9 Maret 2026

Refleksi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928: Profil Pemuda Kekinian Pemuda Go International

Oleh: Mukhtarudin Muchsiri

Direktur PPs UMPalembang dan Ketua MPD Orda ICMI Kota Palembang

KoranRakyat.co.id —--Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 (SP-1928) telah berlalu selama 97 tahun, nyaris satu abad yang lalu. Namun jiwa dan semangat heroik yang dikandungnya tetap relevan dan menginspirasi daya juang dan perjuangan pemuda dan kepemudaan hari ini — khususnya para pemuda terus menempa dan membangun eksisitensi dirinya dan lebih khusus lagi para pemuda yang ingin meng-global “go international”. Peristiwa SP-1928 ini bukan sekadar catatan sejarah; ia menjadi titik balik perjuangan pemuda Indonesia dalam mewujudkan persatuan, kesatuan, dan identitas kebangsaan. Namun di era disrupsi teknologi, globalisasi, dan kompetisi internasional yang disebut Masyarakat disrupsi 4.0 dan masyarakat disrupsi 5.0, maka diperlukan profil pemuda kekinian yang disesuaikan dan relevan dengan dinamika zaman. Artikel ini akan menguraikan: (1) makna historis Sumpah Pemuda, (2) apa yang berubah dalam konstelasi kepemudaan saat ini, (3) karakteristik pemuda kekinian yang “go international”, dan (4) bagaimana semangat Sumpah Pemuda dapat dihidupkan kembali dalam konteks global.

Makna Historis Sumpah Pemuda

Pada tanggal 28 Oktober 1928, dalam Kongres Pemuda II yang digelar beberapa sesi di Jakarta, para pemuda dari berbagai suku, organisasi, dan wilayah mengikrarkan:

  1. “Kami, putera dan puteri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.”
  2. “Kami, putera dan puteri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.”
  3. “Kami, putera dan puteri Indonesia, menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.”

Gerakan SP-1928 ini dilatar-belakangi adanya kesadaran para pemuda bahwa perjuangan kedaerahan yang terpecah-pecah tidak akan efektif melawan penjajahan, sehingga pemuda mulai menegaskan identitas nasional yang melampaui batas-batas kesukuan, kedaerahan, dan agama.

Sumpah Pemuda 1928 menjadi titik awal bergeraknya pemuda Indonesia dalam kerangka nasional — sebuah gerakan yang kemudian menjadi satu dari fondasi kebangkitan bangsa menuju kemerdekaan. Makna utamanya mencakup:

  • Persatuan tanah air: Menyatukan wilayah Nusantara sebagai satu tumpah darah.
  • Persatuan bangsa: Menyatukan identitas bahwa kita adalah satu bangsa, Bangsa Indonesia.
  • Persatuan bahasa: Menetapkan Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu.

Dalam konteks zaman itu, pemuda menunjukkan bahwa mereka bersedia melebur ega kesukuan dan ego kedaerahan demi cita-cita yang lebih besar. Maka Sumpah Pemuda menjadi simbol bahwa generasi muda bisa dan harus menjadi agen perubahan — bukan hanya menjadi objek sejarah.

Tantangan Kepemudaan Masa Kini

Namun, zaman berubah. Pemuda­-kekinian hidup di era 4.0 bahkan menuju masyarakat 5.0, yang ditandai oleh:

  • Disrupsi teknologi: AI, big data, otomatisasi.
  • Globalisasi yang makin intens: kerja sama lintas negara, mobilitas digital, kompetisi internasional.
  • Perubahan sosial budaya: pluralitas, identitas ganda, hybridisasi nilai lokal & global.
  • Ekonomi baru: Gig economy, startup, kewirausahaan digital.

Di tengah kondisi ini, peranan pemuda menghadapi dilema: yang dulu cukup dengan gelar atau organisasi, kini harus lebih “mumpuni” — tidak hanya secara akademik, namun punya skill spesifik, adaptif dengan teknologi, mampu berkomunikasi secara global, dan tetap menjaga nilai kebangsaan dan keagamaan.

Tantangan yang muncul dan harus dihadapi, diantaranya:

  • Fragmentasi nilai: walaupun terhubung secara digital, pemuda bisa terpisah secara makna dan tujuan.
  • Persaingan internasional: pemuda Indonesia harus bersaing dengan rekan seumurnya dari negara lain yang mungkin lebih dulu melek teknologi atau bahasa asing.
  • Identitas yang go-global namun tidak kehilangan akar: bagaimana menjaga bahasa Indonesia, budaya lokal, dan rasa kebangsaan ketika semua terhubung dengan dunia.
  • Kontribusi yang bersifat global-lokal: bukan saja produktif untuk pasar global, tetapi juga memberi dampak positif bagi bangsa, umat, dan agama.

