Semoga Kenaikan Tarif, Bikin Perumdam Tirta Ogan “Sehat”

MASA jabatan Nurdin, ST sebagai Direktur Perusahaan Umum Daerah (Perumdam) Air Minum Tirta Ogan Kabupaten Ogan Ilir, hampir genap dua tahun, sejak dilantik Maret 2023 lalu. Tak lama setelah dilantik, kepada wartawan yang mewawancarainya, Nurdin yang pernah bekerja di PDAM Tirta Musi Palembang, bertekad di tahun 2024 untuk meningkatkan kondisi Perumdam Tirta Ogan dari “Kurang Sehat” menjadi “Sehat”.
Tapi tekad dan harapan Sang Direktur, hingga bulan Januari 2025, belum kesampaian. Karena faktanya kondisi Perumdam Tirta Ogan tetap masih ” Kurang Sehat”. Masih seperti capaian saat Direktur PDAM Tirta Ogan dipegang Ir H Sobli, M.Si. Bahkan Sobli mampu mengangkat kondisi PDAM yang “Sakit” tahun 2021, menjadi “Kurang Sehat” pada tahun 2022.
Sebagai Direktur PDAM yang baru, masih muda dan berpengalaman, wajar kalau Nurdin optimis bisa mengangkat kondisi PDAM menjadi “Sehat.” Tapi ternyata setelah dua tahun menjabat, harapan “Sehat” itu belum kesampaian. Ketika ditanya apa kendalanya, Nurdin belum memberi penjelasan/jawaban.

Di tengah kondisi masih ada “penyakit” ini, Perumdam Tirta Ogan, terhitung bulan Februari 2025 mengambil kebijakan menaikan tarif kepada para pelanggannya. Yakni dari Rp 3.450/kubik menjadi Rp 4.500/kubik air. Naik sebesar Rp 1.050 atau 23 persen. Kenaikan tarif ini dengan konsekwensi Perumdam Tirta Ogan, tidak lagi menerima subsidi dari Pemkab OI sebesar Rp 1 Milyar/tahun. Artinya biaya operasional Perumdam Tirta Ogan untuk pembayaran rekening listrik, membeli bahan penjernih air, untuk pembayaran gaji/honor karyawan, serta biaya pemeliharaan, semuanya pure (murni) akan ditanggung sepenuhnya oleh Manajemen Perumdam sendiri. Semoga saja kenaikan tarif ini mampu mengangkat kondisi Perumdam menjadi “Sehat”. Walau kenaikan ini masih belum imbang dengan biaya produksi yang mencapai Rp 5.000/kubik.
“Keberanian” Perumdam Tirta Ogan dibawah komando Nurdin, ST ini patut diacungi jempol. Karena dengan non subsidi ini, Nurdin dan “pasukannya” harus bekerja ekstra keras untuk memperbaiki pelayanan air bersih kepada pelanggannya.
Kondisi Perumdam Tirta Ogan sebelum era Bupati Panca Wijaya Akbar, memang tengah “Sakit.” Banyak masalah yang diwariskan Direktur sebelumnya. Diantaranya tunggakan pelanggan yang besar, karyawan yang kualitasnya belum memadai, penempatan pegawai kurang mengacu pada merit system, serta masalah kesejahteraan karyawan.
Ironisnya di era Nurdin ini, permasalahan tersebut juga belum bisa teratasi. Nurdin terlihat masih kesulitan dalam membenahi kondisi Perumdam Tirta Ogan, padahal gaji direktur kalau masih mengacu dimasa Pjs Direktur dipegang Ikrom, sudah tergolong cukup besar.
Selain itu juga belum ada terobosan yang dilakukan untuk menaikkan pendapatan Perumdam. Karenanya tak heran, walau sudah hampir 2 tahun, kondisi Perumdam Tirta Ogan, terkesan jalan di tempat.
Semoga saja dengan kenaikan tarif ini, kinerja Perumdam Tirta Ogan akan semakin baik. Karena dari skenario perhitungan tarif, kalau pelanggan rumah sederhana Tipe II A memakai sebanyak 22 M3, maka si pelanggan harus membayar Rp 114.000,- Angka ini naik cukup significant dibanding pembayaran sebelumnya.
Tapi Nurdin dan jajaran harus bekerja ekstra keras, merubah gaya dan mentalitas kerja secara sungguh-sungguh, supaya pelanggan mau membayar. Kuncinya bagaimana air bersih mengalir dengan kondisi benar-benar bersih. Hanya dengan air PDAM yang mengalir lancar ke rumah-rumah, dan kondisinya bersih serta tidak berbau, yang membuat pelanggan mau untuk membayar tarif yang baru tersebut.
Mari kita dukung supaya Perumdam Tirta Ogan menjadi perusahaan yang sehat. Kalau toh masih tidak berubah, mungkin akan lebih baik dicari orang yang lebih profesional. (ica)
