17 Mei 2026

Buntut Perang Israel-Iran, Puluhan Bandara di Timur Tengah Ditutup Ribuan Penumpang Terlantar

KoranRakyat.co.id — Israel dan Iran saling unjuk gigi  memperlihatkan kekuatan persenjataannya dengan saling memborbardir kedua negara dengan target sasaran untuk saling melumpuhkan. Dilansir  Tribunews.com Israel melancarkan serangan besar ke ibu kota Iran, Teheran, dan tempat-tempat lain sejak Jumat (13/6/2025).

Serangan Israel menewaskan pejabat militer senior, ilmuwan nuklir, dan menghancurkan infrastruktur penting.

Di antara target  serangan Israel tersebut adalah fasilitas pengayaan nuklir sekitar 18 mil dari Qom.

Kemudian, Iran telah membalas Israel menggunakan ratusan pesawat nirawak dan rudal.

Serangan selama berhari-hari antara kedua musuh bebuyutan itu telah membuka babak baru dalam sejarah mereka yang penuh gejolak baru-baru ini.

Banyak orang di wilayah tersebut mengkhawatirkan konflik yang lebih luas, karena mereka menyaksikan gelombang serangan di langit mereka setiap malam.

Konflik tersebut juga telah memaksa sebagian besar negara di Timur Tengah untuk menutup wilayah udara mereka.

Puluhan bandara telah menghentikan semua penerbangan atau sangat mengurangi operasi, yang menyebabkan puluhan ribu penumpang terlantar dan yang lainnya tidak dapat melarikan diri dari konflik atau melakukan perjalanan pulang.

“Efek domino di sini sangat besar,” kata pensiunan pilot dan pakar keselamatan penerbangan John Cox, yang mengatakan gangguan tersebut akan menimbulkan kerugian besar, dilansir Arab News.

“Tiba-tiba ada ribuan penumpang yang tidak berada di tempat yang seharusnya, awak pesawat yang tidak berada di tempat yang seharusnya, pesawat yang tidak berada di tempat yang seharusnya,” jelasnya.

Israel telah menutup Bandara Internasional Ben Gurion “hingga pemberitahuan lebih lanjut,” yang menyebabkan lebih dari 50.000 pelancong Israel terlantar di luar negeri.

Jet dari tiga maskapai penerbangan negara itu telah dipindahkan ke Larnaca.

Di Israel, penumpang bernama Mahala Finkleman terjebak di sebuah hotel di Tel Aviv setelah penerbangan Air Canada-nya dibatalkan.

Ia mencoba menenangkan keluarganya yang khawatir di rumah, sementara dia berlindung di bunker bawah tanah hotel selama gelombang serangan Iran semalam.

“Kami mendengar ledakan. Terkadang ada guncangan,” katanya.

“Sebenarnya, menurut saya lebih menakutkan melihat dari TV apa yang terjadi di atas kepala kami saat kami berada di bawah tempat perlindungan bom,” jelas Finkleman.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan warga  Israel agar tidak meninggalkan negara itu melalui salah satu dari tiga penyeberangan dengan Yordania dan Mesir yang terbuka untuk umum Israel.

Meskipun memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, pernyataan itu mengatakan negara-negara tersebut dianggap sebagai “risiko tinggi ancaman” bagi pelancong Israel.

Iran Tangguhkan Penerbangan

Pada Jumat, Iran menangguhkan penerbangan ke dan dari Bandara Internasional Khomeini utama negara itu di pinggiran Teheran.

Israel mengatakan pada Sabtu (14/6/2025), mereka mengebom Bandara Mehrabad dalam serangan awal, sebuah fasilitas di Teheran untuk angkatan udara Iran dan penerbangan komersial domestik.

Banyak mahasiswa yang tidak dapat meninggalkan Iran , Irak, dan tempat lain.

Arsalan Ahmed adalah salah satu dari ribuan mahasiswa India yang terjebak di Iran, tanpa jalan keluar.

Mahasiswa kedokteran dan mahasiswa lainnya di Teheran tidak meninggalkan asrama tempat mereka tinggal, karena ngeri dengan serangan itu tanpa tahu kapan mereka akan menemukan tempat yang aman.

“Apa yang kita saksikan di televisi sangat menakutkan,” kata Ahmed.

“Namun, yang lebih menakutkan adalah beberapa ledakan yang memekakkan telinga,” ungkapnya.

