18 April 2026

Fenomena Kehidupan Guru Selalu Disalahkan.

Oleh :  H Albar S Subari SH MH

KoranRakyat.co.id —Guru merupakan sosok manusia yang berjiwa ikhlas untuk mendidik siswa siswi nya.Begitu mulianya seorang pendidik, kalau dibandingkan dengan profesi yang lain bagaikan langit dan bumi.

Kalau dilihat dari sisi gaji dan kewajiban nya belumlah sesuai.

Seorang guru selalu dituntut oleh aturan aturan yang bersifat formal ( peraturan perundang-undangan) maupun aturan adat istiadat dan etika.

Baru baru ini sebagai dilansir oleh Berita Sumsel, 14 Oktober 25, bahwa ratusan siswa siswi Sekolah Menengah Atas Negeri nomor 1 Cimarga Kabupaten Lembak Banten, tidak masuk sekolah pada hari Senin 13 Oktober 25, sebagai aksi solidaritas siswa siswi atas peristiwa di mana kepala sekolah mereka telah menegur siswa yang merokok di lingkungan sekolah.

Bahkan terpantau pada hari itu juga terpampang spanduk yang berbunyi ” kami tidak akan sekolah sebelum kepala sekolah di lengserkan.

Bahkan juga salah satu orang tua mereka akan melaporkan kepala sekolah tersebut ke pihak yang berwajib, karena di duga telah menganiaya ( menampar) anaknya.

Terlepas dari semua berita di atas, kita tidak akan memasuki subtansi nya.

Namun kembali ke fokus artikel bahwa Tugas mulai seorang guru untuk mendidik generasi muda selalu harus mendapat kendala ataupun tantangan.

Seorang tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya” pendidikan ” terbitan yayasan Taman siswa, dan disampaikan oleh muridnya Prof. Iman Sudiyat SH ( mantan Rektor Universitas Taman Siswa Yogyakarta). Mengatakan bahwa Hubungan timbal balik antara guru dan murid adalah sebagai mana slogan; Jauh Tapi Dekat – Dekat Tapi Jauh.

Apa maknanya sosok seorang guru harus menjaga jarak dengan murid nya agar tidak terjadi hal hal yang melanggar hukum dan etika. Contoh banyak terjadi di dunia pendidikan terjadi nya perbuatan yang tidak terpuji melanggar aturan hukum dan etika ( perselingkuhan, janji janji palsu).

Hal tersebut terjadi karena hubungan antara keduanya terlalu dekat.

Namun juga tidak boleh jauh.

Maknanya bahwa sosok seorang guru yang profesi nya pendidik, harus pandai menjaga jarak. Guru tidak boleh oleh siswa-siswi dianggap sebagai momok yang menakutkan.

Dia bisa lembut dan bisa sebaliknya guna mendidik kepribadian murid muridnya.

Kondisi seperti ini kelihatannya sudah mulai berubah. Banyak kasus kasus yang melibatkan guru dan murid yang melanggar aturan.

Dan disisi lain juga tindakan guru untuk membentuk karakter anak anak selalu mendapat nilai negatif oleh masyarakat seperti dalam kasus cerita di atas. Wajar saja seorang guru melarang siswa nya ” ngerokok” pada waktu jam sekolah, karena akan berdampak sosial bagi murid yang lain.

Karena sekarang ini rokok menjadi salah satu media untuk melakukan tindakan kejahatan. Seperti mengisap sabu, zat adiktif lainnya.

Tentu semuanya itu diambil dalam koridor yang tidak melanggar aturan hukum. Baik oleh kalangan murid maupun di kalangan guru.

Guru sebagai profesi yang mulia dan penuh pengabdian kepada mereka melekat semboyan ” pahlawan tanpa tanda jasa”. (*)