Perkuat Kolaborasi dan Pelestarian Budaya,UIN Raden Fatah Gelar FGD Tari Perang Palembang

KoranRakyat.co.id –Guna memperkuat kolaborasi dan pelestarian budaya daerah,Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Tari Perang Palembang
Mengutip laman adab.radenfatah.ac.id, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang telah dipercaya oleh Salwa Pratiwi, Kareografer Tari Muda Palembang, bersama dengan Rumah Sriksetra untuk memberikan pandangan keilmuan akan karya inovatif yang diciptakan oleh Mba Ewa (panggilan Salwa Pratiwi); karya inovatif yang lahir dari perjuangan rakyat Palembang di masa lalu yang terekam dalam naskah yang hanya dapat diakses oleh kalangan masyarakat tertentu, menjadi sebuah karya yang dapat diakses oleh kalangan masyarakat luas dalam bentuk seni tari.
Hadir dalam Focus Group Discussion (FGD); Prof. Dr. Endang Rochmiatun, Dr. Amilda, M.Hum., H.KMS. Andi Syarifuddin, MA., Masryuzi, S.Ag., mewakili Fakultas Adab dan Humaniora (UIN Raden Fatah Palembang) sebagai narasumber FGD. Keempat narasumber dari Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah tersebut dipercaya untuk menyampaikan pandangan-pandangannya berupa masukan akademis dalam konteks latar belakang keilmuan masing-masing narasumber.
Prof. Endang, dalam penyampaiannya, menyatakan bahwa paling tidak terdapat tiga komponen yang harus dipertimbangkan dalam penciptaan karya tari inovatif yang diadaptasi dari fakta sejarah ini, yaitu aktor dalam perang, konstruksi sosial masyarakat di masanya, serta pembacaan sumber-sumber sejarah selain naskah Perang Palembang (Menteng) yang berkaitan. Menurutnya, ketiga komponen tersebut itu akan dapat disempurnakan penyampainnya oleh tiga narasumber dari UIN yang lain. Selaras dengan harapan Prof. Endang, H. KMS. Andi Syarifuddin yang merupakan Kepala Laboratorium Naskah UIN Raden Fatah Palembang menyampaikan secara detail dan komprehensif aktor-aktor yang terlibat dalam Perang Menteng tersebut. Di samping pada aspek aktor, Andi Syarifuddin juga menggarisbawahi gerakan-gerakan tari yang dikreasikan agar tidak lepas dari fakta sejarah yang terjadi.
“Kampus harus inklusif”: ujar Kepala Laboratorium Fakultas Adab dan Humaniora, yang merupakan fasilisator kegiatan FGD ini. Ia menjelaskan bahwa kampus harus terbuka untuk semua kalangan sebagai tempat belajar. “kampus adalah rumah pengetahuan yang terbuka bagi siapa saja yang berkehendak untuk memperolehnya”: Ia menambahkan. Di samping itu, ia juga menyampaikan bahwa kampus memiliki kewajiban untuk hadir menjadi pendamping bagi masyarakat dalam aspek penyediaan informasi pengetahuan sesuai yang dibutuhkan masyarakat.
Di samping inklusivitas kampus, FGD ini juga merupakan bukti nyata bahwa UIN Raden Fatah Palembang, melalui Fakultas Adab dan Humaniora, berkomitmen terhadap komitmen internasional pembangunan berkelajutan atau yang kita kenal dengan SDGs (Sustanaible Development Goals). Kemitraan (partnership) sebagai salah satu tujuan SDGs ini terejawantahkan dalam kegiatan FGD yang merupakan kegiatan kemitraan UIN Raden Fatah Palembang, dalam hal ini Fakultas Adab dan Humaniora, dengan budayawan dan seniman di Kota Palembang. FGD Tari Perang Palembang (alih-alih Perang Menteng): Menelisik Perjuangan Masyarkat Palembang yang dilaksanakan ini juga merupakan bagian dari komitmen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang terhadap konvensi UNESCO dalam perlindungan dan konservasi warisan budaya. (*)
