. Beri kesempatan kepada anak untuk bertanya serta menunjukkan pemahamannya. Dukungan bahasa disesuaikan dengan kebutuhan siswa, sambil memastikan bahwa mereka memahami materi dan semakin mampu mengungkapkan gagasan dalam bahasa Indonesia.
Ekosistem yang ramah terhadap bahasa ibu dapat dibangun melalui hari berbahasa daerah, kegiatan bercerita, dan bacaan dwibahasa. Siswa dapat mengumpulkan cerita keluarga, menyampaikan maknanya, lalu menulis kembali dalam bahasa Indonesia. Guru mengajak mereka membahas tindakan tokoh dan pesan cerita. Budaya lokal menjadi bahan literasi serta penalaran, dengan tetap memberi tempat kepada siswa dari latar bahasa yang berbeda.
Komite sekolah dan praktisi pendidikan dapat melibatkan penutur setempat, menyediakan bahan bacaan, serta mendampingi guru menyusun kegiatan. Keberhasilan perlu diukur dari bertambahnya kesempatan anak untuk mendengar, memahami, dan menggunakan bahasa setelah Oktober berlalu. Sekolah dapat menjadwalkan cerita keluarga secara berkala, sementara orang tua memperoleh contoh kegiatan sederhana untuk diterapkan di rumah. Kebiasaan kecil membutuhkan dukungan yang konsisten.
Merawat bahasa ibu sejak pendidikan dasar bukan langkah mundur. Kita sedang memperkuat akar identitas sebelum anak berselancar di dunia global. Bahasa Indonesia membuka percakapan kebangsaan, bahasa asing memperluas pergaulan, dan bahasa ibu menjaga kedekatan dengan keluarga serta kebudayaan. Rumah dan sekolah perlu memberi ruang kepada ketiganya untuk tumbuh.
Bahasa dunia memberi sayap; bahasa ibu menjaga ingatan tentang asal. (*)

