1 Mei 2026

Semua SPPG Wajib Punya Sertifikat LHS  Agar tak Ada Lagi Keracunan MBG

KoranRakyat.co.id —-Langkah cepat dilakukan pemerintah  dengan  mempertegas   bahwa semua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib punya  Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) LHS  agar tak ada lagi keracunan  makan bergizi gratis ( MBG).

Dilansir Inilah.com Menteri Koordinator Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas, menegaskan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) wajib memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Kebijakan ini diwajibkan usai maraknya kasus keracunan yang menimpa ribuan siswa penerima manfaat program tersebut.

Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN), ada 9.533 SPPG yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Namun, hingga kini belum ada kepastian berapa di antara mereka yang sudah mengantongi sertifikat higienitas tersebut.

“Memang Sertifikat Laik Higiene Sanitasi itu syarat, tapi setelah pasca-kejadian sekarang dapat perhatian khusus. harus atau wajib hukumnya setiap SPPG harus punya SLHS,” kata Zulhas dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Minggu (28/9/2025).

Ia menekankan keselamatan anak-anak yang mengonsumsi MBG adalah prioritas utama pemerintah. Karena itu, pemerintah akan melakukan pengecekan ketat agar kasus serupa tidak kembali terulang.

“Akan dicek kalau tidak ada ini kejadian lagi, keselamatan anak kita adalah prioritas utama, SLHS wajib untuk seluruh SPPG,” ujarnya.

Lebih jauh, Ketua Umum PAN itu juga meminta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menginstruksikan Puskesmas di seluruh daerah aktif memantau penyelenggara MBG secara berkala.

“Semua langkah diambil secara terbuka agar masyarakat yakin makanan yang disajikan aman, bergizi bagi seluruh masyarakat Indonesia,” kata Zulhas.

Sebelumnya, BGN mencatat per 22 September lalu, sebanyak 4.711 orang menjadi korban keracunan MBG di tujuh wilayah Indonesia. Dari jumlah itu, 1.281 kasus terjadi di Sumatra, 2.606 kasus di Jawa, serta 824 kasus di Kalimantan, Bali, Sulawesi, NTT, Maluku hingga Papua. Namun, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat angka berbeda yakni mencapai 6.452 korban per 21 September 2025.

Kasus di Bandung Barat menjadi salah satu yang disorot. Laboratorium Kesehatan (Labkes) Jawa Barat menemukan bakteri Salmonella dan Bacillus Cereus pada sampel makanan program MBG.

“Hasil pemeriksaan kami menunjukkan adanya bakteri pembusuk yakni Salmonella dan Bacillus Cereus yang berasal dari komponen karbohidrat dalam makanan,” kata Kepala UPTD Labkes Dinas Kesehatan Jawa Barat, dr Ryan Bayusantika Ristandi. (*)