CEGAT RUDAL - Sistem pertahanan udara Iron Dome Israel menembak untuk mencegat rudal selama serangan Iran di Tel Aviv, Israel, pada Minggu (15/6/2025). Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan Iron Dome mengalami malfungsi karena salvo rudal mereka. (RNTV/TangkapLayar)

Universitas telah membantu merelokasi banyak mahasiswa ke tempat yang lebih aman di Iran, tetapi pemerintah India belum mengeluarkan rencana evakuasi bagi mereka.

Lalu, meskipun wilayah udara masih sebagian terbuka di Lebanon dan Yordania, situasi di bandara kacau balau, dengan banyak penumpang terlantar di dalam dan luar negeri karena penerbangan tertunda dan dibatalkan bahkan saat musim pariwisata musim panas yang sibuk dimulai.

Banyak maskapai penerbangan telah mengurangi penerbangan atau menghentikannya sama sekali, dan pihak berwenang telah menutup bandara pada malam hari saat serangan mencapai titik tertinggi.

Suriah, di bawah kepemimpinan baru, baru saja merenovasi bandara yang rusak dan mulai memulihkan hubungan diplomatik saat konflik dimulai.

Selanjutnya, bandara-bandara tetangga Irak semuanya telah ditutup karena kedekatannya dengan Iran.

Israel dilaporkan menggunakan wilayah udara Irak, sebagian, untuk melancarkan serangannya ke Iran, sementara pesawat nirawak dan ruda Iran, yang terbang ke arah lain telah jatuh di atas Irak.

Trump Minta Warga Teheran untuk Pergi

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memperingatkan penduduk Teheran untuk pergi, Senin (16/6/2025).

Trump mendukung peringatan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang telah melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran.

Hampir 10 juta orang tinggal di ibu kota Iran, Teheran.

“Semua orang harus segera mengungsi dari Teheran!” tulis Trump di akun Truth Social miliknya selama pertemuan puncak G7 di Kanada, seperti diberitakan Al Arabiya.

Peringatan itu muncul saat Israel meningkatkan serangannya terhadap Iran yang katanya ditujukan untuk menghancurkan program nuklir yang disengketakan milik negara itu.

Militer  Israel sebelumnya mengeluarkan pemberitahuan yang mendesak penduduk salah satu distrik di Teheran untuk mengungsi, mirip dengan taktiknya di Gaza, tempat sebagian besar penduduk Palestina mengungsi sejak serangan 7 Oktober 2023.

Trump berulang kali menolak mengatakan apakah Amerika Serikat akan berpartisipasi dalam aksi militer Israel, meskipun ia mengatakan Israel tidak terlibat dalam serangan awal.

Sebelumnya, ia mengatakan kepada wartawan di KTT G7:

“Begitu saya meninggalkan tempat ini, kami akan melakukan sesuatu. Namun, saya harus meninggalkan tempat ini.”

Tak lama setelah itu, Gedung Putih mengatakan Trump akan meninggalkan KTT tersebut untuk kembali ke Washington.

Fox News melaporkan, Trump telah memerintahkan tim keamanan nasionalnya untuk berada di Ruang Situasi sekembalinya.

Namun, pejabat AS mengatakan kepada Al Arabiya English, militer AS tetap dalam posisi defensif dan tidak menyerang Iran.

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengatakan pasukan AS “mempertahankan postur pertahanan mereka dan hal itu tidak berubah. Kami akan melindungi pasukan Amerika dan kepentingan kami.”

Wakil Direktur Komunikasi Utama, Alex Pfeiffer, menegaskan kembali dan mengatakan laporan Israel, AS terlibat dalam serangan itu salah.

“Itu tidak benar. Pasukan Amerika mempertahankan postur pertahanan mereka, dan itu tidak berubah. Kami akan membela kepentingan Amerika,” katanya di X.

Sebagai informasi, Israel mulai melakukan serangan di wilayah Iran, termasuk di gedung-gedung perumahan, dalam tindakan agresi yang tidak beralasan pada malam hari tanggal 13 Juni 2025.

Pejabat tinggi militer Iran dibunuh dalam serangan yang ditargetkan.

Warga sipil tewas ketika rumah-rumah diserang secara langsung.

Seluruh pusat populasi terkena dampaknya.

Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, menunjuk komandan militer baru di hari yang sama dan mengatakan kehidupan akan menjadi suram bagi Israel.

Tak lama setelah itu, Iran memulai serangan hukuman jauh di dalam Israel, menghantam Tel Aviv, Yerusalem, dan Haifa, di antara target lainnya.

Kehidupan terhenti di wilayah pendudukan karena warga Israel menghabiskan waktu berhari-hari di tempat perlindungan bom bawah tanah.

Para pejabat Iran mengatakan misi itu akan terus berlanjut selama diperlukan.(*)