Profil Pemuda Kekinian “Go International”

Pemuda kekinian, agar mampu berkiprah dan berkontribusi dengan peran dan fungsi positif di kancah global dan “Go International”, maka pemuda harus memiliki profil berikut — sembari tetap menghidupkan jiwa dan semangat Sumpah Pemuda kepribadiannya:

  1. Penguasaan teknologi & AI.

Di era disrupsi, menguasai teknologi bukan lagi pilihan, namun keharusan. Pemuda yang bisa memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), analitik data, pemrograman dasar, atau alat digital modern akan memiliki keunggulan kompetitif. Teknologi ini memungkinkan mereka terhubung dengan pasar global, berkolaborasi lintas negara, dan menciptakan inovasi.
Namun, penting juga bahwa teknologi digunakan dengan etika dan memperhatikan nilai-kemanusiaan.

  1. Kemampuan bahasa asing & komunikasi lintas budaya.

Bahasa asing — terutama bahasa Inggris, serta mungkin Mandarin, Spanyol, atau bahasa negara lain yang memiliki pengaruh global — menjadi jembatan untuk berpartisipasi di arena internasional. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga alat pemahaman budaya, jaringan global, dan pengaruh. Di satu sisi, pemuda Indonesia harus lancar dalam berbahasa asing, namun sekaligus tetap memegang teguh Bahasa Indonesia sebagai identitas kebangsaan.

  1. Kemampuan spesifik dan adaptabilitas (skill set) + mindset global.

Pemuda go international harus punya keahlian spesifik (misalnya: software development, desain UX, data science, kewirausahaan sosial, riset internasional) dan juga mindset yang terbuka terhadap kolaborasi global, adaptif terhadap perubahan, kreatif dalam solusi, dan kritis terhadap tantangan global seperti perubahan iklim, kesehatan global, kesejahteraan sosial. Dengan skill yang mendalam dan mindset yang terbuka, pemuda bisa bergerak dari sekadar “menjadi pekerja” ke “menjadi pencipta nilai”.

  1. Kedalaman nilai lokal, nasional, dan keagamaan.

Walaupun mengejar globalisasi, pemuda Indonesia tidak boleh terlepas dari akar: nilai-lokal, kesatuan bangsanya, serta kontribusi terhadap agama dan umat. Semangat Sumpah Pemuda yang menegaskan persatuan bangsa dan bahasa harus terus terpelihara. Pemuda go international idealnya adalah pemuda yang tetap bangga menjadi bagian dari Bangsa Indonesia, yang berkontribusi untuk rakyat, dan yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

  1. Kontribusi berbasis global-lokal (glocal).

Pemuda internasional bukan sekadar “bekerja di luar negeri” atau “menjadi global citizen” tanpa berakar. Melainkan mereka yang membawa kompetensi global untuk memecahkan masalah lokal, memanfaatkan jaringan global untuk membangun komunitas lokal, serta menerapkan nilai kebangsaan dan keagamaan dalam aksi global.

Mengkemistrikan Semangat Sumpah Pemuda

Semangat Sumpah Pemuda — “satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa” — tetap relevan. Namun kemistri dan transformasinya dalam konteks kekinian, diperlukan fleksibilitas dan pemahaman yang diperluas:

  • “Satu tanah air”: bukan berarti terisolasi, tetapi Indonesia sebagai basis yang kuat dan dari sana pemuda bergerak ke dunia.
  • “Satu bangsa”: pemuda Indonesia yang berkiprah di dunia tetap membawa identitas bangsa, menjadi duta budaya, dan memperkuat posisi Indonesia di panggung global.
  • “Bahasa persatuan”: Bahasa Indonesia tetap menjadi identitas pemersatu bangsa di tengah arus globalisasi. Sebagai pemuda internasional, menguasai bahasa asing itu wajib, namun menjaga Bahasa Indonesia bukanlah sekadar formalitas — melainkan simbol kebanggaan dan tanggung jawab.

Sebagai contoh, ketika pemuda Indonesia aktif dalam penelitian internasional, startup global, inisiatif lintas negara—mereka bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris atau bahasa partner, tetapi ketika mereka pulang ke Indonesia atau berinteraksi dengan masyarakat Indonesia, mereka tetap menggunakan dan mengembangkan Bahasa Indonesia, menerjemahkan ilmu dan teklogi global ke masyarakat lokal, mengakarkan inovasi dalam konteks ke-Indonesia-an.

