Golek Tholo, Warisan Tradisi Sakral Slukatan Wonosobo yang Sarat Makna

Wonosobo|KoranRakyat.co.id –– Desa Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Wonosobo, memiliki sebuah tradisi unik dan sakral. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Golek Tholo, boneka tradisional yang dibuat dari kain jarik atau selembar kain panjang bermotif batik khas tradisi Jawa.
Di balik bentuknya yang sederhana, Golek Tholo ternyata tidak sekadar menjadi permainan atau piranti untuk ngeneng-ngeneng, istilah lokal untuk menenangkan bayi atau seseorang yang sedang sedih maupun menangis. Tradisi ini menyimpan makna yang berkaitan dengan berbagai tahapan kehidupan masyarakat, bahkan sejak pernikahan hingga kematian.
Ketua penggagas Desa Wisata Slukatan berbasis pemberdayaan masyarakat, Ahmad Hafid, mengatakan Golek Tholo telah dikenal masyarakat sejak lama, terutama di Dukuh Silandak. Tradisi tersebut berkembang ketika akses menuju kota masih sulit dan kondisi ekonomi masyarakat belum seperti sekarang.
“Dulu kondisi di Desa Slukatan, khususnya di Silandak, akses ke kota masih susah. Jalannya masih setapak dan masih tanahan,” kata Hafid saat diwawancarai di rumahnya pada Kamis (27/8/2026).

Rolakan merupakan jalan yang belum beraspal dan masih didominasi tanah serta bebatuan sehingga sulit dilalui. Dalam kondisi tersebut, masyarakat membuat sendiri boneka dari kain jarik dengan cara melipat dan menggulung kain hingga membentuk kepala dan badan.
Golek Tholo dahulu digunakan sebagai piranti untuk ngeneng-ngeneng. Dalam proses pembuatannya, Golek Tholo tidak dibuat begitu saja, tetapi diiringi tembang dan beberapa gerakan tari.
Salah satu bait tembang sakral yang dilantunkan berbunyi, “Cobi coco, cobi coco jabang bayi, kie nangis cep meneng Kersaneng Allah. Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah.”
Selain bait tersebut, masih terdapat bait tembang lain yang dianggap sakral, sekaligus beberapa gerakan tari yang menjadi bagian dari proses pembuatan Golek Tholo.
Menurut Hafid, tembang tersebut memiliki makna doa dan kepasrahan kepada Allah SWT. Setelah bayi tenang, Golek Tholo bisa diubah bentuknya dan digunakan untuk menggendong bayi.
Tradisi tersebut juga digunakan saat balita mulai disapih, yakni proses menghentikan anak dari menyusu kepada ibunya. Selain itu, Golek Tholo menjadi permainan anak-anak ketika orang tua pergi ke kebun atau pasar.
Namun, menurut Hafid, makna Golek Tholo memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Penggunaannya tidak dapat dipisahkan dari kain jarik yang dalam kehidupan masyarakat setempat digunakan dalam berbagai tahapan kehidupan, sejak pernikahan hingga kematian.

Jarik merupakan selembar kain panjang bermotif batik yang lekat dengan tradisi Jawa. Dahulu, kain tersebut digunakan dalam pernikahan, kemudian kembali digunakan dalam tradisi keba, yakni selamatan kehamilan usia empat hingga enam bulan.
Ketika bayi lahir, kain jarik digunakan untuk bopong atau menggendong bayi. Kain tersebut juga digunakan dalam berbagai tradisi ketika anak tumbuh, termasuk dalam prosesi cukuran anak gembel, yakni anak berambut gimbal yang banyak dijumpai di Desa Slukatan.
“Makna Golek Tholo ini tidak cuma sekadar bikin boneka terus buat ngeneng-ngeneng bayi, tapi memang si kain jariknya ini dari awal sudah ada ceritanya, sudah ada maknanya,” ujar Hafid.
Kain jarik juga masih digunakan dalam kepercayaan masyarakat ketika seseorang dianggap mengalami sawan atau kesambet. Bahkan ketika seseorang meninggal, tubuhnya terlebih dahulu ditutupi menggunakan kain jarik sebelum kemudian menggunakan kain kafan.
Hafid menyebut kain jarik dalam pandangan masyarakat terdahulu sebagai jamu atau lantaran, yakni perantara doa kepada Gusti Allah. Hal tersebut menunjukkan bahwa kain jarik tidak hanya memiliki fungsi praktis, tetapi juga memiliki nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat.
Kini, fungsi Golek Tholo mulai bergeser. Jika dahulu digunakan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk untuk ngeneng-ngeneng dan permainan anak, saat ini keberadaannya lebih banyak diarahkan sebagai bagian dari pelestarian budaya.

Selain dilestarikan sebagai tradisi, pembuatan Golek Tholo kini juga menjadi salah satu aktivitas dalam paket wisata Desa Wisata Slukatan. Wisatawan dapat mengenal tradisi tersebut sekaligus belajar secara langsung mengenai proses pembuatannya.
“Pemahaman masyarakat sampai sekarang masih sebatas buat ngeneng-ngeneng saja, belum tahu maknanya yang lebih luas. Ternyata ada lagunya, ada tariannya, bahkan penggunaan kainnya dari pernikahan sampai kematian,” kata Hafid.
Melalui paket wisata tersebut, Pengelola Desa Wisata Slukatan berupaya memperkenalkan Golek Tholo kepada lebih banyak orang, sekaligus menjaga agar pengetahuan mengenai tata cara pembuatan, tembang, gerakan tari, serta makna yang terkandung di dalamnya tidak hilang ditelan zaman.
Bagi masyarakat yang ingin mencoba paket wisata di Desa Wisata Slukatan, termasuk pengalaman membuat Golek Tholo, informasi dan pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp 0823-1864-7798 atau mengirimkan pesan langsung (DM) ke akun Instagram @desawisataslukatan1. (Aris)