Tantangan Nyata dan Rekomendasi Aksi

Profil pemuda kekinian, adalah seorang pemuda yang punya talenta dan mengambangkan talentanya dengan tambahan bekal penguasaan AI, bahasa asing, dan wawasan global. Untuk menjadikan dan mewujudkan profil pemuda kekinian tersebut, berikut beberapa tantangan dan rekomendasi aksi:

Tantangan:

  • Kesenjangan akses: Tidak semua pemuda memiliki akses yang sama terhadap pelatihan teknologi, bahasa asing, atau jaringan global.
  • Fragmentasi identitas: Terlalu fokus ke global bisa mengaburkan ikatan nasional atau lokal.
  • Kurangnya integrasi antara akademik, skill, dan pengembangan karakter dalam sistem pendidikan.
  • Lingkungan yang belum selalu mendukung inovasi global: regulasi, infrastruktur, budaya toleransi risiko masih perlu diperkuat.

Rekomendasi Aksi:

  1. Pendidikan dan pelatihan berorientasi global-lokal: kurikulum yang menggabungkan literasi digital, AI, bahasa asing, kewirausahaan sosial, dan nilai kebangsaan.
  2. Program pertukaran internasional dan kolaborasi lintas negara: memberi pemuda pengalaman dunia nyata, jaringan, dan wawasan global.
  3. Mentoring dan jaringan alumni global: pemuda yang telah sukses di panggung internasional dapat menjadi mentor bagi generasi penerus.
  4. Inisiatif inovasi berbasis Indonesia: mendukung startup, riset, atau proyek yang memecahkan masalah lokal dengan visi global — misalnya di bidang pertanian digital, kesehatan digital, fintech inklusif.
  5. Pelestarian Bahasa Indonesia dan budaya lokal: kampanye, lomba, publikasi, dan platform digital yang menjadikan Bahasa Indonesia dan budaya sebagai bagian dari identitas global-versi Indonesia (Indonesian global brand).
  6. Penguatan karakter dan etika global: walaupun bersaing di ranah global, pemuda tetap diharapkan memiliki nilai seperti integritas, tanggung jawab sosial, keadilan, dan kepekaan terhadap keberagaman — yang semuanya juga tercermin dalam semangat Sumpah Pemuda.

Studi Perbandingan Singkat: Pemuda Global di Negara Lain

Untuk memberikan perspektif yang lebih kongkrit, mari kita lihat secara singkat analogi dari negara lain:

  • Di negara seperti Korea Selatan, Jepang, atau Singapura, pemuda sejak dini didorong untuk menguasai bahasa asing, teknologi, dan mobilitas global. Namun di banyak kasus, mereka tetap melekat pada identitas nasional yang kuat—sehingga mereka jadi “global citizens” yang tetap “national citizens”.
  • Di negara seperti India atau Vietnam, pemuda juga menghadapi tantangan yang serupa dengan Indonesia: jumlah besar, keragaman sosial, persaingan global. Mereka memanfaatkan diaspora global, teknologi informasi, dan bahasa Inggris sebagai jembatan.
  • Perbedaan utama Indonesia: keragaman etnis dan budaya sangat tinggi, serta bahasa nasional yang spesifik (Bahasa Indonesia). Oleh karenanya, profil pemuda “go international” di Indonesia harus mampu menggabungkan tiga komponen: kompetensi global, identitas nasional, dan kontribusi kemasyarakatan.

Simpulan: Mengambil Sikap, Ikhlas Berkorban untuk Perjuangan

Refleksi atas Sumpah Pemuda 1928 menunjukkan bahwa pemuda Indonesia dahulu mengambil keputusan besar: melebur ego suku, bahasa, dan daerah demi satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Hari ini, pemuda Indonesia harus mengambil langkah serupa dalam ranah yang lebih luas: dengan teknologi, globalisasi, mobilitas internasional, dan tantangan masa depan. Profil pemuda kekinian yang “go international” adalah mereka yang:

  • Menguasai teknologi dan bahasa asing,
  • Memiliki keahlian spesifik dan mindset global,
  • Tetap melekat pada identitas nasional dan budaya,
  • Berkontribusi untuk bangsa, umat, dan agama melalui melalui cara pandang global.

Semangat Sumpah Pemuda harus terus dikobarkan—tidak hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai kompas hidup generasi muda yang menghadapi perubahan zaman. Pemuda hari ini yang hanya mengandalkan gelar atau hanya aktif di media sosial belum cukup; dia harus menjadi agen perubahan, inovator global, pelestari kebangsaan, dan jembatan antara Indonesia dan dunia. Dengan begitu, pemuda Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam arus global, tetapi menjadi pelaku utama di panggung dunia—dengan identitas Indonesia yang tak terkikis.

Semoga artikel ini menjadi sumbangsih pemikiran untuk para pemuda, pendidik, pembuat kebijakan, dan seluruh pemangku kepentingan yang peduli pada masa depan kepemudaan Indonesia.